0-250

Guru

Nak, jika kamu pengen kaya maka jangan jadi guru. Simpan saja ijazah mu di lemari. Mari pergi ke laut bersama bapak. Di sana kamu bisa mendapatkan uang yang lebih besar dari gaji mu.” kata bapak sambil mendorong perahu lapuknya itu. Bagiku mengajar adalah satu hal yang tidak bisa diukur dengan uang. Namun bapak berpikir lain, ia yang susah payah mengkuliahkan ku tidak bisa menerima kenyataan bahwa si Pendi teman seusiaku yang tidak tamat sekolah sudah bisa bangun rumah dan beli motor dari hasil kerjanya sebagai ABK kapal dari Singapura.

Bapak semakin tidak bisa menerima kenyataan ketika aku dimarahi oleh kepala sekolah karena memohon untuk menaikan honor yang saya terima sebesar lima ratus ribu per bulan. Kepala sekolah tersebut memberi dua pilihan, yakni tetap mengajar di sekolahnya dengan honor yang sama atau silahkan mencari sekolah yang lain. Bagiku itu pilihan yang tidak adil.

Selama ini aku tidak pernah berpikir mengajar itu pekerjaan tapi mengajar adalah pengabdian. Bisa jadi bapak benar, aku harus bekerja. Mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi sekarang bapak sudah cukup tua mengarungi lautan selat malaka. Tidak ada pilihan lain bagiku selain menemani bapak melaut.

Sejak melaut aku melepaskan profesi ku sebagai guru sekolah. Jika aku mengajar hanya untuk mendapatkan uang maka aku termasuk orang-orang yang merugi. Karena itulah aku tidak akan mau menerima uang bila mengajar. Sepulang melaut, aku sisihkan waktu untuk membagikan pengetahuan ku sebaik mungkin. Bila malam tiba anak-anak di kampung datang ke rumahku untuk belajar mengaji. Sepeser pun tidak pernah dipungut biaya. Biarlah ini menjadi tabungan di akhirat kelak.

Betapa bahagia diriku saat mengetahui salah satu muridku yang hafal 20 juz Al quran mendapatkan juara 1 lomba mengaji tingkat provinsi. Inikah buah dari pengabdian yang memang tidak bisa ditimbang dengan materi.

Iklan

6 thoughts on “Guru

  1. Mengajar adalah mengabdi, saya setuju sekali Mas :hehe. In fact, bagi saya guru itu contoh orang-orang yang pengabdiannya paling mendalam dan paling penting. Meski saya tidak menutup mata kalau kadang ada guru yang “gagal” dan cuma menjadikan lahan pendidikan demi memuaskan keinginan pribadi, banyak guru yang mengabdi lebih dalam dan lebih tulus, niatnya lebih murni. Mudah-mudahan kita menjadi orang yang demikian juga ya, Mas.

    Disukai oleh 1 orang

  2. biasanya guru ada pekerjaan sampingan lain. guru sekolah jadi guru les juga (nilai rata2 kelas jadi naik, penilaian guru jadi bagus, win-win solution). Dosen biasanya ada dana penelitian sama mroyek bareng mahasiswa (mahasiswanya dapet pengalaman, dosennya dapet tenaga kerja murah meriah hehe)

    buat saya juga kerja nggak semata2 demi gaji, tapi melakukan sesuatu yang saya suka dan dibayar pula. jadi jika sudah nggak enjoy (entah karena environment, birokrasi, etc), nggak masalah juga pindah ke tempat lain walaupun gajinya kalah besar. intinya sih loves the job, not the company :p

    Disukai oleh 1 orang

  3. Syukurlah sekarang masih sempat ngeblog dan berbagi inspirasi di sini, Mas. Mengajar bukan dengan dorongan rupiah sungguh mulia. Investasi akhirat dan kebaikan untuk keluarga Mas. Saya yakin pilihan yang direstui ortu akan mengundang keberkahan hidup dan usia. Selamat melaut dan menempa hidup 🙂

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s