Ngepos via Hape

Gres!

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti seminar ekonomi islam yang dihadiri oleh praktisi perbankan syariah dan pelaku industri syariah di Pekanbaru. Seminar ini dalam rangka menggalakan kampanye Gerakan Ekonomi Syariah (Gres!) yang telah dicanangkan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono bulan kemarin.

Narasumber dari seminar tersebut adalah rektor Universitas Islam Riau (UIR), Kepala Cabang salah satu bank syariah di pekanbaru dan pengusaha muslim dari pekanbaru. Ketiga pembicara itu menyampaikan materi-materi yang menarik.

Salah satu materi menarik dilontarkan oleh rektor UIR yang menyarankan pada kalangan perbankan syariah untuk mengirimkan minimal tiga orang karyawan masing-masing bank syariah di pekanbaru untuk didik menjadi dai atau ustadz yang akan memberikan ceramah di mesjid yang berisi materi tentang ekonomi syariah.

Usulan ini sebagai bentuk nyata untuk mewujudkan kampanye gres!. Sebab rendahnya market share perbankan syariah di Indonesia yang hanya 5 persen tak terlepas dari pemahaman dan persepsi masyarakat tentang perbankan syariah.

Apalagi masih terdapat pemahaman di masyarakat yang menyamakan antara bunga yang terdapat pada bank konvensional dengan margin yang diberlakukan di bank syariah. Selain itu juga masih terjadi pula perdebatan mengenai kredit di bank syariah yang dianggap tak syari’ dan tidak sesuai dengan fiqih.

Itu hanyalah sekelumit persoalan dalam industri perbankan syariah di Indonesia. Disamping itu faktor tingginya margin, terutama untuk kredit di bank syariah dibandingkan dengan bunga kredit di bank konvensional menjadi dilema tersendiri bagi masyarakat muslim untuk beralih ke bank syariah. Meskipun perbankan syariah menawarkan angsuran dan margin yang tetap/flat, tetap saja masyarakat muslim tidak pindah hati dari bank konvensional yang memakai sistem floating, tetap di awal tapi mengikuti suku bunga di kemudiannya.

Bahkan diluar sana masih ada kelompok yang bukan hanya mengharamkan bank konvensional, tapi juga mengharamkan bank syariah. Kelompok seperti ini tidaklah banyak tapi mempunyai pengaruh yang cukup besar.

Seperti diketahui sistem ekonomi syariah ini sesungguhnya dapat menjadi solusi ditengah gurita sistem kapitalis yang lebih mengedepankan individualisme. Sistem kapitalis ini begitu rapuh sehingga menimbulkan kegelisahan bagi pengikutnya. Oleh karena itu Islam menawarkan solusi yang memberikan ketenangan dengan sistem ekonomi Islam.

Hal tersebutlah menjadi tantangan bagi praktisi perbankan syariah untuk memberikan pemahaman dan sosialisasi ekonomi islam kepada masyarakat. Usulan untuk mendidik para banker menjadi dai atau ustadz adalah usulan bagus. Namun, apakah pengurus mesjid bersedia mengundang para banker ini untuk mengisi ceramah menggantikan ustadz di mesjid. Malahan bank-bank syariah yang mengundang ustadz untuk memberikan ceramah di bank syariah.

Akan tetapi alangkah lebih bagus lagi bila praktisi dalam hal ini kalangan perbankan syariah bersinergi dengan akademisi dan para dai atau ustadz untuk menggalakan ekonomi syariah secara bersama-sama.

Melalui program corporate social responsibilty perbankan syariah bisa memberdayakan para ustadz dan dai-dai dengan memberikan pelatihan ilmu perbankan syariah secara komperhensif. Lalu kemudian para da’i tersebut minimal menyampaikan dakwah sekali sebulan dan memberikan kompensasi kepada mereka.

Sosialisasi ekonomi islam dalam hal ini soal perbankan syariah akan lebih efektif dari pada menurunkan para banker menjadi da’i. Tak ada salahnya jika kedua usulan tersebut dapat diwujudkan untuk menjadikan kampanye gerakan ekonomi syariah ini bukan sekedar kampenye tahunan seperti kampanye pemilu legislatif yang diadakan sekali lima tahun. Ramai di awal, lalu pudur di tengah perjalanan.

Iklan

2 thoughts on “Gres!

  1. Adik ipar saya kerjanya di Bank Syariah. Dan ternyata sala satu syarat untuk bekerja di Bank Syariah adalah pengetahuan lebih mengenai ekonomi syariah.
    Good idea

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s