Ngepos via Hape

Kita dan Iblis

Hai kawan, kita dan iblis memiliki kesamaan. Dulu nenek moyang kita dan iblis sama-sama penghuni surga. Bahkan keduanya pun sama-sama dikeluarkan dari surga. Tak dapat dipungkiri bahwa kita dan iblis akan hidup berdampingan selama tiba masa waktu dimana semua akan binasa.

Bedanya iblis bersikukuh dengan keangkuhannya. Ketika diperintah Allah untuk sujud kepada Adam, iblis malah membangkang dengan kesombongan. Bahkan iblis memohon penundaan agar hidup hingga batas kehidupan dunia. Disinilah saya mulai sadar kawan bahwa suka menunda-nunda itu adalah sifat iblis.

Nalar iblis berkata bahwa ia terbuat dari api yang lebih hebat dari pada Adam yang hanya terbuat tanah. Padahal api begitu mudah padam oleh tiupan angin, sementara tanah amatlah kokoh meski diterpa oleh badai.
Ini sebagai pertanda bahwa sesuatu tidak selalu diukur dengan nalar. Sebab potensi nalar ini amat terbatas, tapi bukan berarti mengenyampingkannya karena kita seringkali diperintahkan untuk berpikir agar bisa membedakan antara yang haq dan bathil.

Beruntunglah kita terlahir sebagai manusia, ya kawan. Tapi tunggu dulu, bukankah iblis telah diberi penangguhan hingga akhir masa agar dapat mempengaruhi kita. Menjebak supaya kita terjerumus kedalam orang-orang yang merugi.

Jangankan kita, nenek moyang manusia saja bisa tergoda sama rayuan iblis untuk mendekati pohon kezaliman. Sehingga tercampaklah mereka ke bumi. Berbeda dengan iblis, Adam dengan amat menyesal telah melanggar perintah Allah. Lalu Adam bertobat dan Allah menerima taubatnya.

Mungkin dulu kita pernah salah, kawan. Sering kali khilaf dan banyak berbuat zalim. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah bertaubat dan tak akan mengulang kesalahan.

Tapi saya sangat khawatir, kawan. Iblis mempunyai kesempatan menggoda kita dari segala arah. Dari arah depan, belakang dan kiri, kanan. Namun tak tersirat dalam kitab Nya arah atas dan bawah. Hal itu jadi indikasi bahwa rayuan iblis amatlah lemah jika kita selalu ingat sama yang diatas, yakni Allah. Lantas bersujud kebawah yang dapat ditandai dengan menyembah hanya pada Nya.

Iklan

9 thoughts on “Kita dan Iblis

  1. pokoknya berhati-hatilah. iblis ini bagaikan singa yang mencari mangsanya dan kalau kita lengah, habislah kita diterkamnya. tapi siapa yang mencari Tuhan, ia pasti mampu mengenyahkan iblis.

    Suka

  2. #Mungkin dulu kita pernah
    salah, kawan. Sering kali khilaf
    dan banyak berbuat zalim.
    Yang bisa kita lakukan saat ini
    adalah bertaubat dan tak akan
    mengulang kesalahan…#

    kenapa masih ada kata “mungkin”..kalau senyatanya manusia seringkali khilaf dan banyak berbuat zalim..
    ‘mungkin’ menunjkkan betapa berat ya utk mengakui secara jujur dan ikhlas bahwa ‘kita’ banyak salah..

    iblis pada hakikatnya lebih “ikhlas” drpada manusia..
    buktinya : iblis nggak pernah mengeluh dan bosan menggoda manusia, padahal iblis sudah tahu bahwa tempatnya pasti di neraka. lha manusia, belum tahu dimana dia kelak akan mendapt tempat di akhirat, berbuat baik saja kadang bukan karena Allah, tp krena pahala, karena riya’, karena pamer, karena takabur, dan karena karena lainya ..
    manusia beramal masih karena iming iming..coba kalau nggak ada iming2 pahala atau ganjaran.?? apa masih akan tetap beramal..??

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s