Ngepos via Hape

Dilema Pengemis

Tadi pagi saat duduk ngopi di kedai dekat pelabuhan, saya didatangi oleh seorang nenek tua. Wajah nenek tersebut tidak asing lagi, sebab hampir setiap waktu ia duduk di pintu salah satu swalayan kota ini. Sebuah kota kecil yang terletak di sebelah timur pulau sumatra.

Dengan mengenakan pakaian lusuh, nenek tua tersebut selalu menjinjing ember kecil tempat menampung uang dari para dermawan. Sekilas nenek tersebut tampak sehat bugar, seperti seorang perempuan paruh baya. Entah kenapa ia lebih memilih untuk menjadi pengemis.

Mungkinkah Tuhan menghadirkan beliau untuk menguji orang-orang di kota ini. Termasuk saya yang tinggal disini, seberapa besarkah saya mencintai harta yang saya miliki. Masih beratkah saya menyisihkan sedikit uang untuk beliau.

Kehadiran pengemis tua itu sungguh ujian yang berat bagi diri saya. Kenapa tidak, dalam benak saya masih berpikir panjang untuk mengeluarkan uang untuknya. Dengan dalih bahwa perempuan itu masih sehat bugar, pikiran dihasut oleh setan untuk tidak mengeluarkan hak orang tidak mampu dalam harta saya.

Sungguh merugi rasanya melalui sebuah kesempatan untuk berbuat baik hanya gara-gara pikiran sesat bahwa orang itu masih sehat untuk menjadi seorang pengemis. Sebelumnya mungkin kita pernah mendengar di kota besar banyak pengemis yang memiliki rumah mewah. Mengemis hanya sebuah kedok belaka, padahal mereka sudah mampu secara materi.

Berita tersebut secara tidak langsung berdampak pada cara saya memandang pengemis. Kepedulian terhadap pengemis semakin berkurang, sehingga hal itu malah manjadi kedok bagi saya untuk manahan harta orang lain yang ada pada saya yang semestinya disedekahkan.

Disinilah beda mengemis karena pilihan dan tak ada pilihan selain mengemis. Orang yang menjadikan mengemis sebagai pilihan hidup biasanya sudah diberi kecukupan secara materi tapi miskin secara mental. Tapi bagi mereka yang mengemis karena terpaksa harus disantuni.

Meskipun tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah, tak sepatutnya semua pengemis dicurigai berkecukupan secara materi. Tugas kita hanya memberi tanpa perlu berpikir panjang tentang latar belakang pengemis tersebut.

Iklan

3 thoughts on “Dilema Pengemis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s