Ngepos via Hape

Menelanjangi Gengsi Sang Penjual Koran

Hari ini ada pemandangan berbeda di simpang tabek gadang, Panam, Pekanbaru. Ketika saya melintas, tampak dua sosok remaja perempuan yang berpakaian rapi. Mereka mendekap setumpuk koran yang dijajakan kepada pengguna jalan.

Biasanya penjual koran di persimpangan jalan selalu didominasi kaum laki-laki dan anak-anak. Kalaupun ada perempuan, itupun sudah tua dan berpakaian lusuh.

Melihat mereka, saya ingat zaman kuliah dulu. Masa dimana saya pernah seperti mereka. Menjual koran dari satu kampus ke kampus lainnya. Kala itu saya memiliki tiga orang rekan, dua orang diantara mereka fasih bahasa arab, satu lagi seorang aktivis kampus.

Kami tak pernah gengsi, padahal waktu itu sebagian teman memandang sebelah mata. Setidaknya hasil penjualan koran dapat memenuhi kebutuhan makan untuk satu hari.

Lebaran telah menghentikan langkah kami karena waktu itu mudik ke kampung. Lama vakum, setelah lebaran pemasok koran tidak lagi datang ke tempat kami sehingga saat itulah aktifitas kami sebagai penjual koran terhenti.

Sekarang tahun-tahun telah berlalu, ingatan itu kembali mengemuka. Setiap berjumpa penjual koran di persimpangan jalan, jadi ingat siapa diri saya. Bahkan merasa bangga bahwa saya pernah melihat dunia dengan kacamata mereka sebagai penjual koran yang meraup rupiah sedikit demi sedikit untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Di sebelah kanan rumah saya tinggal seorang penjual koran, dari menjual koran ia menghidupi istri dan satu orang anak. Mereka merasa berkecukupan atas rezeki yang mereka terima, walau sedikit.

Sementara di sebelah kiri rumah penjual koran itu tinggal seorang karyawan yang tiap bulan menerima penghasilan. Bisa jadi penghasilan yang ia dapatkan lebih besar dari penjual koran itu. Tetapi karyawan itu masih saja mengeluh, celakanya ia malah merasa tidak cukup dengan apa yang ia dapat.

Mana yang lebih miskin? Karyawan atau penjual koran?

Iklan

44 thoughts on “Menelanjangi Gengsi Sang Penjual Koran

  1. sedikit apa pun hasil yggg didapat kalo dgn rasa syukur maka akan terasa cukup.. sebaliknya sebesar apapn yg kita dapat jika tidak pernah bersyukur maka akan selalu kekurangan.. malam ajo hehe…

    Suka

  2. mas sulis tetangga saya, dari dulunya loper koran, sekarang sudah bisa menjadi agen koran, dengan karyawan sekitar 50an orang 🙂

    Suka

  3. Luaar biasa kisah ttg penjual koran yg merasa berkecukupun kontras dg karyawan yg selalu mengeluh padahal sudah pasti pendapatan tiap akhir bulannya.
    Yg merasa berkecukupan dan selalu bersyukur, menurut saya, pastilah itu yg lebih kaya…

    Suka

  4. Jika kita pernah merasakan sulitnya mencari uang …
    saya yakin … kita akan mensyukuri setiap lembar rupiah yang masuk ke rekening atau kantong kita …

    Salam saya Ajo

    (3/3 : 8)

    Suka

  5. saya tidak pernah jadi penjual koran Jo, tapi waktu kuliah saya pernah jualan alat tulis kuliahan dan kaos asal dari Jogja.. Waktu itu kondisi keuangan keluarga sedang tidak baik, jadi saya inisiatif cari tambahan uang saku.. lalu saya juga pernah jadi penjaga wartel dan warnet.. dari situ saya tidak perlu jualan lagi karena penghasilan dari kedua pekerjaan itu sudah mencukupi uang saku bulanan saya..

    Suka

  6. Pokoknya kalo saya mah percaya banget sama yg namanya “La-in syakartum la azidannakum” kalopun mgkn skrg gak kerasa, pasti suatu saat kerasa. Lamha wong jelas ud dijanjiin “wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib”, rizki dr jalan yg gak disangka2

    Suka

  7. Rezeki banyak atau sedikit hanya masalah nilai, yang penting adalah rasa syukur-nya. Bahagialah orang yang selalu merasa cukup. Usaha apapun selagi halal tentu pantas dihargai, gengsi mah kelaut aje…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s