Ngepos via Hape

Semangat Seorang Pemulung

Perempuan : “Ngapain mas?”

Pemuda : “Lagi santai buk”

Perempuan : “Kok pagi-pagi santai, bukannya kerja?”

Pemuda : “Hari ini libur buk”

Tiba-tiba perempuan yang menyandang karung lusuh itu pergi berlalu begitu saja. Di ujung sana ia melihat seonggok botol plastik tergeletak. Sejurus kemudian ia mendekat dan memungut botol itu.

Dari kejauhan geraknya tampak lincah. Matanya tajam bagaikan mata elang. Tidak ada mangsa yang terlewatkan di sepanjang perjalanan.

Sementara aku disini tertunduk lesu dan larut dalam pikiran kelam. Segelas kopi di depanku seakan mengejek. “Semangat mu kalah jauh dengan pemulung itu” kata cangkir kopi itu seolah mencibirku.

Aku tegakan kepala dengan tegar. Lalu berdiri dengan kaki gemetaran. Ku tarik nafas dalam-dalam dan kubuang sejauh mungkin.

Bagaimana aku bisa bersyukur jikalau masalah kecil yang kuhadapi terasa bagaikan beban berat. Bagaimana aku dapat bersyukur jikalau kelimpahan rezeki yang kuperoleh mengendap dalam tumpukan harta di lemari kekikiran.

Malu aku rasanya ketika harga segelas kopi yang kuminum setara dengan pendapatan pemulung perempuan itu. Apa bedanya, ia begitu bahagia dengan pekerjaannya. Sementara kenapa aku murung ditengah seruput kopi mahal itu.

Apa yang salah dalam kehidupan ini. Apakah aku telah salah memandang dunia. Melihat dari sudut pandang yang selama ini hanya dari satu sisi. Sisi kebodohan. Seperti keledai yang melihat singa yang akan memangsanya.

Tahukah kamu kenapa keledai itu menjadi simbol kebodohan. Ketika keledai berjumpa dengan seekor singa yang akan memangsanya, keledai sangat ketakutan. Bukannya lari, keledai malah mendekat pada singa yang menerkamnya.

Apakah aku sebodoh keledai yang seringkali terjatuh di lubang yang sama. Membusungkan ego kebenaran ditengah realitas kehidupan. Tidak. Jangan pernah menjadi seperti seekor keledai.

Mengubah sudut pandang sudah jadi keharusan yang mutlak. Tak bisa lagi ditawar. Ketika melihat persoalan hanya dari satu sisi maka itu sama halnya seperti perjalanan seekor keledai. Apabila persoalan itu tak terselesaikan akan berdampak pada terenggutnya kebahagian oleh syndrom yang bernama stres. Itu berarti kita telah terjatuh di lubang yang sama bagaikan keledai yang berjalan dengan kacamata kebodohan.

Iklan

14 thoughts on “Semangat Seorang Pemulung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s