Ngepos via Hape

Belajar Masak di Pulau

image
Aktifitas Bongkar Muat di pelabuhan camat, Selatpanjang

Satu bulan belakangan ini aktifitas yang saya lakukan di waktu weekend adalah pergi belanja ke pasar tradisional. Barang yang rutin dibeli adalah cabe giling yang diulek pakai tangan (batu). Selain itu tentu beli sayuran dan bahan makanan untuk dimasak.

Berhubung mulai bulan kemaren saya memutuskan memasak di kosan, tidak lagi beli nasi bungkus. Alasan utamanya adalah pengen efisiensi dan coba untuk belajar masak. Urusan memasak bukan hanya domain perempuan saja khan, laki-laki juga tidak dilarang memasak. Liat saja di restoran dan acara memasak di televisi, banyak juga chef yang laki laki.

Alasan kedua adalah sudah mulai bosan dengan makanan yang dijual di kota ini. Hampir semua tempat makan sudah pernah saya coba dan seluruh rumah makan padang pernah saya singgah. Maklum kota ini adalah kota di kepulauan yang kecil. Cuma beberapa jam saja kita dapat mengelilingi pusat kota di kepulauan yang berbatasan dengan negara tetangga Malaysia. Pulau yang terletak di selat malaka.

Hidup di kepulauan sangat mahal, harga bahan pokok tidak murah, sebab rata-rata barang disini berasal dari pulau sumatera. Biaya transportasi dari daerah tersebut ke pulau ini menggunakan kapal laut. Biaya transportasi tersebut membuat harga barang membengkak.

Bayangkan saja disini nasi padang sebungkus bisa mencapai harga Rp. 25.000/bungkus, sementara di pekanbaru hanya Rp. 15.000/bungkus. Itu hanya perumpamaan, sedangkan selisih harga-harga barang lainnya juga cukup tinggi. Bagi saya ini adalah resiko hidup di kepulauan.

Bahkan disini untuk membangun rumah butuh biaya yang sangat besar. Semua bahan bangunan berasal dari luar pulau, mulai semen hingga pasir didatangkan dari luar. Dengan uang 100 juta di pekanbaru sudah bisa bangun rumah sederhana, sementara disini uang segitu hanya bisa membangun rumah setengah jadi.

Saya pikir harga disini masih dapat ditoleransi meskipun selisihnya cukup jauh. Namun bila kita bandingkan harga barang di daerah terpencil seperti di papua dengan pulau jawa, kita akan lebih kaget.

Hidup di pulau memiliki cerita tersendiri dalam perjalanan hidup saya. Untuk pulang ke kampung halaman terasa jauh. Keterbatasan transportasi menjadi kendala yang signifikan. Kurangnya ketersediaan air bersih menjadi tantangan tersendiri. Semua itu memiliki makna yang dapat saya petik, sudah sepantasnya saya mensyukuri apa yang selama ini saya miliki. Toh, orang di pulau ini tetap bertahan hidup ditengah keterbatasan yang melilit mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s