Ngepos via Hape

Selamat Memilih

image
TPS

Suatu hari, jauh sebelum hiruk pikuk demokrasi ini berlangsung. Saya bertanya pada beberapa orang teman. “Jika engkau kelak hidup sampai tua, apa yang akan engkau lakukan di hari tua mu?”. Dua orang teman yang saya tanya, kedua orang itu menjawab akan menjadi caleg (calon legislatif)

Jawaban yang membuat saya terkejut dan heran kenapa kekuasaan begitu di dambakan oleh penduduk negeri ini. Barangkali kita memang terlahir dengan potensi untuk berkuasa. Mempengaruhi orang lain sesuai dengan yang kita inginkan.

Saking ngebetnya berkuasa, ada sebagian yang rela mempertaruhkan hartanya. Bahkan bukan mustahil mereka yang ingin berkuasa menghalalkan berbagai cara, supaya memuluskan rencana yang ada dalam otaknya. Namun, masih ada segelintir orang yang ingin berkuasa karena panggilan jiwa.

Bukankah kepemimpinan itu begitu penting, sehingga ada sebuah riwayat bilamana berjalan tiga orang maka pilihlah satu orang sebagai pemimpin.

Pemilu adalah salah satu sarana untuk memilih pemimpin. Setelah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia, para sahabat melaksanakan pemilihan pemimpin dengan musyawarah. Meskipun selanjutnya terjadi silang sengketa diantara para pengikut sahabat tentang siapa yang layak memimpin mereka.

Di masa abad pertengahan kepemimpinan ditentukan oleh otoritas gereja, karena otoritas dianggap wakil Tuhan di muka bumi. Kepemimpinan spritual sekaligus merangkap pimpinan urusan dunia, sehingga menimbulkan pemberontakan karena kekuasaan telah melenceng dari jalur semula. Banyak terjadi penyalahgunaan kekuasaan, sehingga sebagian orang percaya bahwa politik dan agama itu harus dipisah.

Ketika agama tidak lagi melekat dengan politik, maka beberapa negara tumbuh dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Sementara di sisi dunia yang berbeda, masih banyak yang meributkan relasi antara agama dan politik.

Apapun itu, naluri politik akan selalu melekat pada diri manusia. Mungkin pemimpin yang dipilih tidak akan merubah apapun, tapi setidaknya kita sudah memilih atau memilih untuk tidak memilih (golput). Keduanya adalah pilihan politik yang tidak perlu diperdebatkan, karena untuk merubah apapun, termasuk negara ini, yang diperlukan adalah merubah diri kita sendiri.

image
Sumber gambar : facebook rang talu
Iklan

14 thoughts on “Selamat Memilih

  1. Aku nggak ngerti kalimat ini deh Ajo:
    Mungkin pemimpin yang dipilih tidak akan merubah apapun, tapi setidaknya kita sudah memilih atau memilih untuk tidak memilih (golput).

    Gambarnya lucu 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s