Opini

Pajak, karyawan jomblo dan penulis

Sumber foto : https://cdn.sindonews.net/

Menulis itu tidak mudah. Kenapa saya berpikir demikian, karena menulis itu sama dengan melukis. Siapapun bisa melukis, tapi tidak semua orang bisa menghasilkan karya lukis yang bernilai jual. Begitu pun menulis, siapapun bisa menulis, tapi tidak banyak yang bisa menghasilkan tulisan yang bergizi.

Untuk mendapatkan tulisan bergizi perlu latihan tekun dan berkelanjutan. Tidak bisa instan, harus kerja keras. Tidak mudah merangkai kata yang bergentayangan di kepala. Sebanyak apapun ide di otak kita, bila tidak punya kemampuan menuliskan dalam rangkaian kata-kata maka bisa saja semua itu sia-sia.

Sudah ada ide pun, masih terasa sulit untuk memulai nulis jika tak pernah latihan. Apalagi ide gak ada, ditambah latihan nulis nya juga minim. Bisa-bisa menulis jadi beban.

Saya ingat pesan seseorang penulis terkenal, yakni jadikan menulis itu aktifitas yang menyenangkan. Jangan ada embel-embel menulis karena ingin dikenal, menulis dapat menghasilkan uang atau menulis karena alasan lain yang hanya bersifat sementara. Bila alasannya sebatas itu tentu suatu waktu kita akan menemukan jalan buntu.

Betapa banyak orang berhenti di tengah jalan hanya karena mereka kehabisan alasan untuk menulis. Kalau seandainya nulis itu karena menyenangkan, maka tidak ada alasan untuk tidak menulis. Tidak ada satupun manusia di bumi ini enggan melakukan kegiatan yang ia senangi. Orang yang senang nulis tak akan pernah bisa meninggalkan kegiatan yang disenangi. Lalu, mari tanyakan apakah selama ini kita telah senang dengan aktifitas menulis.

Disamping itu ada fenomena menarik yang terjadi belakangan ini. Kenyataan dimana pajak yang dikenakan kepada penulis tidak adil. Sebetulnya ini adalah isu yang sudah lama, tapi sekarang kembali ke permukaan lewat seorang penulis ternama, Tere liye. Beliau memutuskan kerja sama dengan dua penerbit buku karena ketidakadilan pajak oleh pemerintah. Bila dibandingkan dengan profesi lain, penulis membayar pajak lebih mahal dari pada dokter, pengacara, artis, karyawan dan pelaku usaha UKM. Padahal penghasilan yang diterima penulis tidak senyaman profesi lain yang diterima tiap bulan.

Penulis menerima hasil royalti dari buku yang diterbitkannya. Karena penghasilan penulis disebut royalti maka perhitungan pajaknya berbeda dengan profesi lain. Jadi terdapat perbedaan dalam norma penghitungan penghasilan netto (NPPN).Untuk perhitungan pastinya silahkan searching mbah google aja ya.

Sederhananya kalau kita beli buku seharga 100 ribu, maka penulis mendapatkan royaliti sekitar 5-15% dari harga buku, artinya penulis cuma dapat 5.000-10.000 rupiah per buku. Itulah penghasilan yang diterima penulis.

Misal penulis punya penghasilan 100 juta per tahun maka langsung di kali 5% sesuai dengan rentang tarif pajak (50 juta pertama tarifnya 5%, 50-250 juta berikutnya tarifnya 15%, lantas 250-500 juta berikutnya tarifnya 25%. Dan 500-1 milyar berikutnya 30%). Jadi pajak yang dibayar penulis adalah 5 juta rupiah per tahun. Artinya penulis mesti jual 20.000 eksemplar buku (asumsi royaliti per buku 5.000).

Bedanya kalau kamu seorang karyawan dengan gaji netto yang kamu bawa pulang selama setahun 100 juta. Berapa pajak yang kamu bayar? Apakah sama dengan pajak penulis?

Hitungan pajak karyawan atau profesi lainnya ada rumus pengurangan, seperti PTKP (pengahasilan tidak kena pajak), tunjangan-tunjangan, zakat (klo gak salah) dsb dari gaji bruto. Kalau kamu masih jomblo maka PTKP ny sebesar 54 juta (TK0). Jika kamu punya istri tanpa anak maka nambah PTKP nya 4,5 juta per orang (K0=58,5 juta) punya 1 istri 1 anak (K1=63 juta), 1 istri 2 anak (K2=67,5 juta) . Jika kamu punya 2 istri tanpa anak, silahkan tanya kantor pajak terdekat berapa PTKP nya. Hehehehe.

