Opini

Sementara

Dunia hanyalah tempat singgah sementara. Ibarat seekor burung yang hinggap pada sebuah pohon,  suatu waktu akan terbang kembali menuju sarangnya. Jika semua yang kita miliki hanya titipan dari Tuhan, bisa jadi Tuhan juga akan menempatkan seseorang untuk menguji kesabaran kita. Siapa yang sabar, maka ia termasuk golongan yang beruntung.

Dimana pun kita berada,  tentu berjumpa orang-orang yang berbeda pandapat, berbeda paham, orang yang tidak disukai dan orang yang memusuhi kita.  Semua itu masih dalam batas wajar, namun terkadang keberadaan mereka membuat habis batas kesabaran kita.  Bila tidak ditangkal,  maka akan muncul perselisihan dan pertikaian yang kadang diwarnai dengan kekerasan.  

Kuncinya adalah pengendalian diri, bila sedang marah maka coba untuk meredamnya. Kemudian adalah berlapang dada,  jika tidak suka maka sampaikan dengan cara yang santun dan legowo kalau situasi tidak bisa sesuai dengan yang diinginkan. 

Sekarang lihat,  orang-orang yang berbeda pandangan politik saja sudah saling menebar kebencian. Padahal kekuasaan yang diperebutkan hanya bersifat sementara,  kalau gak 5 tahun paling lama 10 tahun atau dua periode. Jadi untuk apa kita membuang energi dengan kata-kata kasar,  saling fitnah dan bahkan unjuk kekuatan dalam bentuk kekerasan jika kekuasaan yang diperebutkan hanyalah bersifat sementara.  

Keberadaan seseorang di dunia ini dimulai dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian. Bagaimanakah perasaan kita memahami kedua situasi tersebut dalam waktu yang bersamaan. Apakah kita sama-sama merasa bahagia atau sama-sama merasa bersedih. Jika benar hidup ini sementara,  semestinya banyak orang berbahagia menyambut kematian dengan cara mempersiapkan diri saat hidup untuk dipetik hasilnya di alam akhirat.  

Beberapa hari ini saya sering mendengar berita duka,  bukan hanya di dunia nyata tapi di dunia maya berseliweran berita duka.  Satu persatu orang yang pernah kita kenal telah meninggalkan dunia. Seolah-olah kematian datang secara gelondongan.  Seharusnya kabar ini sebagai intropeksi diri bahwa masa itu akan dilalui oleh setiap makhluk hidup di dunia ini. Kabar itu sebagai peringatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan

Sayang dunia sungguh menggoda, membuat manusia berpaling dan lupa bahwa disini kita hanya sementara. Tidak sedikit yang terlena dengan kefanaan dunia, lalai dan ingkar. Semoga kami bukan termasuk dalam golongan seperti ini.  

Iklan

6 thoughts on “Sementara

  1. Denger berita kematian apa lg org yang kita kenal seringkali seperti pukulan yang bembuat sadar kalau dunia ini sementara.. tapi walaupun begitu masih tetap egois.. beralaku semaunya menyakiti sesama, serakah, dll seoalah kematian cuma lelucon.

    Suka

  2. Setuju. Suka geleng geleng kepala sendiri liat linimasa ya, baca status ttg politik. Duh. Rasanya gemas.

    Tentang dunia yang sementara, temen temen yang telah berpulang duluan menjadi pengingat kita yang masih nunggu antrian.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Pengendalian diri itu memang penting banget ya, Ajo. Akan damai sekali dunia (dan tentunya diri sendiri) ketika bisa senantiasa mengendalikan diri dan meredam emosi, dalam bentuk apa pun itu. Tapi di saat yang sama itu susah sekali dilakukan, karena kadang kita bablas dan runtuhlah semua usaha itu (saya mengalaminya beberapa kali, haha). Namun saat baca ini saya jadi semangat lagi. Pada hakikatnya kita tidak bisa egois karena semua yang ada di dunia ini tidak selamanya ada. Terima kasih, ya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s