Ngepos via Hape

Jangan Hujat Presidenmu, Jika Kamu Tidak Bisa Menjaga Hatimu

Jika  tubuh manusia itu ibarat negara. Tahukah kamu siapa yang jadi presiden?. Yang jadi presiden adalah kalbu (hati). Yang bertindak sebagai tentara adalah nafsu, syahwat dan amarah. Mata, hidung, telinga, tangan dan anggota tubuh lainnya berperan sebagai rakyat. Lantas yang menjadi menteri adalah pikiran. 

Adakah seorang presiden dikuasai oleh tentaranya sendiri. Ada, lihat saja negara-negara seperti Myanmar pada masa lalu yang dipimpin oleh rezim militer. Adakah seorang presiden dikuasai oleh menterinya. Ada, lihat saja negara yang menganut sistem parlementer, dimana presiden hanya sebatas simbol negara dan perdana menteri yang mengelola pemerintahan. 

Adakah seorang presiden dikuasai oleh rakyatnya. Ada, lihat saja di negara yang menganut paham demokrasi. Rakyat memiliki kebebasan dalam segala hal. Makanya dalam demokrasi kita tidak perlu heran jika homoseksual dilegalkan, senjata diperdagangkan di ruang publik dan segala kebijakan multi dimensi terbuka bagi semua kepentingan rakyat.

Adakah seorang presiden atau pemimpin menguasi para menteri, tentara dan rakyatnya. Ada, lihat saja negara yang menganut sistem kerajaan, dimana wewenang dan kekuasaan raja bersifat mutlak. Seperti perumpamaan pada manusia, sudah seharusnya nafsu, pikiran dan raga kita dipimpin oleh hati.

Akan tetapi, jangan dulu berpikir sistem kerjaan adalah sistem terbaik. Sebab tidak semua hati manusia itu bersih. Terkadang manusia itu sendiri yang membuat hati mereka seperti batu. Allah menegaskan dalam Surat Al Baqarah ayat 7 dan 10 dimana Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya dan  Allah telah mengunci hati beserta pendengaran mereka. Jadi dalam sistem kerajaan, bila rajanya tidak amanah, sewenang-wenang dan tidak adil. Maka sama saja tubuh kita ini dipimpin oleh hati yang kotor. 

Memberi kritik pada presiden itu penting, tapi jangan sampai berlebih-lebihan sehingga cenderung menghujat. Kenapa kritik itu penting, karena dalam diri kita sendiri perlu untuk membersihkan hati dari sifat-sifat yang merusak seperti riya. Begitupun dengan penguasa, tentu ada kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat yang harus dikritisi. Sebagai penguasa tentu tidak sepantasnya bila mengunci hati mereka dan mengisi dengan penyakit kekuasaan yang berujung pada kesengsaraan rakyat.

Mari kita intropeksi diri. Apakah kita masih suka buang sampah sembarang. Apakah kita masih mudah marah melihat anak kita yang masih kecil bermain hingga membuat rumah berantakan. Apakah kita bisa lupa diri ketika menyantap makanan yang kita suka. Apakah kita dengan mudah berprasangka buruk pada orang lain. Atau kita sering lupa waktu kala berselancar di dunia maya, dan sebagainya. Semua itu merupakan cerminan bahwa hati belum jadi pemimpin dalam diri manusia.

Jadi, jika kamu ingin memperbaiki negaramu, maka perbaiki dulu dirimu.Tak salah kiranya ahli politik berpendapat bahwa sebuah negara itu cerminan dari rakyatnya sendiri. Ketika rakyat baik maka negara akan membaik. Oleh kerana itu, mari kita memperbaiki diri. Orang lain tidak bisa merubah apapun yang ada dalam diri kita, kecuali kita sendiri yang merubahnya. 

Iklan

10 thoughts on “Jangan Hujat Presidenmu, Jika Kamu Tidak Bisa Menjaga Hatimu

  1. tulisannya menarik Ajo. kritik sah-sah saja menurutku, asalkan disertai solusi. saya sendiri sedang mengumpamakan pemerintah sebagai orangtua dan rakyat adalah anak. Tentu tak semua permintaan anak akan diloloskan orangtua, kan? 🙂

    Suka

  2. Luar biasa Ajo, biarkan hati memerintah indera. Semoga hati terpelihara dengan koneksi sang pemberi hati ya. Terima kasih pencerah melalui postingan ini. Salam

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s