Opini

Azan

Tidak soal jika suara azan itu merdu atau tidak, yang penting ketika azan berkumandang adakah hati setiap orang tergerak untuk melangkah ke rumah Allah. Menunaikan ibadah yang telah disyariatkan oleh Nya.

Ketika kata maaf telah terucap, maka sudahilah kemurkaan yang tertancap di ubun-ubun. Bukankah memaafkan itu merupakan bagian dari ketakwaan.

Biarlah yang berucap mempertanggung jawabkan disisi Allah. Sementara sebagai manusia, kita telah dibangunkan oleh Nya sebuah pintu dalam rupa maaf, terserah mau digunakan atau tidak.

Jangan biarkan politik memecah belah kerukanan yang tengah kita nikmati. Tidakkah kalian lelah dengan apa yang terjadi sebelum ini. Seakan menjadi korban dari tingkah polah para elite.

Begitupun para elite yang enggan belajar dari keriuhan masa lalu. Bisakah mereka menjaga agar tidak lagi silap lidah di tahun politik ini. Bisakah para elite itu menahan diri supaya tidak terpancing emosi.

Akhir kata, karuniakanlah kepada kami rasa marah pada diri sendiri, bukan kepada orang lain. Sebab ketika mendengar suara azan berkumandang, kaki kami masih terasa berat untuk melangkah ke rumah Mu. Itulah waktu yang tepat bagi kami memarahi diri yang telah menistakan syariat Mu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s