Ngepos via Hape

Belum Beruntung

Mungkin tak pernah terpikir bahwa diluar sana banyak orang yang tak seberuntung kita. Sebab bisa jadi kita sering hanya melihat orang-orang beruntung yang mempunyai hal lebih dari apa yang kita miliki. Ini bukan soal rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput sendiri. Tapi ini adalah persoalan dimana setiap orang harus belajar menghargai apa yang dimiliki dengan mensyukurinya, walaupun tidak menyukai itu.

Sejujurnya, tadi siang saya cukup terhenyak menyaksikan siaran televisi yang menayangkan seseorang yang memiliki keterbatasan fisik, masyarakat menyebut mereka dengan orang kerdil. Orang kerdil tersebut tinggal di sebuah desa terpencil di Afrika, bahkan ia merasa dirinya adalah satu-satunya orang kerdil di dunia ini. Pikiran itu disebabkan kerana ia tak pernah bersentuhan dengan dunia luar sehingga ia merasa kehilangan kepecayaan diri. Namun, setelah dibawa ke kotaΒ  dan dipertemukan dengan beberapa orang kerdil, ia menemukan jati dirinya.

Hidup sebagai orang kerdil bukanlah pilihannya. Jika diberi pilihan, mungkin ia akan memilih terlahir seperti orang normal. Begitulah takdir, terkadang tak bisa dipilih. Namun pilihan yang diberikan Tuhan harus dijalani dengan penuh syukur.

Bagaimana dengan kita yang telah diberikan pilihan oleh Tuhan dengan keberuntungan. sebagian orang mungkin sudah terbiasa naik pesawat terbang, rasanya seperti naik mobil saja. Jika mau sedikit saja membuka pikiran, hal yang biasa dilakukan merupakan sesuatu yang sangat luar biasa bagi orang-orang di luar sana. Jangankan naik pesawat, melihat mobil saja mereka tidak pernah.

Orang-orang seperti ini begitu banyak. Namun dengan konteks yang berbeda, bisa jadi mereka tidak memiliki facebook, twitter, path dan instagram. Padahal mereka begitu dekat dengan kita. Lantas menyebut mereka ketinggalan zaman. Betapa perlu sikap menghargai dan tidak memandang orang lain lebih rendah dari kita.

Apa bedanya orang kerdil, orang yang tak pernah naik pesawat dan orang yang gagap teknologi. Hanya konteksnya yang berbeda tapi subtansi semuanya sama. Mereka belum beruntung. Ada banyak lagi konteks yang tak pernah terduga sebelumnya. Tapi semua adalah ketidakberuntungan yang belum menghinggapi diri mereka.

Keberadaan orang-orang seperti itu merupakan pelajaran berharga untuk lebih bersyukur lagi atas apapun yang dianugerahkan Tuhan pada kita.

image
Suatu Malam di Atas Kapal Jelatik
Iklan

10 thoughts on “Belum Beruntung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s