Ngepos via Hape

Dima Tibo Se Lai

Ditempat kerja saya yang lama, ada seorang salesmen motor. Sebut saja namanya pak Ardi. Ia sales baru, tapi sudah bermasalah dengan stock barangnya. Terdapat kekurangan yang cukup signifikan.

Stock barangnya di sistem komputer masih banyak, tapi barang real tidak ada lagi. Selisihnya cukup besar yang membuat pak Ardi mesti nombok barang yang kurang dengan uangnya sendiri.

Tak tahu kemana pergi barang ini. Apakah sudah terjual tapi tidak dilaporkan atau ada kesalahan pada proses penginputan di komputer. Wallahualam.

Yang jelas, pak Ardi ini mempunyai kesalahan fatal yakni ia tidak cek stock secara berkala sehingga tidak jelas dimana kesalahannya. Jadi ia harus mempertanggung jawabkan kelalaiannya itu dengan mengganti rugi.

Jumlah ganti rugi yang harus dibayarkan tidak sebanding dengan gaji yang diterima perbulan. Jangankan untuk nombok, gajinya saja sudah habis ditengah bulan untuk membiayai keluarganya. Jikalau ia tak bisa ganti rugi, terpaksa perusahaan memecat dirinya.

Ia didesak untuk melunasi kekurangan stock itu. Namun, ia tak sanggup melunasi sehingga ia pasrah saja dengan apa yang terjadi. Mungkin saja ia telah berusaha untuk mencari pinjaman sana sini. Berhubung belum jua mendapat pinjaman ia pun pasrah. Apakah di pecat atau diberikan kompensasi waktu untuk melunasi.

Kepasrahan ini kami sebut dengan ilmu “dima tibo se lai” (dimana sampai saja lagi). Artinya, masalah yang dihadapi terserah saja lagi solusinya. Ia telah pasrah.

Pasrah adalah bagian dari tawakal. Dimana tawakal adalah kepasrahan yang didahului dengan usaha. Kita tidak tahu sampai mana batas kita berusaha sehingga sampai pada titik pasrah.

Jikalau pasrah saja tanpa ada usaha. Itu namanya berharap hujan emas turun dari langit. Padahal hujan yang kita kenal hanyalah hujan air.

Pak Ardi ini bisa saja disebut tawakal. Karena secara kasat mata kita tak tahu sampai batas mana usahanya untuk melunasi. Hanya dia dan Tuhan yang tahu apakah ia betul-betul berusaha melunasi. Kalaupun tidak dapat pinjamana, setidaknya dalam hatinya telah terbetik untuk melunasi tanggung jawabnya.

Setelah saya resign dari perusahaan tersebut. Hingga kini pak Ardi masih bertahan dan bekerja disana. Mungkin ia sudah menyelesaikan tanggung jawabnya. Hal ini membuktikan bahwa tawakal saja tidak cukup, butuh kesabaran yang kuat.

Iklan

3 thoughts on “Dima Tibo Se Lai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s