Ngepos via Hape

Menimba Hikmah Dari Musibah Banjir

Bagaimanakah rupa manusia kala kiamat tiba. Apakah seperti belalang-belalang yang berhamburan dari tanah, tiada keteraturan. Wallahualam.

Jangankan kiamat, diberi bencana kecil saja sudah banyak manusia yang panik. Bersikap semaunya, mementingkan diri sendiri, mencaci maki hingga sedih dan lalu menangis.

Itulah segelintir sikap yang muncul keperumakaan saat banjir tadi pagi. Tak sedikit yang marah-marah karena terjebak macet di jalanan. Mengeluarkan sikap negatif, padahal air tak akan surut dengan amarah.

Belum lagi ada yang menyalahkan orang lain. Menganggap banjir disebabkan oleh aparat yang tak becus mengurus masyarakat. Ada kaitan apa sehingga banjir ditarik dengan benang politik.

Biarlah, mungkin itulah cara berpikir mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Seumur-umur baru kali ini saya mengalami banjir yang masuk ke dalam rumah. Setidaknya saya telah merasakan bagaimana derita sebagai seorang korban banjir. Begitu banyak saudara-saudara kita yang hampir setiap saat merasakan banjir. Seperti saudara-saudara kita di jakarta yang tinggal di pinggir sungai yang selalu banjir kala hujan tiba.

Sesungguhnya banyak hikmah yang dapat diambil dari musibah banjir kali ini. Salah satunya adalah menjadi sarana untuk belajar sabar. Untuk apa marah jikalau sikap tersebut tak bisa merubah apapun. Untuk apa panik jikalau sikap itu yang membuat kita terhalang untuk berpikir.

Sejak air mulai naik ke rumah, saya coba untuk berpikir tenang. Awalnya sedikit, lalu tak lama air bergerak begitu cepat. Melihat air yang mulai banyak, lalu kami menyelamatkan barang-barang yang berpotensi kena air ke tempat yang lebih tinggi. Meskipun ada sebagian yang basah, minimal kami telah menyelamatkan sebagian yang lain.

Sejak komplek perumahan ini di bangun puluhan tahun yang lalu di tengah kota pekanbaru. Baru kali inilah terjadi banjir yang begitu besar. Inilah rekor musibah banjir yang terbesar di komplek perumahan kami. Sebelumnya tak pernah benjir, paling hanya genangan air saja.

Alhamdulillah genangan air tidak berlangsung lama. Menjelang shalat Jum’at air sudah mulai menyusut walau ada genangan di beberapa tempat.

Kejadian demikian semakin menegaskan kepada kita bahwa sesungguhnya bencana adalah sarana bagi kita untuk belajar sabar dan tawakal kepada Allah. Bukankah segala sesuatu yang kita miliki akan berpulang kepada Nya.

Iklan

One thought on “Menimba Hikmah Dari Musibah Banjir

  1. jadi ingat waktu tinggal di tanjung priuk setiap tahun kebanjiran dan malangnya lagi sudah kebanjiran dimintai sumbangan bantuan banjir oleh pak RT…..kan saya yang kebanjiran aneh kan?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s