Ngepos via Hape

Perjalanan Pulang

Bila dunia ini ibarat perjalanan menuju akhirat. Percayakah, jika kita sesungguhnya tidak menaiki kendaraan yang salah. Dan kita tidak akan pernah sampai pada tujuan yang salah.

Jika selama ini berpikir surga merupakan sebuah nikmat, maka neraka sebetulnya juga sebuah nikmat. Jadi kendaraan apapun yang kita lakoni di dunia tidak akan pernah sampai pada tujuan yang salah di akhirat kelak.

Bicara kendaraan, saya jadi ingat dengan perjalanan menghabiskan masa cuti pada minggu yang lalu. Perjalanan itu menjadi pelajaran hidup yang berharga, sehingga saya berpikir bahwa tidak ada yang namanya kebetulan, Tuhan telah menskenariokan setiap jengkal langkah kita.

Bermula ketika berangkat dari pekanbaru ke pariaman. Tadinya rencana mau berangkat pagi, sebab kapal jelatik yang ditumpangi semenjak dari selatpanjang baru merapat di pelabuhan sungai duku pada jam 6 pagi. Seharusnya perjalanan bisa dilanjutkan menaki mobil travel ke Sumbar pada pagi hari. Sebab biasanya mobil travel berangkat jam 10 pagi.

Berhubung sebelum berangkat pulang kampung harus berobat ke rumah sakit. Jadi merasa pesimis untuk bisa berangkat pagi, sebab jadwal dokter jam 10. Belum lagi banyak pasien yang antri, sehingga pada akhirnya selesai jam 11.

Jadi saya coba iseng menelpon mobil travel, mana tau masih ada yang belum berangkat. Rupanya masih ada satu mobil yang berangkat siang. Berhubung sopirnya ada keperluan di kampung, jadi dia berangkat siang padahal sebelumnya semua mobil hanya berangkat pagi. Penumpang cuma tiga orang (termasuk saya), setidaknya udah nutupi biaya bensin dari pada pulang dalam keadaan kosong.

Memang Tuhan telah mengatur rezeki setiap umat Nya. Disaat pak sopir butuh uang untuk beli bensin mobilnya, disaat itu pula saya butuh waktu cepat untuk tumpangan menuju kampung halaman.

Kuasa Allah semakin nyata ketika ditengah perjalanan mobil yang saya tumpangi dihentikan oleh dua orang tua renta beserta satu cucunya. Pak sopir berharap dapat uang tambahan. Saat mobil berhenti barulah pak sopir tahu bahwasanya mereka adalah pengemis. Karena merasa iba, pak sopir memberikan tumpangan gratis.

Keberadaan mereka di mobil itu menguji rasa kemanusiaan saya. Saat itu sudah sore, sementara sejak semalam mereka belum makan. Ketika saya tanya mereka dari mana mau kemana, ketika itulah kakek dan nenek yang mempunyai tiga anak dan sembilan cucu itu bercerita mereka baru pulang mengemis. Lalu sang kakek berseloroh “Lebih baik minta sedekah dari pada mencuri“.

Jangan anda bayangkan pengemis ini seperti pengemis di kota besar yang mempunyai rumah gedongan. Mereka terus berjalan menuju rumahnya yang ratusan kilometer, sembari menyetop mobil di pinggir jalan. Entah sudah berapa banyak mobil yang mereka hentikan.

Sesungguhnya saya beserta dua penumpang lain, pak sopir dan pengemis tersebut tidak pernah menaiki mobil yang salah. Tidak ada kebetulan, karena Allah sudah mengatur pertemuan kami untuk menarik pelajaran hidup bagi masing-masing orang yang berada diatas mobil tersebut. Dari dalam mobil itu saya diingatkan untuk selalu berbakti dan membahagian kedua orang tua.

Iklan

4 thoughts on “Perjalanan Pulang

    1. Maaf uda, lupo ambo mangirim alamat nyo… duo minggu ko jarang online dan lg cuti uda.. buliah kirim ka kantor Bank Syariah Mandiri alamat jl imam bonjol no 88, selatpanjang, kec tebing tinggi, kab kepulauan meranti, riau. Sorry yo uda.. 🙂 hiks

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s