Ngepos via Hape

Kenapa Ical Merapat ke Prabowo?

Kali ini saya akan coba untuk posting perihal politik. Sudah lama memang tidak menuliskan persoalan satu ini. Suatu bidang yang dulu membuat saya tertarik untuk mengenal lebih dalam dengan menekuninya secara akademis.

Entah kenapa selepas kuliah saya seakan lari dari hal yang berbau politik. Dari blog ini saja sudah tergambar jelas bahwa saya jarang, mungkin bisa dikatakan hampir tidak pernah menuliskan tentang politik.

Padahal dalam kehidupan sehari-hari, secara tidak langsung saya telah mempraktikan hakikat politik itu sendiri, seperti di keluarga dan lingkungan pekerjan. Namun, untuk politik secara luas dalam bernegara saya hanya mengikuti perkembangan saja.

Kenapa kali ini tergerak menuliskan soal politik. Itu tak lain karena tadi sore lihat di tv pendeklarasian salah satu pasangan capres-cawapres, yaitu Prabowo-Hatta. Pagi harinya sudah dideklarasikan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. Jadi udah dapat dipastikan yang bertarung pada pilpres adalah dua pasangan tersebut, karena di penghujung waktu partai Golkar merapat ke pasangan Prabowo-Hatta.

Saya berpikir akan lebih seru jika Golkar dan Demokrat membentuk poros baru. Tapi realitas menempatkan Golkar pada kubu prabowo. Tentu partai Golkar mempunyai hitungan sendiri, sebab partai peraih suara dua terbesar ini tak mendapatkan kursi cawapres padahal suaranya lebih banyak dari PAN.

Apa mungkin Golkar menjaga “gengsi” karena ogah menduduki cawapres bila capresnya adalah partai yang suaranya di pileg dibawah Golkar. Boleh jadi Golkar tidak mendapatkan dua kursi tersebut, tapi di kabinet akan minta jatah β€œkue” yang lebih banyak dari partai lain.

Sebab kalau tidak terpenuhi bisa jadi di parlemen Golkar akan jadi “duri” dalam daging bagi Prabowo bila pasangan ini memenangkan pilpres. Bila Prabowo kalah dan Jokowi yang menang, apakah Golkar akan menjadi partai oposisi murni.

Bagaimana mungkin Golkar akan jadi oposisi murni, sementara kader mereka pak Jusuf Kalla duduk sebagai wakil presiden bila Jokowi menang. Seandainya tumpuk kekuasaan di partai golkar dipimpin oleh pendukung JK selepas kepemimpinan Aburizal Bakri (Ical), tidak tertutup kemungkinan Golkar akan jadi partai pendukung pemerintahan.

Saya cukup salut dengan keputusan Ical yang legowo menanggalkan egonya untuk menduduki kursi presiden. Setelah melewati lobi politik yang melelahkan dan katanya sudah menjalankan shalat Istikarah, Ical menjatuhkan keputusan mendukung Prabowo. Disini Ical tidak mengikuti seniornya di Golkar seperti Wiranto dan Kalla yang “memaksakan” diri maju pada pilpres pada pemilu 2004 dan 2009, dimana kedua senior Ical di golkar ini memiliki elaktabilitas yang rendah saat itu.

Meskipun demikian, ada suatu kepentingan dari Golkar yang tidak pernah terungkap pada publik dibalik komunikasi antara Ical dan Prabowo. Kalaupun Prabowo kalah, Golkar masih mempunyai peluang untuk merapat ke Jokowi karena mempunyai daya tawar yang kuat di parlemen.

Disinilah menariknya dunia politik, selalu ada kemungkinan. Tidak ada kawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Para politisi membungkus kepentingan ini atas nama kesejahteraan rakyat dan kemajuan bangsa Indonesia. Selama kepentingan itu tidak dikotori oleh kepentingan pribadi yang busuk, siapapun presiden yang terpilih tidak jadi persoalan.

Iklan

23 thoughts on “Kenapa Ical Merapat ke Prabowo?

  1. Setujuh
    aku buta politik namun aku mengikuti berita tentang politik ini, entah kita tau apa yang ada di benak bapak ical pertama dia sama gerindra lantas ke PDI sekarang gerindra lagi tak masalah mungkin di cari yang pas untuk partainya tinggal demokrat yang belum ada suara sedangkan besok adalah hari terahkir.

    iya tidak tolong koreksi kalau saya ada salah ya jo

    Suka

    1. Pilih yang terbaik di antara yang baik Mbak.
      Tapi kalau pada kondisi di mana pilihan yang ada tidak baik, maka pilihlah yang paling sedikit mudhorotnya πŸ™‚
      Jangan sampai kita memilih pemimpin yang tidak kapabel (ra iso popo) apalagi dia yang merupakan boneka asing. Nau’dzubillah.

      Suka

  2. Siapa pun pemimpinnya semoga bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik…mdh2an ga salah pilih..tampaknya juga butuh istikharah kaya’ pak Ical nanti kalo mau milih siapa yg jd presiden.. πŸ™‚

    Suka

  3. Dulu Indonesia pernah di pimpin oleh Sipil-sipil (Soekarno-Hatta) yang dikenal dengan dwi tunggal, dimana Indonesia termasuk Negara yang diperhitungkan dipercaturan politik dunia.
    Setelah puluhan tahun berlalu, bangsa inipun ingin masa-masa emas itu terulang kembali…………

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s