Ngepos via Hape

Dituduh Mencuri

Memang lidah tak bertulang. Salah bicara sedikit saja bisa membuat hati orang tersayat. Disadari atau tidak, perkataan yang tidak elok akan membuat lawan bicara kecewa.

Hal demikian terjadi beberapa hari yang lalu. Ceritanya berawal dari rekomendasi tempat makan di kota pekanbaru yang ditulis oleh seorang blogger dari kota ini.

Karena tulisan yang dibuat itu berkisah tentang salah satu tempat makan di pekanbaru yang bernuansa islami. Foto-foto miso ayam yang dipajang membuat selera tak lagi terbendung. Saya menyimpulkan sepertinya miso tersebut enak.

Oleh karena itu saya sudah bertekad untuk mencoba. Suatu ketika tibalah kesempatan untuk dapat mencicipi miso tersebut. Apa yang ditulis oleh bloger tersebut memang benar. Misonya enak dan nuansa tempatnya pun islami.

Satu piring miso terasa tak cukup tapi jika nambah nanti bisa gak muat di perut. Jadi saya cuma nambah satu gorengan tahu dan satu keripik. Menu itu ditutup dengan segelas air mineral.

Soal harga tidak terlalu mahal. Sambil makan kita bisa dengar tausyiah, lantunan ayat suci nan merdu yang diputar melalui perangkat musik. Selain bikin kenyang, kita juga bisa menambah pemahaman agama dari ceramah yang diputar.

Masalahnya mulai muncul ketika saat saya membayar apa yang saya makan di meja kasir. Meja tempat saya makan tepat berada di depan kasir. Jadi apa yang di makan si kasir tahu semuanya. Dapat saya pastikan petugas yang duduk di meja kasir adalah pemilik dari tempat makan itu.

“Berapa pak?” Tanya saya sambil mengaruk kantong celana.

Kasir itu bertanya “apa tambahannya?”

“Gorengan tahu dan air mineral” jawab saya.

Ia menimpal dengan intonasi yang kurang mengenakan “itu saja?”

“Iya” jawaban saya.

Lagi-lagi ia bertanya dengan nada yang menyudutkan. “Keripinya enggak?”

“Oh, iya. Keripik satu” karena lupa jadi gak sempat menyebutkan keripik yang saya makan.

Sayang sekali, saya merasa kecewa dangan cara bertanya dan penggunaan kata yang digunakan oleh si pemilik restoran itu.

Pertanyaan “keripik enggak?” itu seakan menuduh saya sebagai seorang pencuri. Padahal saya adalah manusia biasa yang tak bisa luput dari sifat lupa. Mungkin ia tak sengaja atau bermaksud buruk, tetapi kata-kata yang digunakan itu saya rasa tidak tepat.

Seharusnya ia bertanya dengan kata-kata yang baik. Misal “ada tambahan lagi, pak?” Pertanyaan itu terkesan mengingatkan, bukan seperti pertanyaan yang ditujukan kepada saya yang terkesan menuduh.

Peristiwa itu menjadi pelajaran berharga bagi diri saya sendiri tentang bagaimana berbicara yang baik tanpa menyinggung perasaan orang lain. Apalagi dalam penggunaan kata-kata dalam berbisnis. Bisa jadi karena kata-kata seperti itu membuat konsumen merasa kecewa.

Iklan

20 thoughts on “Dituduh Mencuri

  1. Masih mending itu, ajo benar memakannya. Tapi yang kualami sangat menyakitkan, ketika saya kuliah dulu setiap kerja bengkel meminjam tool dari toolkeeper dan mengembalikannya setelah jam praktek selesai. Saya sudah mengembalikan tool saya namun si toolkeeper itu menerimanya sambil asyik ngobrol dengan rekannya lalu saya meminta koin sebagai tanda kalau barang sudah saya kembalikan. Rupanya dia lupa telah menerima barang dari saya dan menuduh saya berbohong, walaupun banyak saksi dari teman teman saya mengalah dan akhirnya saya mengantinya…

    Suka

  2. Memang ya Jo. Cara penyampaian meskipun isi yang disampaikans ebenarnya tidaka da masalah juga bisa jadi masalah. Semog si penjaga belajar untuk lebih baik dalam bertanya..

    Suka

  3. Betul juga ya kemampuan berkomunikasi itu penting. Bagaimana bertanya dgn tidak menyinggung. Moga kasir itu lupa, bahwa yg ditanya adalah cutomer. Moga juga kasir itu lupa, bahwa customer itu adalah raja. Moga kasir itu juga lupa bahwa hidupnya suatu usaha karena adanya customer yg loyal…

    Suka

  4. Saya setuju dengan Mas Edi …
    Yang menyakitkan itu justru … dituduh makan yang tidak kita makan …
    apalagi kalau penjaga restoran itu berkata dengan keras … agar semua orang dengar … wah wah wah …

    Tapi yang jelas …
    Benar kata Ajo … mari kita jadikan peristiwa tersebut … untuk selalu ingat untuk berkata baik … yang tidak menyinggung perasaan orang lain

    Salam saya Ajo

    Suka

  5. Lha katanya kental dengan nuansa Islami, masa bicaranya ngga santun..??
    Perlu belajar santun dlm berbicara tuuuh..
    Aaahh kalau jutek begitu mah, ogah datang lagi teteh mah hehe

    Disini kalau ada yg jutek, teteh suka sindir2 tuh… Mentang2 teteh orang asing ko beda perlakuannya.. Iihh sebel ..*lhoo malah curhat hehe

    Suka

  6. aku malah pernah ngopi trus karna keasyilan ngobrol sampe lamaaaa dan biasanya kan di coffeeshop pas pesen bayar skalian yak. nah itu tu enggak. jd pas perjalanan pulang inget kalo ngopi nya td belom bayar.
    langsung balik n lihat meja ud diberesin. pas mau bayar malah dikirain baru mau mesen. kaya g ngerasa gitu kalo td ad yg blm bayar. aku ny yg jafi gak enaaak

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s