Ngepos via Hape

Harapan Seorang Ibu

Pagi-pagi buta, seorang perempuan tua berteriak dari kejauhan. Suara itu mulai terdengar mendekat sehingga membuat seorang bocah kecil tersentak dari tidur. Bocah itu tak sanggup bangun, namun perempuan itu memaksa untuk mandi dan berangkat ke sekolah.

Dengan telaten ibu memasang kancing baju putih dan menyorongkan celana pendek berwarna merah. Pandangannya tak pernah beranjak sejak si bocah keluar dari pintu rumah hingga melangkah menuju sekolah. Ketika bocah tersebut menoleh ke belakang, ia tahu tatapan mata harapan itu tertuju pada cita-cita sang bocah.

Saat si anak tak terlihat lagi dari pandangannya, barulah si ibu kembali masuk ke rumah untuk memasak. Entah setan apa yang merasuki, tiba-tiba saja si anak balik lagi dengan langkah lunglai dan terkantuk-kantuk.

Setiba di depan rumah, si anak sembunyi dibalik pagar. Perempuan itu tidak lagi berdiri di pintu. Duduklah bocah itu di dalam selokan kering depan rumah. Tak lama kemudian ia tertidur di dalamnya.

Parempuan itu mengira bocah kecil yang dimandikan tadi pagi sedang tekun belajar di sekolah. Untuk itu ia bersemangat memasak didapur agar sepulang sekolah bocah kecil itu dan sebelas saudaranya tidak kelaparan.

Ia tidak tahu bocah kecil yang dilihatnya pergi ke sekolah itu tengah tidur nyenyak dalam selokan di depan rumah tempat ia memasak.

Beberapa tahun kemudian bocah kecil itu mulai beranjak remaja. Perempuan itu bahagia ketika mengetahui anaknya yang pemalas itu lulus di universitas Islam di luar daerah. Ia tak rela melepaskan anak laki-lakinya itu merantau. Karena memaksa, anak itu membuat hati perempuan itu luluh. Satu hal yang membuat si ibu sanggup melepaskan kepergian remaja itu adalah harapan agar si anak mendapatkan pendidikan Islam yang kuat.

Enam tahun berlalu, perempuan itu begitu bangga menginjakan kaki pertama kali di kampus Islam terbesar di negeri ini. Dengan penuh bahagia ia menyaksikan anak laki-lakinya berjalan menggunakan toga di gedung auditorium nan mewah.

Kebanggaan itu memuncak ketika dia mengetahui salah satu anak laki-lakinya akan melanjutkan jenjang pendidikan S2. Dengan segala daya perempuan itu berupaya mencarikan biaya kuliah setelah si anak mengabarkan lulus tes ujian masuk pascasarjana di universitas terkemuka di negeri ini.

Tiba-tiba saja si anak membatalkan niat untuk melanjutkan kuliah. Ia sadar, masih banyak adik-adiknya yang akan sekolah. Ia tak mau memberatkan beban kedua orang tuanya, apalagi biaya kuliah adik-adiknya cukup besar.

Perempuan itu adalah seorang ibu yang tidak pernah mementingkan dirinya sendiri. Ia selalu mendahulukan kepentingan anak-anaknya. Ketika anaknya ingin makan ia memberikan semua makanan yang ia suka kepada anak-anaknya. Ia menahan selera demi anak-anaknya.

Ibu suka goreng pisang dengan ketan. Ketika si anak bertanya ini goreng siapa. Naluri ibu itu langsung berkata anaknya ingin makan goreng pisang itu. Walaupun ibu suka dan belum mencicipi, ia akan memberikan semua kepada anaknya.

Ibu terus berupaya tanpa pamrih agar anak-anaknya bahagia. Kenakalan dimasa kanak-kanak, perlawanan di masa remaja tak membuat ibu lelah mengasuh. Ketika anak itu telah dewasa, ibu tak pernah minta apa-apa selain ingin membahagiakan anak-anaknya.

Setelah anak itu dewasa, apa yang dapat diberikan pada ibunya? Selama ibu masih hidup, buatlah mereka bahagia. Kesampingan ego sebagai anak karena harapan seorang ibu itu demi kepentingan anak-anaknya juga. Jika ibu telah tiada, doakanlah mereka karena salah satu hal yang ditinggalkan seseorang di dunia ini adalah doa anak-anak yang sholeh.

Seseorang pernah berkata bahwa anda tidak akan bisa membahagiakan pasangan anda jika anda tidak bisa membahagiakan ibu anda.

Iklan

3 thoughts on “Harapan Seorang Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s