Ngepos via Hape

Prespektif Lain Dari Tanggung Jawab

Sepertinya, selama ini saya cukup keliru memahami makna dari tanggung jawab. Saya berpikir seseorang bisa menjadi tanggung jawab diri kita. Mungkin narablog sekalian dapat membantu saya untuk memahaminya.

Cerita berawal dari tadi siang ketika pergi ke sebuah toko buku. Saya lupa judul bukunya. Disitu saya tertarik pada pembahasan tentang tanggung jawab. Dimana penulis mengatakan bahwa “kita bertanggung jawab pada diri sendiri, bukan pada orang lain”. Kalaupun ada seseorang yang merasa orang lain merupakan tanggung jawabnya, itu berarti ia telah merampas sebagian dari diri orang itu.

Contohnya tanggung jawab orang tua kepada anak. Banyak diantara kita sepakat dengan pernyataan itu. Namun, tidak selamanya tanggung jawab itu melekat pada orang tua. Tanggung jawab orang tua hanya sampai pada masa anak itu mandiri, dimana mandiri itu adalah sang anak sudah tiba masa ia bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Islam menyebut dengan istilah balig.

Analoginya seperti bapak yang mengajarkan anaknya berjalan. Jika tak mau anak tersebut terjatuh, maka si bapak harus memegang tangannya sampai ia bisa berjalan sendiri. Seandainya si bapak memegang terus tangan si anak hingga anak itu dewasa, maka sang anak tak akan pernah pandai berjalan.

Itu berarti si bapak telah marampas hak sebagian dari diri anaknya, sehingga sang anak tidak bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Si anak tak bisa berjalan, tidak bisa mandiri dan terus bergantung pada kedua orang tua mereka.

Hal ini senada dengan pesan dalam Al Quran yang menyatakan bahwa “seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.” (QS 17 : 17) Masing-masing kita bertanggung jawab pada diri kita sendiri.

Sekecil apapun perbuatan yang dilakukan di dunia ini, kelak akan dipertanggung jawabkan di akhirat. Bahkan niat yang terbetik dalam hati sekalipun akan mendapatkan ganjaran di akhirat. Tuhan telah menugaskan dua malaikat untuk mencatat semuanya, dimana catatan itu akan dibuka dan dipertanggung jawabkan.

Oleh sebab itu, jikalau boleh menyimpulkan maka saya menilai bahwa surga bukanlah tempat menyenangkan dan neraka bukanlah tempat penyiksaan. Kedua tempat itu adalah tempat pertanggung jawaban atas setiap amal perbuatan dari setiap makhluk Nya.

Hal ini selaras dengan surat ar Rahman dimana surga merupakan nikmat Allah dan neraka pun juga nikmat Allah yang berulang kali tertulis disana.

Bukankah menanam pohon apel akan berbuah apel juga. Pohon apel tidak pernah menghasilkan buah jeruk. Sesorang akan mempertanggung jawabkan apa yang telah diperbuat semasa hidup.

Kita bertanggung jawab pada diri sendiri, orang lain bertanggung jawab pada diri mereka sendiri.

Iklan

9 thoughts on “Prespektif Lain Dari Tanggung Jawab

  1. Setuju sekali dg makna tanggung jawab yg Ajo paparkan. Emmmmm, sepertinya yaumul hisab lebih tepat dijadikan tempat pertanggung-jawaban, karena disanalah segala catatan perbuatan kita di-sidangkan, disanalah penentuan dimana kah kita ditempatkan, surga atau neraka. Surga sudah pasti menyenangkan tho ?, Surga adalah reward, kehidupan abadi yg tak ada duka, melainkan kebahagiaan dan keindahan yg tidak bisa dibayangkan. Dan, neraka sudah pasti menyiksa karena itu adalah seburuk-buruknya tempat pembalasan yg pedih.

    Suka

    1. Yups, klo sy lebih memahami yaumul hisab sebagai masa penghitungan (pengadilan). Ketika masing masing sudah dihitung, maka kemudian akan digiring sesuai amal perbuatan. Sehingga perhitungan itu nanti akan dipertanggung jawabkan di tempat masing masing, baik surga maupun neraka. Ibarat seorang penjahat yang diadili di pengadilan, bukankah tempat ia mempertanggung jawabkan perbuatanya di penjara?
      Terkait dg surga memang di gambarkan dalam al quran sebagai tempat menyenangkan dan neraka tempat yang menakutkan. Makanya dalam Al Quran Allah selalu menyandingkan keduanya. Seperti dalam surat ar rahman. Bukankah dalam surat ar rahman gambaran tentang neraka itu disebut juga dengan nikmat. Sementara selama ini kita memahami nikmat adalah hal yang “menyenangkan”.

