Opini

Imunisasi Rindu

Pada mulanya kami cukup dilematis dalam menentukan pilihan untuk Rindu, apakah diimunisasi atau tidak. Kami tidak ingin terjebak diantara pro dan kontra berimunisasi. Oleh karena itu, musyawarah diantar kami adalah jalan keluar terbaik sembari mencari informasi secara menyeluruh baik itu alasan yang pro maupun alasan yang kontra. 

Bagi yang pro mereka beralasan bahwa imunisasi merupakan upaya pencegahan penyakit menular dengan cara vaksinasi atau menyuntikan/memasukan virus dan bakteri yang telah dibuat sedemikian rupa agar menstimulus antibody pada bayi sehingga mampu menghadapi berbagai macam penyakit. Sementara, mereka yang kontra beralasan vaksin yang digunakan untuk imunisasi berasal dari zat yang haram dan disamping itu alasan yang tak kalah penting adalah terkait dengan keyakinan bahwa yang mengobati penyakit adalah Tuhan, jadi untuk apa diimunisasi jika Tuhan telah menciptakan imun dalam tubuh manusia. Selain itu,  banyak lagi alasan diantara pihak yang pro dan pihak yang kontra yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Saya tidak menjelaskan semuanya, sebab alasan yang membuat ganjalan bagi kami adalah bahan vaksin yang bersumber dari kandungan babi. Setelah mencari informasi tersebut, ternyata benar bahwa bakteri tersebut berasal dari enzim babi. Namun setelah diolah sedemikian rupa dengan teknologi, unsur babi dalam vaksin tersebut tidak ada lagi. Ibaratnya seperti minum air PAM yang telah diolah sedemikian rupa, sebab bisa jadi sumber air PAM tersebut sudah dicemari oleh najis dsb. Wallahualam

Berhubung ada fatwa ulama yang membolehkan imunisasi jika dalam keadaan dan situasi tertentu, maka kami putuskan untuk mengimunisasi Rindu. Pada dasarnya kami berpegang teguh pada prinsip bahwa diimunisasi atau tidak, jika Tuhan berkehendak segala penyakit tentu bersumber dariNYA  dan obat penawar juga dari Nya. Imunisasi adalah bentuk tindakan preventif untuk mencegah wabah penyakit menular.

Jadi kami menjadwalkan waktu untuk Rindu berimunisasi. Pilihan tempatnya diantara rumah sakit, klinik atau dokter praktek dan puskesmas. Karena kemarin ramai dengan kasus vaksin palsu, maka pilihan rumah sakit kami singkirkan. Tinggal diantara klinik dan puskesmas. Tentu imunisasi di klinik juga dikhawatirkan vaksin palsu pula, oleh karena itu saya mensurvay kliniknya dulu. Kemudian bertanya di klinik tempat jaminan asuransi Rindu, ternyata jadawal imunisasi disana bukan hari itu, jadwalnya hari sabtu tiap awal bulan. Itupun vaksin yang digunakan diambil dari puskesmas. Sehingga pilihan jatuh di puskesmas tempat kampung istri. Dari sinilah konflik mulai terjadi.

Ketika datang ke puskesmas A saya bertanya kepada salah satu petugas apakah bisa imunisasi saat itu (senin). Petugas tersebut menjawab bisa dan kami diantar ke petugas imunisasinya. Celakanya petugas imunisasi ini tidak mau melayani kami dengan alasan kami datang diluar jadwal imunisasi di puskesmas tersebut yang jatuh pada hari jumat. Petugas tersebut berdalih jika Rindu imunisasi hari itu maka vaksin BCG dan vaksin Polio akan mubazir sebab kuota vaksin BCG untuk 10 orang dan vaksin polio untuk 5 orang. Anehnya petugas tersebut enggan memberikan vaksin BCG karena akan terbuang sebanyak 9 dosis, tapi tidak keberatan jika diberikan vaksin polio meskipun terbuang sebanyak 4 vaksin. Padahal jika belum diberikan Vaksin BCG maka tidak boleh dikasih vaksin polio.

Kalau bukan karena ketiadaan waktu bagi kami untuk kembali ke puskesmas tersebut pada hari jumat, tentu saya tidak akan minta tolong pada petugas tersebut diimunisasi pada hari itu juga. Tetap aja ia ngotot menolak kami, malah ia terkesan menyalahkan kami karena tidak melaporkan kelahiran kepada bidan desa. Saya pun mulai kesal. Jika menunggu hari jumat apakah dihari itu ia bisa jamin apakah anak yang diberi vaksin BCG bakal sampai 10 orang. Namun saya tetap sabar dan bunda Rindu ngajak ke puskesmas lain. Mana tau ada jadwal imunisaai hari itu.  

Lalu kami pergi ke puskesmas B yang mana jadwal imunisasinya juga hari jumat. Kami pun ditolak untuk kedua kalinya. Lantas kami pergi ke puskesmas C yang kebetulan jadwal imunisasinya adalah hari itu (senin). Saya sedikit bisa bernafas lega, akan tetapi sesaat kemudian petugas di puskesmas C menyuruh kami datang hari kamis karena vaksin di puskesmas tersebut habis. Vaksinya mau dijemput keesokan harinya. Artinya sudah tiga puskesmas menolak kami berimunisasi. Katanya pemerintah mewajibkan 5 jenis imunisasi, tapi kenapa pelayanan kesahatanya seperti ini.  

Saya pun sudah hampir menyerah. Sehingga bilang ke istri “gak usah aja imunisasi kalau susah begini pelayanannya“. Untung saja istri gak nyerah, beliau membujuk saya untuk mendatangi satu puskesmas lagi meskipun puskesmas tersebut cukup jauh dari puskesmas terakhir yang menolak kami.  

Di puskesmas D ini pada mulanya menolak kami juga. Karena kami minta tolong dan petugasnya sadar kami datang jauh-jauh ke sana hanya untuk imunisasi. Maka ia merelakan vaksin yang konon sisanya mubazir itu disuntikan ke tangan kanan Rindu. Kami yakin Allah menggerkan petugas tersebut sehingga pilihan kami mengimunisasi  Rindu terlaksana hari itu juga.  

Iklan

2 thoughts on “Imunisasi Rindu

  1. Saya kira tulisannya hampir kayak puisi atau cerita tentang rindu. Ternyata anaknya uda? 🙂 *udah lama banget gak buka blog, jadi ketinggalan berita* hehe

    Kalo dalam kenyataan saat ini sih memang masih banyak pro kontra masalah vaksin. Tapi menurut saya, ketika pemerintah sudah mengeluarkan vaksin yang beredar di pasaran insya allah sudah juga dilihat tidak hanya segi kesehatan tetapi juga segi agamanya. Wallahualam. .

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s