Ngepos via Hape

Sudah Sampai di Kota 31

​Jika hidup ibarat perjalanan, maka akhirat adalah tujuan. Untuk bisa mencapai tujuan harus melewati gerbang kematian. Sebelum mencapai gerbang tersebut, ada banyak kota yang disinggahi. Kota itu ibarat usia, ada berapa kota yang akan kita datangi sebelum sampai di gerbang maut?.

Hanya Allah yang tahu, seberapa banyak kota yang kita lalui. Sebab gerbang maut setiap orang berada di tempat yang berbeda. Banyak cerita untuk bisa sampai pada tempat tersebut. Ada yang menemui jalan buntu, berliku, berlubang dan jalan yang mulus. Lalu ada juga yang melalui jalan yang lurus dan berbelok-belok.

Tentu dalam sebuah perjalanan butuh panduan serta petunjuk arah. Tanpa petunjuk, mungkin kita bisa tersesat menuju satu kota ke kota yang lain. Apalagi belum pernah datang ke kota tersebut. Oleh karena itu, dalam Alquran Allah menegaskan jalan yang benar adalah jalan yang lurus. Namun terkadang di setiap simpang  kita tergoda untuk berbelok. Padahal kalau berbelok merugikan diri sendiri karena jalannya jauh dan buruk. Penyebabnya adalah terbujuk tipu daya setan yang suka menyesatkan.

Bila ditengah perjalanan kita tersesat dan melewati jalan yang salah. Maka ada dua cara untuk kembali pada jalan sebenarnya, yaitu bertanya pada orang yang tahu jalan atau putar arah kembali melewati jalan yang tadi dilalui. Ketika kita sadar melalui jalan yang salah, maka saat itulah kita dituntut untuk bertobat agar tidak semakin jauh tersesat. 

Kita tidak pernah tahu dimana gerbang maut yang melekat pada setiap manusia. Gerbang maut itu bukan seperti gapura atau pun tugu kota yang berdiri kokoh di tengah jalan. Gerbang maut itu hanyalah sebuah batas akhir dari perjalanan hidup. Sebab kematian itu bagaikan busur panah yang siap menghujam jantung manusia kapan pun. Ketika busur panah itu menancap dalam tubuh, maka disitulah gerbang kematian kita berdiri. Semoga busur panah tersebut tidak menghujam saat berada di jalan sesat. 

Kapanpun selalu ada pilihan untuk kembali ke jalan yang lurus. Ketika ragu untuk memilih, kala itulah kita  dapat membuka kembali petunjuk Ilahi. Bertanya pada ahli dan berdoa agar selalu diberikan jalan lurus. Tanpa hidayah dari Allah tak akan pernah mungkin kita menginjakkan kaki di jalan benar. 

Hari ini saya sudah tiba di kota yang ke 31 dalam perjalanan hidup. Entah berapa banyak jalan sesaat yang saya lalui selama ini. Kota ini menjadi tempat intropeksi diri, sembari berdoa semoga dalam perjalanan berikutnya Allah selalu memberi hidayah untuk bisa melangkah dijalan Nya. 

Satu prinsip hidup yang selama ini dan seterusnya saya pegang adalah bila segala sesuatu yang buruk terjadi pada saya, maka itu bersumber dari diri saya sendiri. Sedangkan segala sesuatu yang baik terjadi pada saya, itu bersumber dari Allah. Mudah-mudahan di kota ke 31 ini segala ketakutan yang saya ciptakan bisa dikalahkan oleh ketakutan saya pada Allah. 

Iklan

3 thoughts on “Sudah Sampai di Kota 31

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s