Ngepos via Hape

Menenun Pakaian Taqwa di Bulan Ramadhan

image
Sumber gambar dari fanpage Dr Bilal Philips

Tujuan akhir dari puasa adalah membangun taqwa, yakni kesadaran pada Tuhan yang ada dalam diri manusia. Jadi ingat dengan tulisan yang pernah ditulis tentang “perempuan yang membuat tenunan kemudian mengurai kembali setelah tenunan itu kuat.” Jadi puasa bagaikan menenun pakaian taqwa.

Apa itu taqwa? Taqwa itu semacam rasa takut pada Tuhan. Jika rasa takut pada manusia membuat seseorang menghindar. Maka rasa takut pada Tuhan semakin membuat seseorang dekat dengan Nya. Ketakutan pada Tuhan itu diwujudkan dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Fenomena yang terlihat selama ramadhan semakin mempertegas bahwa banyak orang yang berbondong- bondong merajut pakaian taqwa. Menjalankan ibadah puasa, shalat tarawih ke mesjid, bersedekah, zakat, baca Al Quran dan berbagai amal lainnya. Mesjid pun hampir tiap malam disesaki pengunjung.

Namun setelah ramadhan berlalu, apakah kebajikan tersebut akan terus berlanjut.? Silahkan jawab sendiri, karena hanya diri sendiri yang tahu jawabannya.

Saya pribadi coba merenungkan makna dari ramadhan ini. Hampir berapa ramadhan yang telah terlalui, saya tak sanggup lagi menghitung. Rasanya hampir setiap ramadhan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas. Saya seperti menenun pakaian, tapi setelah pakaian itu jadi saya pun mengurai kembali benang yang telah dirajut.

Sudah bersusah payah selama tiga puluh hari menenun pakaian. Ketika tiba pada masa kemenangan pakaian baru itu pun dipakai di hari raya. Jika tak mampu merawat dan menjaga pakaian tersebut, maka dengan mudah pakaian itu akan robek.

Saya sangat suka dengan analogi pakaian ini. Ramadhan adalah waktu yang tepat bagi setiap orang yang beriman untuk membangun ketaqwaan. Membangun taqwa itu seperti membuat pakaian. Menenun pakaian taqwa selama tiga puluh hari, lalu memakainya di hari idul fitri.

Bisakah pakaian taqwa itu terus melekat tanpa rusak sedikitpun hingga tiba ramadhan di tahun berikutnya. Di ramadhan berikutnya itu pula kita diberi kesempatan untuk kembali merajut pakaian taqwa hingga berlapis-lapis sehingga api neraka tak mampu membakar kulit orang beriman yang telah dilindungi oleh pakaian taqwa yang dibuatnya semasa hidup di dunia selama bulan ramadhan. 

Iklan

11 thoughts on “Menenun Pakaian Taqwa di Bulan Ramadhan

  1. Untuk menilai apakah diri kita sudah bertakwa atau tidak adalah dengan mengingat kematian. Saat kita ingat kematian lalu tersirat keraguan dalam hati ‘walau sedikit’ saat harus meninggalkan dunia, maka kita belum bertakwa. Saat kita ingat kematian, lalu tersirat kerinduan dan ingin dicabut nyawa saat ini juga, maka insya allah kita sudah bertakwa.

    Suka

  2. Seharusnya memang seperti itu ya Ajo, tidak melepaskan kebiasaan-kebiasaan baik selama Ramadhan ke bulan-bulan berikutnya. Tapi manusia kan tempatnya khilaf dan dosa, karena itulah Allah yang Maha Bijaksana menganugerahkan bulan Ramadhan sebagai momen yg tepat untuk mencuci dosa dan memperbarui semangat.

    Suka

  3. Alhamdulillah, terima kasih mas artikelnya yang cukup membangun hasrat merajut pakaian taqwa, saya juga suka analogi pakainnya, cukup inspiratif.. *100 point untuk masnya 🙂

    Terima kasih yang kedua, saya jadi juga tergerak untuk menulis artikel yang senada setelah koment disini. Saya berharap kunjungan baliknya ya,, sekaligus follback yah… 🙂

    Salam silaturrahim dari Madura 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s