Ngepos via Hape

Ceramah Ustadz Wijayanto Dihentikan Oleh Hujan

Bagi masyarakat di daerah, kedatangan seorang artis adalah sesuatu hiburan terbesar. Selama ini mereka hanya bisa melihat sosok idola dalam televisi. Berbeda dengan orang jakarta yang begitu mudah melihat artis di pusat perbelanjan atau mall. Makanya ketika ada artis yang datang dari jakarta, masyarakat tumpah ruah berkumpul menyaksikan hiburan yang jarang mereka nikmati.

Fenomena itulah yang dijumpai disini, sebuah kota kecil di kepulauan meranti. Bahkan hampir tiap tahun, ketika ulang tahun kabupaten meranti, pemerintahan daerah selalu mendatangkan artis dari jakarta. Bukan hanya artis, pemerintah setempat juga mengundang dai kondang yang sedang terkenal di televisi.

Pada tahun ini yang datang adalah Charly mantan vokalis. ST12 dan dua orang artis dangdut KDI yakni Nazar dan satu lagi saya lupa namanya. Sementara untuk dai kondang yang di datangkan pada tahun ini adalah ustadz Widjayanto untuk ngisi ceramah pada tablig akbar.

Malam kemaren udah diajakin buat nonton konser charly dan dangdut. Tapi saya tidak terlalu bersemangat, sehingga lebih memilih tidur di rumah aja. Namun, pas giliran tablig akbar maka saya begitu semangat ngajak teman-teman kantor buat nonton. Sebab yang ceramah adalah ustadz Widjayanto yang katanya kocak dalam menyampaikan materi.

Kalau ndak salah saya belum pernah dengar beliau ceramah di televisi, kalaupun ada dengar itupun saya gak ngeh kalo itu ustadz Widjayanto. Makanya saya begitu penasaran dan semangat ngompori kawan yang lain buat ikut nonton.

Awalnya rencana hampir batal karena tak ada motor buat berangkat. Untung ada kawan yang mau jemput ke rumah. Berangkatlah kami ke tempat acara, sebelum sampai tujuan sudah terasa air menetes dari langit. Wah, gelagat mau hujan rupanya.

Langkah kami tidak surut, jauh-jauh hanya pengen ngobatin rasa penasaran dengar ceramah ustadz Widjayanto. Baru awal ceramah aja para penonton udah dibikin ketawa dengan joke cerdas beliau. Namun beliau ngasih ceramah yang sangat singkat karena kondisi yang tak memungkinkan. Hujan lebat mengguyur kota meranti malam itu.

Mulanya cuma gerimis, sehingga pak ustadz ikut hujan-hujanan bersama sebagian penonton di lapangan terbuka. Sementara sebagian lain ada yang duduk dibawah tenda. Ceramaah tetap dilanjutkan walau air terus mengalir dari langit. Tampak masyarakat sangat antusias dan tetap bertahan meski gerimisnya seperti setengah hujan. Dibilang lebat sih gak juga, dikatakan gerimis pun tidak.

Mata saya tertuju pada seorang lansia yang berdiri di depan saya, persis dibawah tenda. Entah penonton terlalu asyik dengar ustadz berceramah sehingga beberapa orang disitu lupa ada seorang nenek yang harus dikasih kursi untuk duduk. Nenek itu berpegangan pada sebuah kursi disampingnya sambil mengusir hawa dingin.

Ketika hujan sedikit mereda, nenek tersebut beranjak ke depan panggung. Di depan tidak ada tenda, penonton duduk bersila dibawah awan hitam. Nenek itupun duduk bersila pada tanah yang sebelumnya sudah dialas karpet oleh panitia. Tak lama berselang hujan kembali deras, si nenek berangsur lagi ke belakang sambil mencari tempat berteduh. Usahanya tidak berhasil sebab hujan kian deras.

Karena kondisi yang sangat tidak memungkinkan, pak ustadz mengakhiri cermahnya meskipun belum semua materi disampaikan. Ditengah hujan yang begitu lebat, ustadz Widjayanto menutup tablig akbar dengan doa singkat.

Penonton yang sudah basah langsung beranjak pulang. Sementara sebagian lainnya nunggu hujan teduh dulu di bawah tenda. Hanya beberapa menit saja hujan kembali mereda, bahkan bisa dikatakan hujan berhenti tak lama berselang setelah tablig akbar di tutup. 

Banyak penonton yang tampak kecewa karena hujan membuat mereka tidak bisa mendengarkan ceramah ustadz Wijayanto secara utuh. Tetapi kekecewaan itu mengandung hikmah yang amat besar.

Jika sebelumnya hujan begitu dinanti oleh masyarakat disini karena ketergantungan pada air hujan untuk mandi, masak dan minum. Malam itu hujan memang tidak diharapkan, tapi Tuhan tahu mana yang dibutuhkan umatNya meski tidak sesuai dengan harapan manusia. Hujan lebat yang begitu singkat itu amat dibutuhkan sebagian besar masyarakat untuk mengisi tong air di rumah mereka.

image

Iklan

4 thoughts on “Ceramah Ustadz Wijayanto Dihentikan Oleh Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s