Ngepos via Hape

Hidup Yang Terkotak

Ketakutan terbesar kita adalah tidak bisa menjadi diri sendiri. Tidak salah memang, sebab perang terbesar adalah perang melawan diri sendiri. Ketika seseorang mampu mengendalikan nafsunya, maka ia bisa berkuasa atas dirinya sendiri.

Nafsu adalah anugerah yang dititipan Tuhan kepada setiap insan. Kita tidak bisa mengingkari itu, tapi kita diberi kemampuan untuk memilih. Mau dibawa kemana nafsu tersebut, apakah cenderung kepada Rabbnya atau mengikuti jejak setan yang sedang mencari pendukung.

Pernahkah kita membayangkan dunia ini tanpa keserakahan, tanpa kekerasan dan tanpa kerusakan. Atau mungkin kita memimpikan dunia penuh kedamaian dan ketenangan. Keduanya bagai oase di padang pasir kehidupan ini.

Apalagi saat ini kita hidup bagaikan di dalam kotak yang berbentuk negara. Orang yang berada di luar kotak bukan bangsa kita. Seiring waktu kotak tersebut dibungkus dengan agama yang telah bercampur dengan kepentingan, bukan dengan keyakinan. Celakanya kepentingan seakan membenarkan orang yang di luar kotak pantas untuk dibunuh.

Agama manapun menjunjung tinggi kemanusian. Pembunuhan adalah bentuk dari kejahatan atas kemanusian. Perang seringkali menjadi pembunuh yang terhebat dalam setiap konflik manusia. Entah kenapa dari dulu hingga sekarang perang dianggap sebagai cara terbaik untuk memperoleh kekuasaan.

Jika memang perang mampu memperoleh kekuasaan. Pernahkah kita berperang untuk mengusai diri kita sendiri?

Iklan

6 thoughts on “Hidup Yang Terkotak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s