Ngepos via Hape

Jangan Salahkan Hujan

Dua tahun lalu saya berkunjung ke jakarta selama tiga minggu. Pada masa itu disambut dengan banjir. Ketika berangkat ke tempat beraktifitas di jakarta pusat, saya sedikit mengeluh dengan macet yang disebakan oleh banjir. Padahal tanpa banjir sekalipun, jakarta tetap saja macet. Saya tahu itu karena sebelumnya pernah menyicipi kemacetan selama enam tahun di jakarta.

Kini di kota yang berbeda, ingatan itu menguak kembali dalam pikiran. Kota Selatpanjang sama dengan kotanya lainnya yang pernah merasakan banjir. Namun, banjir disini sedikit berbeda, selain disebakan oleh hujan, banjir seringkali disebabkan oleh naiknya air laut. Orang disini menyebutnya dengan pasang. Tentu banjir pasang ini adalah banjir musiman yang terjadi setiap tahun.

Terkadang bila hujan turun seharian, ada beberapa jalan yang tergenang air. Air hujan bercampur dengan air pasang. Bahkan banyak pula halaman rumah warga yang terendam banjir, tapi tak sampai masuk rumah kerena banyak rumah panggung.

Meskipun hujan membanjiri kota, masyarakat tetap mengharapkan hujan turun. Sebab air hujan adalah sumber kehidupan mereka. Aktifitas seperti mandi, mencuci, memasak dan aktifitas lainnya menggunakan air hujan. Disini tidak ada air PDAM, sementara air sumur di hampir semua rumah warga berwarana merah dan kuning. Air merah biasanya di daerah yang bertanah gambut, sementara air kuning yang rasanya asin banyak dijumpai di daerah pesisir.

Untuk mengantisipasi supaya air hujan cukup untuk kebutuhan sehari-hari, maka setiap rumah memiliki tangki penyimpan air. Ada yang dibuat dengan bentuk semacam kolam di bawah rumah, mirip seperti septiktank tapi isinya air hujan lho, bukan ampas BAB ya. Katanya untuk bisa membangun tank air hujan ini membutuhkan biaya puluhan juta rupiah. Sebelum membangun rumah, orang sini biasanya lebih dulu membangun tempat penampungan air hujan sebelum membangun rumah.

Sementara bagi yang rumah kayu atau rumah panggung, biasanya tempat penampungan air hujan berupa tong besar. Air hujan yang dari atap rumah disalurkan dengan selang ke dalam tong tersebut. Jadi, di kota ini air hujan adalah sumber kehidupan masyarakat. Jika selama berbulan-bulan tak turun hujan dan persedian air hujan habis, maka masyarakat membeli air bersih.

Bahkan air galon yang dijual di toko-toko bukanlah air pegunungan lho, tapi adalah air hujan yang disuling. Kebayangkan gimana rasanya beli air galon yang isinya air hujan.

Sejak tinggal disini saya belajar banyak hal. Salah satunya adalah belajar pada hujan. Bila saat di jakarta saya mengeluh karena hujan, disinilah saya mengerti betapa pentingnya hujan. Bila sebelumnya saya kesal karena terjebak banjir, maka dari sinilah saya merasakan sabar diterpa banjir.

Untuk itu jangan pernah salahkan hujan. Apapun yang terjadi karna disebabkan oleh hujan, jangan pernah mencaci maki. Bahkan seandainya hujan memberantakan semua rencana yang telah kita susun, tetap jangan salahkan hujan. Sebab kita belum merasakan betapa berharganya air hujan.

image
Banjir Pasang
Iklan

23 thoughts on “Jangan Salahkan Hujan

  1. Ah iya bener Jo. Saya pernah merasakan kemarau yang panjang sampai air sumurnya habis dan waktu diambil sudah bercampur lumpur. Dulu senaaaang banget kalo udah masuk musim penghujan. Maaf oot Jo. πŸ˜€ Hehehe..

    Suka

  2. Kalau kekeringan, semua orang meminta hujan. Tapi kalau sudah hujan, malah tidak disenangi juga karena membuat banjir. Kasihan ya, hujan, selalu disalahkan :huhu

    Suka

  3. Hujan berkepanjangan di Jakarta sama dengan bencana banjir, kalau di Selatpanjang sama dengan limpahan rahmat. Sama-sama hujan tapi beda cara bersyukurnya.

    #peluang bisnis tu jo mambuek pemurnian aia untuk aia minum dan mandi, mantap. πŸ™‚

    Suka

  4. Jadi inget rumahku dulu sebelum masuk aliran PDAM.. Kita punya wadah menampung air hujan untuk digunakan sehari-hari. Setelah aliran PDAM masuk, tempat tersebut tetap digunakan karena air di tempatku hanya hidup di malam hari.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s