Ngepos via Hape

24 Jam di Batam

Apa bedanya matahari disini dengan matahari disana. Sama saja bukan? Hanya tempat kita melihat saja yang berbeda, matahari tetap berada di posisinya. Sama halnya seperti hati yang selalu bersemayam di dada.

Sabtu yang indah, memandang mentari pagi dengan ditemani secangkir kopi. Tepat pukul 07.30 WIB aku beranjak dari kedai kopi menuju bibir kapal Batam Jet. Kapal tersebut berlayar dari Selatpanjang ke Batam. Duduk di kursi kelas ekonomi dengan harga tiket 150.000 per orang.

Berhubung baru pertama naik kapal ini dan baru kali ini juga pergi ke batam, maka aku memilih kursi yang berada tepat disamping jendela. Tujuan memilih kursi tersebut untuk melihat pemandangan di sepanjang perjalanan.

Betapa takjubnya diri ini, betapa indahnya Indonesia. Terhampar pulau-pulau kecil yang belum pernah dipandang mata. Dunia ini memang tak sesempit yang aku bayangkan.

Selepas dari Selatpanjang, pelabuhan yang pertama disinggahi adalah Tanjung Samak. Kemudian kapal berhenti menurunkan penumpang di pelabuhan Tanjung Balai Karimun. Selanjutnya berangkat kembali menuju batam. Tiba dipelabuhan Sekupang, Batam sekitar pukul 11.30 WIB.

Sekeluar dari area pelabuhan banyak sopir taksi dan tukang ojek yang menggoda untuk menaiki kendaraan mereka. Berbekal informasi dari seseorang, aku memutuskan naik bis Trans Batam saja untuk menuju pusat kota Batam. Lagian ongkos bis jauh dekat hanya 4.000 untuk umum dan 2.000 bagi pelajar/mahasiswa.

Dari Sekupang naik bis Tujuan batam center. Setiba di batam center pilihan tertuju pada sebuah mall sembari menunggu jemputan dari kawan yang sudah bertahun domisili di Batam. Beberapa waktu kemudian kawan yang di tunggu datang dan dia bingung mau dibawa kemana.

image
Menara Mesjid Jabal Arafah

Soalnya waktu itu lagi lapar, jadi nanya sama dia tempat wisata kuliner yang enak. Seribu sayang, si kawan bingung mau bawa aku kemana. Takutnya gak cocok sama selera sang tamu. Saking bingungnya, akhirnya keputusan jatuh pada nasi padang juga. Tapi di rumah makan padang yang enak menurut versi si kawan.

Setalah makan siang di waktu sore, kami segera keliling kota batam. Ketika waktu ashar datang, kami singgah di mesjid Jabal Arafah yang dibangun oleh seorang pengusaha batam keturunan minang. Yang menarik dari mesjid ini adalah menaranya.

image
Tiket Naik Menara

Setiap jamaah bisa naik keatas menara untuk melihat pemandangan kota Batam. Selain kota batam, diatas menara tersebut kita dapat melihat kota singapura. Diatas menara sudah disediakan beberapa teropong untuk melihat pemandangan. Untuk bisa naik ke menara dikenakan biaya sebesar 5000.

Setelah itu kembali lagi keliling kota batam. Berhubung waktu yang terbatas, jadi tak sempat pergi ke jembatan barelang. Karena udah malam, maka kami pulang dan si kawan mengantarkan ke rumah saudara ku di batam. Menginap disana sambil bercengkrama hingga tengah malam.

Esok paginya bingung lagi mau pergi ke mana. Akhirnya memilih di rumah aja hingga siang. Pas minggu siang jam 11.00 WIB berangkat lagi ke pelabuhan sekupang, naik kapal dan kembali ke selatpanjang.

24 jam sangatlah singkat, tidak cukup rasanya menjelajahi sisi kehidupan di batam. Namun, waktu selama itu sangatlah cukup untuk menarik pelajaran hidup yang membuat kita semakin dekat dengan Nya.

image

Iklan

14 thoughts on “24 Jam di Batam

      1. Maklum sih.. dinas saya juga mendadak kemarin.. saya aja belum nulis cerita batam bgmn malah keduluan Ajo… saya dari Padang naik pesawat dan memang subhanallah pemandangan dari udara lihat kepulauan riau memang bagus…

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s