Ngepos via Hape

Menunda Bayar Hutang

“Penundaan pembayaran utang bagi yang mampu adalah kezaliman,” Begitu sabda Nabi saw.

Kata diatas saya kutip dari tulisan Prof. Quraish Shihab di situs resmi http://www.quraishshihab.com dalam sebuah artikel yang berjudul keadilan. Disana banyak sekali tulisan berkualitas meski situs ini baru launching di dunia maya belakangan ini.

Membaca sepenggal hadist diatas membuat saya terhenyak dan mencoba untuk intropeksi diri. Apalagi belakangan ini sedang penasaran memahami kezaliman. Saya berpikir bahwa pelanggaran Nabi Adam mendekati dan memakan buah khuldi merupakan larangan mendekati kezaliman yang disimbolkan dengan pohon.

Untuk itu saya jadi tertarik untuk menggali apa itu kezaliman. Nah, kebetulan saya bertemu dengan artikel berjudul keadilan yang ditulis oleh Quraish Shihab. Salah satu paragraf dalam artikel tersebut memberikan sedikit titik terang tentang kezaliman itu.

Menunda bayar utang bagi yang mampu membayar adalah salah satu bagian dari kezaliman. Prilaku seperti ini pernah saya alami, baik sebagi orang yang berhutang maupun sebagai orang yang memberi hutang.

Pertama saya akan cerita tentang memberi hutang. Dalam hidup sosial tentu kita tidak bisa lepas dari hutang piutang. Meski ada sebagian orang yang berupaya tidak berhutang. Tapi ada juga sebagian orang yang terpaksa berhutang.

Nah, disini ada seorang teman yang berhutang pada saya. Jumlahnya sih gak terlalu besar, jika dibandingkan dengan gaji yang diterima teman tersebut. Jika dipersenkan, hutangnya hanya 5% dari gajinya.

Namun, taman saya ini udah satu tahun enam bulan gak bayar hutang. Ketika ditagih, ia masih saja berkelit dengan beribu alasan. Sepertinya ia tidak ada niat untuk bayar hutangnya. Padahal ia mampu membayar, bukankah hal itu bisa disebut dengan kezaliman.

Disisi lain saya pun tak bisa lepas dari hutang. Sedapat mungkin saya menghindari berhutang. Tapi jika berhutang dapat memberikan manfaat dan kebaikan, tak salah juga khan berhutang. Menurut ilmu perencanaan keuangan, hutang tidak boleh lebih dari 30% dari pendapatan. Hal ini berfungsi agar cash flow keuangan tidak terganggu.

Saat ini hutang saya tidak lebih dari 3% dari penghasilan. Itupun hanya hutang pulsa, karena kebetulan ada teman yang jual pulsa sambil kerja. Jadi ia jual pulsa sebagai kerjaan sampingan aja. Nah disini saya sering ngutang dulu kalau beli pulsa. Jika hutangnya sudah mencapai angka tertentu barulah dibayar.

Seharusnya saya bayar langsung biar gak ngutang. Tapi godaan untuk berhutang pulsa itu sulit untuk dibendung. Celakanya saya malah nunda bayar sampai hutang pulsa tersebut sampai pada nominal tertentu. Padahal saya sanggup untuk melunasinya. Bukankah hal itu disebut juga nunda bayar hutang padahal mampu membayar, itulah kezaliman.

Pernahkah narablog menunda bayar hutang, padahal mampu membayarnya? Atau mungkin narablog berada pada kondisi memberi hutang dan orang yang dikasih hutang selalu menunda pembayaran padahal ia mampu melunasi hutangnya.

Iklan

12 thoughts on “Menunda Bayar Hutang

  1. Subhanallah, ane diingatkan kembali…
    Alhamdulillah, hutang saat ini tidak ada. Hanya hutang traktiran hari jadian sama istri aja kemarin yang belum di bayar 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s