Ngepos via Hape

Duduk Sendiri Di Tengah Keramaian

Di bibir selat, berdiri sebuah kedai kopi yang selalu ramai dikunjungi orang setiap pagi menjulang.  Pengunjung datang dan pergi, bagaikan perguliran siang dan malam. Segudang cerita tersimpan disini. Dikemas dalam bungkus senyum dan tangis, bahagia dan sedih, bahkan penuh canda dan tawa.

Ada satu cerita yang tak pernah usang, yakni cerita masa depan. Cerita yang penuh dengan harapan, namun selalu menciptakan kegelisahan. Batapa banyak yang menyimpan rasa takut dalam hati. Akankah esok mereka dapat meminum segelas kopi yang sama.

Saya merasa inilah sebuah cerita yang dibicarakan semua orang. Ketika Tuhan bersumpah demi masa, ketika itu pula keyakinan diuji. Apakah yakin atau tidak, dimana akan tiba suatu masa kita akan kembali pada Nya.

Tiba-tiba pikiran saya menuju sebuah kesunyian di sudut kedai kopi. Duduk di meja bernomor 14 dengan kursi tanpa sandaran. Saya merasakan ruang hampa yang sekejap menyelinap dalam qalbu. Inikah saat dimana saya harus duduk sendiri di tengah keramaian. Mendengar suara ombak pasang yang tidak henti bernyanyi.

Coba dengar baik-baik dan perhatikan, kenapa ombak berlari menuju pantai lalu surut kembali. Entah kenapa saya berpikir bahwa perasaan ini bagaikan ombak. Ombak tak akan bisa pasang dan surut dalam waktu yang bersamaan, pasti bergilir antara pasang lalu surut dan sebaliknya. Begitupun dengan perasaan, kita tidak akan pernah merasakan bahagia dan sedih dalam satu waktu. Bukankah itu seperti pergantian siang dan malam.

image

Iklan

4 thoughts on “Duduk Sendiri Di Tengah Keramaian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s