Ngepos via Hape

Biaya Hidup vs Gaya Hidup

Al Ghazali seorang filusuf Islam menulis bahwa kebutuhan dasar jasmaniah dari manusia itu cuma makanan, pakaian dan tempat tinggal. Kebutuhan lain selain itu tak lain merupakan dorongan nafsu saja sehingga lupa pada tiga kebutuhan dasar tersebut.

Hal ini senada dengan hadist Nabi yang menyatakan bahwa rezeki itu adalah apa yang habis kamu makan, apa yang kamu pakai hingga lapuk dan apa yang kamu sedekahkan. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Putra-putri Adam berkata ‘hartaku, hartaku’. Hai manusia, engkau tidak memiliki dari (apa yang engkau anggap) hartamu kecuali apa yang telah engkau makan hingga engkau habiskan, atau apa yang engkau pakai hingga engkau lapukkan, atau apa yang engkau sedekahkan sampai habis. Selain dari itu semuanya akan engkau tinggalkan untuk orang lain” (HR Muslim melalui Mutharrif).

Tak jarang kita sulit membedakan sesuatu yang dibutuhkan dengan sesuatu yang diinginkan. Sehingga keuangan sering jebol karena mengikuti dorongan nafsu dengan membeli barang yang sebetulnya tidak dibutuhkan.

Menariknya ada istilah yang sering saya dengar, yakni biaya hidup dan gaya hidup. Istilah ini sangat tepat sekali dikaitkan dengan pernyataan diatas. Biaya hidup adalah pengeluaran wajib yang harus dikeluarkan seperti untuk makanan dan minuman. Jika tidak dikeluarkan maka kita tak dapat lagi menyambung hidup.  Beda dengan gaya hidup, meskipun tidak kita keluarkan tetap saja bisa hidup.

Misalnya, nasi (makanan) adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, tanpa makan kita tidak akan bisa hidup. Oleh karena itu biaya untuk membeli nasi ini dinamakan dengan biaya hidup. Sedangkan gaya hidup bisa dicontohkan dengan pulsa, tanpa pulsa handphone kita memang tidak dapat berkomunikasi. Tapi kalau pun kita tidak membeli pulsa dan tak bisa berkomunikasi bukan berarti kita akan mati seperti pentingnya makan nasi.

Itu contoh sederhana. Faktanya dalam kehidupan sehari-hari masih sulit membedakan biaya hidup dengan gaya hidup, sesulit membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Ketika pergi makan, kita mungkin sering kali memilih “enaknya makan apa sih”, “makan dimana ya”. Padahal sesungguhnya dengan memakan sepiring mie ayam di gerobak kaki lima saja sudah cukup mengenyangkan, harganya cuma 10 Ribu. Karena terkendala gaya hidup, kita malah milih makan sepiring mie ayam di restoran mewah yang harganya 20 Ribu.

Apalagi ditengah serbuan dari kemajuan teknologi internet saat ini. Membuat gaya hidup semakin diprioritaskan daripada biaya hidup. Sebagian pecandu internet mungkin sudah memasukan biaya koneksi mereka sebagai biaya hidup karena saking ketergantungan pada internet. Padahal pengeluaran untuk internet itu hanyalah gaya hidup. Toh tanpa internet jasmani kita tetap hidup kok. Cuma jiwa aja yang sedikit resah karena udah terbiasa berselancar di internet.

Lebih penting mana sih antara biaya hidup dengan gaya hidup?

Iklan

30 thoughts on “Biaya Hidup vs Gaya Hidup

  1. Mestinya sih mendahulukan biaya hidup daripada gaya hidup. Uh uh uh susah sbenernya, apalagi perempuan yang naluriah suka cuci mata dan ujung-ujungnya beli printilan yg sebenernya nggak dibutuhkan 😦 😦

    Suka

  2. Gaya hidup hrsnya segaris dengan biaya hidup, jangan berlebihan ..sadar diri saja .. bisa menikmati gaya hidup tanpa harus menyiksa diri gitu… Kalau bisa siih hehe

    Suka

  3. biaya hidup penting untuk memenuhi kebutuhan kita. Tapi gaya hidup pun perlu ditopang untuk mengikuti kemajuan zaman. masa orang lain pake hape buat telepon saudaranya di luar pulau, kita masih harus berangkat menemui ke rumahnya dulu,,, hehe
    menurut saya gaya hidup juga bisa menjadi bagian dari biaya hidup asaaalll.. sesuai dengan kebutuhan.

    Suka

  4. lebih kerasa efeknya dengan teknologi yang semakin canggih ini adalah gonta ganti gadget yang kemudian sebenarnya perlu dipertanyakan… butuh gak sih gadget yang sampai segitunya… padahal kalau cuman ujung2nya hanya untuk fungsi biasa saja, ya sayang sangat yah

    ini juga sama halnya dengan fashion atau pakaian yang benar kata Ajo, cenderung ke gaya hidup yang lebih diperhatikan 🙂

    Suka

  5. asalkan gaya hidup terdukung dengan kemampuan financial, masih sah. Tidak boleh ada yang dipaksa-paksakan. Dan tentunya, tidak berlebihan. Standart2 ajalah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s