Ngepos via Hape

Memilih Makanan

Di pintu masuk rumah makan padang, saya melihat seorang perempuan separuh baya bernyanyi lagu minang bersama anak laki-lakinya. Ditengah gempuran musik pop, keluarga sahaja ini masih bertahan dengan lagu tradisonal yang dianggap usang.

Mereka tak gentar meskipun banyak pengunjung yang hanya lewat tanpa sedikitpun melirik. Kemana harga diri akan diletakan ketika hiburan yang mereka jajakan disambut dengan lemparan muka. Perempuan itu beruntung apabila lewat pengunjung yang ogah menyimpan uang kembalian sehabis beli nasi padang.

Sejak suaminya meninggal, tak ada pilihan selain bernyanyi dari satu warung ke warung lain. Bahkan dalam makan pun mereka tidak bisa memilih karena keterbatasan.

Sesering apapun ia beranjak dari satu rumah makan ke rumah makan lain, dari satu restoran ke restoran lain dan dari warung tenda ke warung tenda lain. Tak sekalipun mereka bisa menyicipi makanan terenak di tempat-tempat tersebut.

Apakah mereka bersedih? Apakah mereka mengeluh? Tidak. Nyanyian mereka tetap terdengar merdu dengan nada-nada kebahagian.

Sementara kita? Mungkin sering lupa bahwa apa yang dimakan tak lebih dari pelampiasan nafsu yang tak kunjung terkendali.

Saya kadang terhenyak. Disaat orang lain tak punya kesempatan untuk makan enak. Saya malah telah diberi nikmat untuk bisa memilih makanan.

Hari ini makan apa ya? Soto, bakso, nasi padang, steak, pizza atau fried chiken? Bahkan saat memilih makan nasi padang pun saya masih saja memilih, dengan lauk apa ya? Saat memakan pizza pun masih memilih mau rasa apa?

Adakah yang kurang. Sepertinya yang kurang hanyalah rasa syukur. Jika mengengok perempuan separuh baya beserta anak itu, malu sekali saya rasanya. Bergetar tangan ini ketika menyuap nasi yang malah saya bilang tidak enak itu.

Seandainya saya diposisi mereka. Dapatkah saya berkata makanan ini tak enak atau makanan ini terlalu murah. Bisakah saya memilih mau makan apa hari ini.

Sikap empati memang mampu menampar diri sendiri untuk sadar bahwa enak atau tidak enaknya makanan itu adalah persoalan nafsu yang didorong oleh keangkuhan realitas.

Itu baru soal makanan. Bagaimana dengan persoalan lain. Ahh, nikmat manalagi yang enggan aku syukuri?

Iklan

18 thoughts on “Memilih Makanan

  1. saya tidak suka memberi anak jalanan uang karena akan membuat mereka bertahan di jalan. tapi kalau mengikuti nurani terkadang hati ini bagai teriris.. beberapa kali saya memilih untuk memberi mereka makan saja daripada memberi uang. Setidaknya itu membuat perut mereka kenyang…

    Suka

  2. terkadang kita emang kurang rasa syukur ya.. kita malah membuang makanan yang tidak kita sukai padahal banyak orang diluar sana yang masih saja kelaparan. ๐Ÿ˜ฆ

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s