Ngepos via Hape

Aldi Si Penjual Gorengan

Namanya Aldi, anak ketiga ari empat bersaudara. Ayahnya berprofesi sebagai tukang bangunan dan ibu sebagai pengurus rumah tangga di wilayah domestik. Namun, ibu aldi di rumah membuat ketan dan gorengan yang dijual sebagai tambahan penghasilan bagi keluarga.

Sementara tanaga penjualnya adalah anaknya sendiri, yakni Aldi. Bocah kecil yang kini tengah duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.

Aldi pulang sekolah pukul 12 siang. Setelah itu ia menjunjung dulang yang berisi aneka gorengan dan ketan pulut bertabur kelapa. Dijajakan keliling kampung, dari satu rumah menuju ke rumah yang lain. Menjelang magrib barulah ia kembali ke rumah maskipun barang dagangan habis atau tidak.

Tubuh nan kecil dan kurus itu tampak berkeringat tapi tidak menunjukan kelelahan. Ia begitu bersemangat untuk melangkah menjemput rezeki. Mungkin ia belum mengerti untuk apa mencari uang tapi ia sudah paham bagaimana menghasilkan uang.

Dalam saku aldi bertumpuk uang pecahan seribu dan dua ribu. Satu persatu ia susun uang kertas lusuh itu yang jumlahnya lebih kurang lima puluh ribu rupiah. Itu berarti omset aldi sejak jam 12 siang tadi sudah lima puluh ribu rupiah. Jika dikalikan selama satu bulan, aldi kira-kira menghasilkan uang sebanyak 1,5 juta.

Sebuah angka penghasilan yang cukup besar bagi anak sekecil itu tanpa meninggalkan sekolah. Aldi tak mempunyai pilihan seperti anak-anak lain yang bisa menghabiskan waktu
dengan bermain-main. Bisa jadi anak-anak lain menghabiskan uang lebih 1,5 juta hanya untuk main-main. Sementara aldi telah dapat menghasilkan uang untuk keluarganya walau masa anak-anaknya untuk bermain telah terampas.

Mungkin bagi kita mengeluarkan uang 50 ribu sehari adalah sebuah hal yang lumrah. Apalagi uang sebesar itu dibelanjakan bukan untuk memenuhi kebutuhan dasar, tapi buat foya-foya. Atau bisa jadi untuk belanja anak satu hari saja udah lebih 50 ribu. Sedangkan dengan uang sebesar itu aldi sudah mampu menopang tonggak perekonomian keluarganya.

Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari sosok aldi?. Bacalah, betapa semangat itu tak mengenal usia. Waktu yang kita miliki sama, tapi aldi dapat memanfaatkan waktunya dengan baik untuk membantu ekonomi keluarga. Sementar kita bisa jadi telah banyak menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Bahkan untuk berkumpul bersama keluarga saja kita tidak punya waktu karena terlalu sibuk dengan urusan dunia.

Iklan

20 thoughts on “Aldi Si Penjual Gorengan

  1. Salut sama anak-anak yang seperti ini. Pengertian sekali dengan kondisi keluarga dan mau turun tangan untuk meringankan beban. Semoga si adek sekolahnya lancar walau sambil bekerja.

    Suka

  2. setelah jadi pengangguran seperti sekarang aku baru tahu Jo betapa besarnya arti uang 50 ribu sehari itu.. Dulu waktu masih kerja uang segitu dibuang-buang saja tidak jelas juntrungannya.. Saya bersyukur melewati fase hari ini dimana saya seperti disentil akan kelakuan saya kemarin-kemarin… Insya Allah hidup saya akan menjadi lebih baik setelah melewati fase ini. Aamiin

    Suka

  3. Semoga Aldi sehat-sehat terus …
    dan kehidupannya menjadi lebih baik … dan lebih baik lagi …
    Sehingga apa yang menjadi cita-cita Aldi bisa tercapai

    Salam saya Ajo

    (5/2 : tujuh)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s