0-250

Sekotak Korek Api

Ketika listrik padam, ketakutan langsung menghampiri diriku. Mataku tidak bisa membedakan mana realitas dan impian. Secepat mungkin ku gapai cahaya dari sebatang korek api di sudut jendela.

Suatu masa, lampu kembali pudur. Hatiku makin risau setelah mengetahui kotak kecil itu tidak berada lagi pada tempatnya. Ku raba setiap sudut ruang, tanganku tidak menemukan apapun selain kesunyian.

Dalam kelam ku coba membuka mata, yang tampak hanyalah ketiadaan cahaya. Seandainya sumber kehidupan itu adalah cahaya. Aku tidak akan pernah melupakan betapa besarnya nikmat yang melekat pada sebatang korek api.

Sudah ribuan nikmat ku ingkari. Namun semua itu tidak bisa ku perbaiki, hanya tinggal penyesalan seorang diri. Lalu ku coba untuk berdiri, tapi tidak bisa, sebab papan lahat telah terpaku kuat.

Sedetik kemudian malaikat bertanya “apa yang telah kamu lakukan dengan sekotak korek api itu?”. Tangan ku menjawab “korek api itu telah membakar semua amal ku karena aku mengira semua kebaikan yang ku lakukan berasal dari ku, bukan dari Sang Pemilik Cahaya.”

Iklan

4 thoughts on “Sekotak Korek Api

  1. Kontemplasi yang sangat menggugah dan mengingatkan, Mas. Berapa banyak lagi nikmat yang harus kita ingkari sebelum sadar bahwa apa yang sudah kita nikmati itu sangat, sangatlah besar? Ataukah kita memang harus sadar, baru sadar, setelah berada dalam liang lahat, dengan kata lain, setelah semuanya terlambat? Itu sih yang bisa saya tangkap setelah membaca ini, jadi mari selalu bersyukur :hehe.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s