PTKP ini fungsinya adalah pengurangan dari penghasilan yang kamu terima. Hasil pengurangan tersebut merupakan penghasilan yang dikenakanan pajak. Anggap saja kamu karyawan jomblo dengan penghasilan bersih satu tahun sebesar 100 juta. Setelah dikurangi PTKP maka penghasilan kena pajaknya 46 juta (100-54 = 46 juta) Jika tarif pajak 5% maka kamu cuma bayar pajak 2,3 juta per tahun.

Nah, jelaskan berapa beda pajak penulis dengan karyawan jomblo. Pajak yang dibayar oleh profesi lain kurang dari setengah pajak yang dibayar oleh penulis. Kasihan juga kita dengan profesi penulis, apalagi penulisnya jomblo pula. Udah royalitinya dikit, pajaknya gede dan jodoh pun masih di tangan Tuhan.

****

Update: Berikut tanggapan menteri keuangan atas pajak penulis di https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1628336110573718&id=1236496389757694

Iklan

9 thoughts on “Pajak, karyawan jomblo dan penulis

  1. Hmm… sebelumnya saya minta maaf, Mas. Tapi PTKP itu tidak hanya berlaku bagi karyawan saja, tapi juga berlaku untuk penulis. Penerapan PTKP berlaku untuk setiap Wajib Pajak Orang Pribadi, dan tidak dikotak-kotakkan menurut profesinya. Di formulir SPT Tahunan Pajak Penghasilan yang diisi penulis ada kolom PPH di formulir induk, dan itu diisi sesuai status perkawinannya. Amanat undang-undangnya seperti itu, Mas.
    Apa yang dianggap tidak adil oleh Bung Tere Liye adalah soal penerapan Norma Penghitungan Penghasilan Neto, dan itu hal yang sangat berbeda, terlalu panjang kalau saya jelaskan dalam komentar ini (sudah dijawab pula secara resmi). Semoga komentar saya dapat menjelaskan sedikit klaim yang ada dalam tulisan ini, hehe.

    Disukai oleh 1 orang

      1. Di mekanisme pemotongannya saja, Mas. Kalau pajak penulis, pajaknya dipotong penerbit dengan tarif flat 15%, sehingga saat dihitung kembali di akhir tahun dengan tarif progresif, ada potensi kurang atau lebih bayar (apalagi untuk penulis beroyalti besar seperti Bung TL yang bukunya terkenal di mana-mana, potensi kurang bayarnya pasti ada hehe).
        Kalau pegawai, sistem pemotongan pajaknya hampir sama dengan sistem perhitungan di akhir tahun (sudah pakai tarif progresif), sehingga di akhir tahun terkesan pajak yang dibayar kecil. Padahal sesungguhnya tidak, pajak yang harus ia bayar sudah dicicil sepanjang tahun.

        Disukai oleh 1 orang

      2. Dari tanggapan sri mulyani, saya menangkap yg 15% di potong oleh penerbit itu dapat menjadi kredit pajak yang akan menjadi pengurang pajak penghasilan yang terhutang ya… Sementara untuk norma ny adalah 50% dari penghasilan penulis, yg dari 50% itu kemudian dikurang PTKP dan mendapatkan penghasilan kena pajak dan dihitung dg tarif progresif ya…

        Suka

      3. Betul sekali Mas. Apalagi kalau sudah pakai norma 50%, artinya pengurang penghasilan bruto penulis di awal saja sudah 50%-nya. Untuk pegawai, pegawai tidak punya norma, hanya biaya jabatan, itu pun besarnya cuma 5% dari penghsilan bruto dan tidak boleh lebih dari Rp5 juta. Norma ini sebenarnya sifatnya opsional, tidak wajib. Jika ada penulis yg merasa biaya-biaya kepenulisannya di atas 50% dari penghasilan bruto, maka ia boleh menggunakan pembukuan.
        Soal tarif yang 15%, kalau tarifnya lebih rendah dan ternyata kurang bayar, maka jumlah pajak yang harus dibayar di akhir tahun jadi lebih besar. Tapi besaran tarif pemotongan dan pemungutan pajak ini kembali lagi ke pembuat aturan sih, jika dirasa memberatkan pasti akan disesuaikan.

        Suka

  2. Penulis juga dapat PTKP kok, jika setelah dihitung di SPT ternyata lebih bayar, atas PPh 23 (royalti) yang dia bayar 15% dapat diajukan pengembaliannya. tapi ya itu, mesti proses pemriksaan dulu.. repot.

    yang harus diperjuangkan adalah agar pajak atas royalti menulis tidak 15%, tapi 5-10% saja

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s