Ngepos via Hape

Pernahkah Kamu Jadi Pemulung

Saya selalu takjub melihat semangat para pemulung. Setiap pagi mereka berjalan kiloan meter mengais keberuntungan. Pagi ini saya kembali melihat pemulung perempuan separuh baya. Dengan cekatan ia mengumpulkan botol plastik dan karton bekas.

Tiba-tiba ingatan saya kembali pada masa kecil. Masa dimana saya dan kawan-kawan pernah bermain mencari karah (plastik) bekas. Ada ember pecah, tutup odol, besi berkarat yang waktu itu kami dapatkan.

Lalu barang-barang itu kami jual pada tukang karah. Tukang karah adalah sebutan bagi penampung barang-barang bekas. Hasil penjualan barang bekas tersebut cukup menambah uang jajan.

Betapa senang hati ku kala itu bisa mendapatkan uang tanpa pemberian orang tua. Kini aku sadar rasa senang ku itu masih dirasakan oleh orang-orang yang tidak lagi disebut dengan anak kecil. Mereka dinamai dengan pemulung.

Bisa jadi sebagian dari kita berpandangan bahwa memulung adalah pekerjaan yang rendah. Mungkin ada sebagian kecil yang menilai pemulung adalah profesi yang hina, kotor dan jorok.

Jika dibandingkan dengan profesi lain seperti dokter, pedagang, pengacara dll, pemulung memang tidak membutuhkan keterampilan berpikir dalam bekerja. Siapapun bisa melakukannya, hanya butuh tenaga.

Namun, tidak dapat dipungkiri dalam masyarakat pemulung sering kali dicurigai. Apalagi pemulung ini beroperasi sebelum waktu subuh. Barang yang tadinya masih bagus langsung diembat oleh oknum pemulung yang tidak bertanggung jawab.

Saya percaya, tidak semua pemulung melakukan tindakan tercela seperti itu. Masih ada yang tetap memegang teguh kejujuran dengan kesederhanaan. Kalaupun ada oknum pemulung yang nakal, itu bisa jadi terpaksa dilakukan untuk sekedar makan.

Pernahkah narablog semasa kecil bermain mencari barang-barang bekas untuk dijual atau di recycle!

Iklan

29 thoughts on “Pernahkah Kamu Jadi Pemulung

  1. Pernaaaaaaahhh, kalo aku cari botol bekas sirup/aqua. Nanti aku tukar sama mainan gambar-gambar ke tukang Karah keliling. Gara-gara main cari karah, aku jd item bgt dan pulang2 diomelin. Kekekkeeke…

    Suka

      1. Iya Mas Iwan… Temanku jago banget apal gambar dan angkanya… 🙂

        Adek2 sepupuku yang sekarang udah smp dan sma, kayanya juga masih main itu juga deh di kampung, hehe.

        Suka

  2. Sekarang aku berusaha pisahin sampah ajo, jadi kalau ada yang masih berguna biar langsung di ambil sama yang membutuhkan ..

    Kalau loak biasanya koran itu juga di kumpulin banyak dulu baru di jual 🙂

    Suka

  3. Kalo kerjaan gue emang salah satunya memilah sampah, jadi bukan mulung. soalnya di perusahaan gue emang udah banyak sampahnya dan harus dipilah, selain peduli lingkungan juga buat nambah uang. :p hehee
    Iya! nggak semua pemulung itu jelek ato jahat. Aku pernah dengar kok! ada petugas sapu jalan , yang nyambi jadi pemulung, dia malah jadi seorang dermawan yang menyumbang bagi banyak orang yang membutuhkan. padahal dia sendiri hidup dalam keadaan yang amat sederhana. 😀 nice post!

    Suka

  4. pernah waktu SMA jadi kelompok sahabat sampah….hehehe…tapi jadi manfaat karena akhirnya pas kuliah bisa ngajarin anak2 di rumah belajar ku buat daur ulang sampah juga…

    Suka

  5. Waktu kecil dulu ada permainan “lopis” namanya. Yakni kertas bekas bungkus rokok yang dilipat sedemikian rupa hingga membentuk segitiga. Permainannya adalah dengan meletakkan lopis-lopis yang menjadi modal dari masing-masing peserta di suatu tempat, kemudian dari jarak yang telah ditentukan, pserta akan melempar dengan sandal. Seberapa banyaknyang keluar dari lingkaran, itulah yang menjadi milik si pelempar. Nilai masing-masing lopis itu berbeda-beda, disesuaikan dengan harga rokoknya. Semakin mahal harganya, semakin tinggi nilainya.

    Nah, untuk bisa memiliki lopis yang banyak, saya dan teman-teman pun menjadi “pemulung” berkeliling kampung untuk mencari bungkus rokok bekas tersebut.. 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s