Ngepos via Hape

Alasan Menolak Full Day School

Sejenak saya coba menghela nafas panjang. sambil berpikir, makin gila aja pejabat negeri ini. Betapa kaget saya mendengar kabar berita bahwa negara akan mewajibkan siswa seharian di sekolah. Alasannya supaya anak gak berkeliaran jika pulang sekolah terlalu cepat. Sebab orang tua masih kerja, jadi si anak gak ada yang ngontrol. Anak jadi liar, nakal, suka kekerasan dan sebagainya..

Gila. Kenapa saya bilang gila? Coba kalian mikir, emang semua orang tua yang kerja dari pagi sampai jam 5 sore.? Coba kalian mikir emang semua orang tua yang kerja kantoran? Coba kalian mikir emang semua siswa yang kedua orang tuanya bekerja sampai sore?

Bisa jadi orang tua di perkotaan memang banyak menghabiskan waktu terbaik mereka di tempat kerja. Bahkan kedua orang tua mereka sebagai pekerja yang menuntut harus pulang sore (ataupun malam). Karena logika ini anak pun harus menyesuaikan waktu dengan orang tua nya. Kebijakan apa coba kalo anak harus dipaksa mengikuti kehendak orang tuanya yang egois, maunya anak ngikutin jam kerja mereka. 

Orang tua aja bisa stres jika seharian berada di kantor. Apakah bocah sekecil itu gak stress jika disuruh seharian di sekolah. Atau mungkin siswa di negeri ini hanyalah korban dari pejabat kita yang udah pada stress ngurusin negara. 

Selintas saya merasa gak terlalu risih dengan kebijakan full day school, jika memang kedua orang tua mereka pekerja kantoran atau bekerja sampai sore. Pulang kerja mereka bisa jemput anaknya ke sekolah.Sampai di rumah semuanya udah pada capek, jadi gak ada waktu buat ngumpul. Terus besok paginya antar lagi anak dengan mobil berkilat. Begitulah seterusnya. Di sekolah swasta dan di beberapa tempat daerah perkotaan mungkin metode ini cocok. 

Tapi, coba mikir apakah cara itu cocok di daerah pedesaan. Dimana ayahnya hanya seorang petani sementara ibunya penghuni rumah yang setia. Apakah pejabat negeri kita ini gak punya data seberapa banyak orang tua siswa yang bekerja dari pagi sampai sore. Apakah negara kita ini suka nelorin kebijakan yang hanya berorientasi pada perkotaan saja. Apakah pejabat kita ini lebih senang melahirkan kebijakan yang mementingkan orang kaya. 

Masih ingatkan kebijakan antar anak ke sekolah. Saya anggap kebijakan itu ibarat seorang anak yang minta sedikit “jam kerja” orang tuanya. Sekarang kok malah anak disuruh ngikutin “jam kerja” orang tua. Pepatah yang bilang ganti mentri, ganti kebijakan itu ternyata memang terbukti.

Sudahlah, ini katanya masih dalam tahap wacana. Konon sebentar lagi bisa saja akan menjadi sebuah peraturan yang harus ditaati oleh semua rakyat. Setidaknya saya tidak menyesal jika memang kebijakan full day School berlaku, saya sudah coba mengingatkan ibu-ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga untuk terus meningkatkan kesabaran. Jika sebelumnya mereka gak sabar nunggu suami pulang kerja, maka kedepan mereka harus sabar nunggu anak pulang sekolah. 

Iklan

2 thoughts on “Alasan Menolak Full Day School

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s