Ngepos via Hape

Jabatan Itu Seperti Penyakit

Ingat buya Hamka?. Beliau seorang ulama yang pernah di penjara oleh rezim penguasa. Musibah yang dihadapinya dijadikan sebagai anugerah dari Allah, karena sikap itulah beliau menghasilkan karya yang luar biasa dari balik jeruji penjara. Apa jadinya buya Hamka jika beliau tidak dipenjara. 

Musibah yang dihadapi Arcandra Tahar (AT) serupa tapi tak sama dengan yang dirasakan Buya Hamka. Meskipun tidak dipenjara, AT setidaknya sedang menghadapi musibah dalam hidupnya, yakni kehilangan kewarganegaraan. Disamping itu ia diterjang berita miring, terutama soal kejujuran saat menerima jabatan menteri. Saya pikir AT harus buka suara soal ini agar fitnah di media tidak jadi bola liar yang bakal jadi epicentrum dosa bagi sebagian masyarakat yang lemah iman.

Jika AT bersikap seperti buya Hamka, maka tidak tertutup kemungkinan banyak lagi nikmat Allah yang bakal beliau peroleh. Bisa jadi bila jabatan menteri itu dipaksakan pada beliau, tentu akan tidak baik bagi beliau sendiri. Sebagai seorang Muslim yang berpendidikan beliau paham tentang hal itu, sebab harta dan tahta bersifat sementara. 

Jika benar presiden meminta AT untuk mengabdi pada negara, maka negara harus bertanggung jawab untuk mencari jalan keluar atas  masalah statelles yang dihadapi oleh AT. Meskipun kelalaian segelintir oknum telah menzalimi seorang anak bangsa. Terlalu banyak kepentingan yang jadi sarang busuk di lingkaran penguasa. 

Selain itu, kasus AT ini membuat memori saya terlintas kembali pada pencopotan Anis Baswedan (AS) dari kursi menteri. Walau dalam konteks yang berbeda, peralihan kekuasaan tersebut sarat dengan kepentingan sekelompok elit politik, bukan kepentingan khalayak banyak.

Melalui kisah AT dan AS ini saya merasakan  betapa banyak pelajaran yang dapat dipetik. Sebagai orang minang, kami mempunyai prinsip bahwa alam semesta beserta isi dan segala kisah yang terhampar adalah guru terbaik. Begitupun kisah AT dan SW yang berada di tengah pusaran politik Indonesia.

Saya teringat dengan perang uhud pada masa Rasulullah, dimana secara tidak langsung Allah “memilah” antara  orang yang beriman dan orang munafik. Meskipun Islam kalah dalam perang  tersebut, Allah memberikan pelajaran berharga pada kita bahwa kematian para syuhada tidak sia-sia, sebab lewat perang tersebut Allah telah menyeleksi orang beriman yang gugur di medan perang dan orang munafik yang selalu berkilah untuk pergi berperang. 

Dalam kancah politik di negeri kita ini sekiranya Allah juga telah menyeleksi orang-orang baik yang ada di lingkaran kekuasaan untuk berjihad di tempat yang lebih baik. Terlalu banyak kemunafikan dalam pusat kekuasaan tersebut. 

Pemimpin yang katanya mementingkan rakyat malah mendahulukan kepentingan kelompok mereka. Pemimpin yang katanya mewakili rakyat malah mendahulukan hawa nafsu mereka.Bagaimana mungkin seorang dapat memimpin orang banyak jika tidak bisa memimpin diri sendiri. 

Kadang saya berpikir kekuasaan itu bisa menjadi penyakit yang bisa merusak diri sendiri. Bila seseorang  menginginkan sebuah jabatan, lantas lupa bawah jabatan itu adalah titipan, maka jabatan itu akan membusuk dalam diri. Baunya lebih busuk dari bangkai. Jika seseorang menganggap jabatan itu adalah amanah, maka ia berhati-hati menjalankannya, sebab ia takut kuasa dan wewenang yang diperoleh akan menghancurkan dirinya sendiri di akhirat kelak. 

Allah telah menyelamatkan setiap orang yang mempunyai niat baik membenahi bangsa ini dengan cara Nya. Kita mesti menelan setiap kenyataan pahit ataupun manis. Sebab segala sesuatu bersumber dari Allah. Lengsernya Anis Baswedan dan Arcandra Tahar dari kursi jabatan menteri adalah cara terbaik Allah menentukan takdir bangsa ini. 

Iklan

10 thoughts on “Jabatan Itu Seperti Penyakit

  1. Politik itu membingungkan. Nggak punya pengetahuan apapun saya. Pada korup semua kayaknya pemimpin bangsa ini. Sebagai rakyat kecil, sudah lama saya nggak peduli dg dunia perpolitikan dan kebijakan pemerintah. Pokoknya nggak terlalu berharap.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Saya pikir juga begitu, sebaiknya Pak AT buka suara agar semua jernih dan tidak memperkeruh suasana. Beliau orang cerdas, saya yakin akan mendapatkan posisi terbaik di mana pun asalkan bermanfaat. Entahlah ada konspirasi apa di balik insiden AT dan pak anies. Sungguh miris.
    Btw, yang dimaksud di atas perang badar atau uhud mas? Seingat saya kaum muslim memetik kemenangan pada perang badar. Dan benar, jabatan bila sudah diminta, itu berbahaya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s