Ngepos via Hape

Belajar Menghafal Al Quran

Membangun keyakinan itu membutuhkan perjuangan berat. Apalagi kita sebagai manusia mempunyai aneka ragam potensi yang memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Salah satu fitrah dari manusia itu yakni telah diberikan potensi keyakinan pada setiap masing-masing manusia. Namun seiring waktu, perkembangan keyakinan itu tumbuh berbeda kerena kita dibesarkan dalam kondisi dan lingkungan beragam.

Faktor lingkungan tidak selalu dominan, meski ikut mempengaruhi. Paling mendasar itu adalah bagaimana kesanggupan diri sendiri untuk memanfaatkan potensi yang ada. Tentunya kekuatan diri itu tidak bisa dilepaskan dari kekuatan Tuhan yang Maha Mengkehendaki.

Sederhananya secara psikologis manusia itu mempunyai dua alam. Pertama alam sadar, seperti yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Kedua adalah alam bawah sadar yang sering terlupakan padahal sengat berperan besar dalam kehidupan.

Kemampuan alam sadar kita amatlah terbatas seperti hal terbatasnya kemampuan akal. Namun, alam bawah sadar kita memiliki kemampuan yang tak terbatas. Sayang kita sering membatasi alam bawah sadar ini.

Contoh, ketika terbetik dalam hati seorang karyawan untuk bisa naik karir menjadi bos besar. Tiba-tiba apa yang terlintas dalam pikiran itu musnah dengan sikap pesimis yang memandang mana mungkin bisa jadi bos, jadi staf aja udah pusingnya minta ampun.

Orang seperti itu menganggap dirinya tidak bisa, padahal belum mencoba untuk melakukannya. Ketidakbisan sebelum mencoba itulah yang membuat orang-orang disebut membatasi kemampuan alam bawah sadarnya. Ketika ia berpikir bisa, maka sesungguhnya apa yang mustahil itu akan bisa dilakukan dengan mudah atas izin Allah.

Seperti halnya menghafal Al Quran. Secara teoritis kita sering mengatakan bahwa Al Quran adalah petunjuk hidup. Namun dalam kenyataan, mungkin kita sering malas membaca atau memahaminya. Boro-boro menghafalnya, membaca aja jarang. Mungkin kita pernah membatasi diri yang mengekang kemampuan alam bawah sadar dengan berpikir kita tak akan sanggup menghafal Al Quran.

Bisa jadi terlintas dalam pikiran pernyataan pesimis. “Mana mungkin bisa hafal, baca aja jarang”. “Susah deh menghafalnya, toh bahasa arab aja gak ngerti”. Pikiran negatif seperti itu yang disebut dengan membatasi kemampuan sendiri, hal ini dapat dikatakan tidak mensyukuri potensi yang diberikan Allah.

Jika bersungguh-sungguh, tidak ada yang tidak bisa. Allah memberikan kemudahan dalam mempelajari Al Quran. Allah bersumpah telah mempermudah Al Quran untuk menjadi pelajaran sebagaimana terpatri dalam QS al-Qamar ayat 17. Maka adakah yang mau mengambil pelajaran?

Siapa yang bersungguh-sungguh Allah akan melimpahkan karunia dan membantu memahami Al Quran. Itulah yang saya maksud dengan membangun keyakinan. Dimana saya harus meyakini bahwa Allah akan memberikan kemudahan. Tinggal bagaimana kesungguhan untuk menghafal dan memahami Al Quran.

Ketika bicara kesungguhan, tentu terdapat kesulitan dalam menjalani. Ketika tekad begitu kuat untuk menghafal Al Quran maka dibalik kesulitan itu akan ada kemudahan. Itulah keyakinan yang mesti saya bangun dalam diri ini.

Ya Allah jadikanlah tekad tersebut selalu bersemi dalam diri agar di tengah perjalanan untuk mempelajari Al Quran tidak hadir potensi kemunafikan yang membuat tekad itu padam karena munculnya kemalasan, godaan dan kenikmatan dunia yang melenakan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, sebagaimana jalan orang-orang sebelum kami yang Engkau Ridhoi. Bukan jalan orang-orang yang sesat. Amin

Iklan

7 thoughts on “Belajar Menghafal Al Quran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s