Ngepos via Hape

Partai Islam dan Perbankan Syariah : Dua Saudara Yang Tak Laku Dijual

Dalam catatan sejarah, partai islam tidak pernah memenangi pemilihan umum di indonesia. Baik itu pada era orde lama, orde baru maupun reformasi. Meskipun demikian partai islam memiliki arti tersendiri bagi rakyat Indonesia.

Fenomena ini memang sungguh menarik untuk dikaji. Bagaimana mungkin bangsa yang mayoritas berpenduduk islam ini tidak memberikan ruang untuk berkuasa pada partai islam.

Politik bukan hitungan matematika. Kondisi sosial keagamaan masyarakat indonesia sangat beragam. Berpenduduk mayoritas muslim tidak menjamin simbol agama manjadi laku untuk jadi dagangan politik. Bangsa kita ini sungguh unik dan menarik.

Jika politik bukan soal hitungan angka, maka mari kita beralih ke sektor ekonomi. Sejauh mana peran islam dalam menggerakan perekonomian Indonesia. Apakah ekonomi islam memiliki komposisi yang besar dalam industri keuangan nasional.

Sama seperti saudara mereka partai islam, ekonomi islam yang direpresentasikan oleh perbankan syariah tidak bisa bertengger sebagai penguasa roda perekonomian nasional. Lihat saja market share perbankan syariah yang tidak sanggup keluar dari angka keramat 5%.

Hal ini sungguh berbanding terbalik dengan pertumbuhan perbankan syariah di negara tetangga malaysia. Disana perbankan islam menjadi penguasa dirumah sendiri. Tidak seperti di indonesia yang seolah menjadi tamu di rumah sendiri.

Bila agama tidak laku dalam politik, maka syariah pun tidak cukup menjual dalam ekonomi. Lantas apa yang salah pada negeri ini?

Kita mengaku muslim tapi tidak mau menabung di bank syariah. Katanya bank syariah dan bank konvensional sama aja, cuma beda istilah saja.

Kita mengaku muslim tapi tidak mau pilih partai islam. Katanya semua partai sama saja, meskipun partai islam tetap aja anggotanya terjerat korupsi.

Untuk apa agama mesti berada di ruang partai jika pelakunya tidak memberikan teladan yang baik bagi rakyat. Bagaimana mungkin bank berlandaskan syariah jadi solusi bermuamalah bagi muslim, sementara mereka masih terlena dengan riba.

Jadi partai islam dan perbankan syariah bagaikan dua saudara kandung yang tak laku dijual di negeri mayoritas muslim ini. Entah “barang” jualannya yang tak bergizi atau pembelinya yang tak paham apa yang mereka beli.

Iklan

12 thoughts on “Partai Islam dan Perbankan Syariah : Dua Saudara Yang Tak Laku Dijual

  1. Saya melihatnya gak begitu si Jo, dua hal ini tidak berkorelasi positif mutlak. Kalau partai berbasiskan islam sampai tidak memenangi pemilu di negara kayak negara kita mungkin karena sikap dan contoh yang tidak santun yang ditunjukkan para elit partainya. Meskipun memang mungkin hanya nol koma sekian persen aja dari seluruh kader partainya, tapi tindakan korupsi, asusila atau apapun itu yang kemudian di blowup sama media turut mencoreng nama partai (meskipun bukan serta merta nama agama). Kalo saya pribadi malah kayak timbul sikap antipati sama (kader) partai berlandaskan islam yang kemudian menyalahi amanah padahal awalnya saya sempat simpati banget sama partainya. Sad but that is maybe the reality for many people.
    Sementara kalau perbankan syariah, market sharenya masih kecil karena di Indonesia sendiri usianya juga baru sedikit, baru aktif beberapa tahun terakhir ini. Pemerinta juga mungkin belum terlalu siap mengatur, tapi kalau dari segi peminat, perbankan syariah tumbuh pesat banget Jo. Ini kerasa kok kalo dari tempat saya kerja. Semakin banyak nasabah yang memilih kredit berbasis syariah, simpanan berbasis syariah… Malah sempet nemenin beberapa investor Jepang dan dari Timur Tengah yang mau investasi lumayan besar untuk pasar Indonesia dengan skema syariah. ๐Ÿ˜€
    *maap Jo kalo kepanjangan ๐Ÿ˜€

    Suka

    1. Kalo kedepannya sepakat dg mas dani… perbankan syariah lebih berkembang pesat dari pada parpol islam.. namun, dari historis kebelakang dua hal ini seperti gak laku-laku… Mungkin upaya pemerintah utk menggabungkan anak usaha bank bumn yang syariah belum menemukan titik terang, jika digabungkan tanpa suntikan modal akan sia-sia.. Pemerintah sepertinya menunggu suntikan dari swasta yg berminat, seharusnya pemerintah berani menyuntikkan modal agar perbankan syariah jadi tuan rumah di rumah sendiri.

      Suka

      1. Kalo historisnya memang gak terlalu terlihat karena bisnis syariah ini juga masih baru dan belum banyak yang mengiasai di negara kita Jo. Tapi sejak diperkenalkan sambutan masyarakat bagus kok (paling gak dari tempat saya kerja kelihatan bgitu) dan ya karena bisnis baru jadi masih banyak kendala. Yakin kok kalau prospek cerah ke depannya.

        Suka

      2. Bisa jadi mas dani.. Salah satu faktor yang membuat masyarakat mulai tertarik adalah tumbuhnya kelas menengah muslim di negeri ini, salah satu indikatornya adalah tren penggunaan jilbab dan perkembangan teknologi yg pesat bg kaum musim kelas menengah. saya pernah membaca hasil riset tersebut, sehingga digunakan oleh industri syariah sbg strategi pemasaran. Untuk menarik minat kelas menengah tersebut bukan dengan mengedepankan aspek syariah (agama) saja tapi lebih kepada kebutuhan nasabah yg haus dengan perubahan teknologi dan kemudahan dalam bertransaksi.

        Suka

  2. baca ini pas banget tadi diskusi di grup wa soal perbankan syariah. ya sih masih banyak kekurangannya, tp apa salahnya kita sbg muslim menghargai produk muslim sendiri? gitu deh ujung nya hahha.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s