      Suka

  2. Saya setuju kecuali tentang surga dan neraka. Pada dasarnya tentang neraka dan surga bener, tapi saya punya pendapat lain nih. Pada artikel kali ini saya baca “surga bukanlah tempat menyenangkan dan neraka bukanlah tempat penyiksaan. Kedua tempat itu adalah tempat pertanggung jawaban”.

    Saya berpemahaman, surga itu tempatnya orang yang senang, bahagia dan bergembira. Mengapa? Karena sebenarnya waktu untuk mempertanggung jawabkan itu sebelum masuk ke dalamnya. Dalam beberapa literatur (lupa tapi literaturnya 😀 ) banyak disebutkan bahwa kita akan dikumpulkan di padang mahsyar, nah pada saat itu akan kita pertanggung jawabkan semua amalnya. Bila sudah, katakanlah kita selamat, baru kita masuk surga. Nah, disurga ini kita dapat menikmati segalanya dengan rasa senang dan gembira tampa beban apapun tidak terkecuali urusan pertanggungjawaban tentang hidup sewaktu di dunia.

    Jika surga sebagai tempat pertanggungjwaban, bisa jadi orang yang masuk surga masik memiliki rasa cemas dan lain sebagainya, sedangkan surga itu adalah tempat yang serba indah dan nyaman. Terbukti dulu ketika ada seorang nenek yang bertanya kepada nabi, nenek itu bertanya, “Apakah saya akan masuk surga ya Rasul?”

    “Tidak!!” Demikian jawab rasul. Lalu nenek itu menangis tersedu2 karena takut akan siksa yang baginya tidak akan sanggup menerimanya. Lalu Rasul menjelaskan, bahwa di dalam surga tidak ada orang sepuh yang renta. Nanti kita akan dijadikan muda kembali agar tampak lebih indah dan menyenangkan.

    Maaf, saya tidak tahu apa-apa, hanya inilah yang saya mengerti. Salam silaturrahim. 🙂

    Suka

    1. Terima kasih masdjie atas tanggapannya. Pertanyaannya hampir sama dengan pernyataan eka diatas, mungkin komentar saya diatas bisa sedikit menjawab.

      Sekali lagi disini saya menekankan bahwa neraka juga merupakan nikmat dari Allah, sebagaimana surga. Selama ini kita memahami nikmat sebagai hal yang “menyenangkan”. Tapi kenapa Allah menyebut neraka sebagai nikmat seperti yang tertuang dalam surat ar rahman yang membahas neraka beberapa kali.

      Oleh sebab itu, Rabiah Al Adawiyah seorang sufi perempuan berdoa jika ia beribadah karena mengharapkan surga maka keluarkan ia dari sana. Jika ia beribadah mengharapkan neraka maka bakarlah ia dengan api neraka. Disinilah ia dikenal dengan konsep cinta pada Nya (mahabah).

      Terkait dengan rasa cemas, rasa takut dan khawatir. Sekali lagi saya menekankan bahwa di surga tidak adalagi perasaan seperti itu. Sebab perasaan itu bersumber dari nafsu. Di surga, penghuni surga tidak lagi memiliki nafsu. Mereka akan merasakan ganjaran atas amal perbuatan baik yang dilakukan semasa si dunia.
      Bukankah seseorang itu sudah dikatakan bertanggung jawab bila ia telah mendapat ganjaran atas apa yang mereka perbuat. Surga dan neraka itulah tempat menerima ganjaran tersebut

      Salam

      Suka

  3. Saya lebih menggarisbawahi pada proses. Sejauh kita (orang tua) masih memiliki tanggungjawab kepada Anak, tetangga, atau sodara, maka kita memang masih memiliki tanggungjawab kepada mereka…

    Karena itu, pada satu sisi, apa yang Ajo tuliskan di atas soal tanggungjawab, saya sangat setuju. Meski dalam konteks kehidupan berbangsa, saya kira sulit menerapkan model pertanggungjawaban seperti di atas…

    Salam dari Purbalingga

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s