Ngepos via Hape

Meneladani Masyarakat Anshar

Ingat bagaimana Islam mengatur tentang harta rampasan perang yang diperoleh tanpa perperangan (fai’). Pengaturannya bukan hanya sebatas distribusi saja, melainkan bagaimana sikap terhadap musuh yang telah menyerah. Jika ingin mengetahui lebih rinci, silahkan buka surat Al Hasyr.

Banyak hal-hal yang dapat kita teladani dari masyarakat kala itu. Terutama atas sikap kaum anshar yang rela menerima ketika pembagiannya lebih sedikit dibandingkan dengan kaum muhajirin yang notabane pendatang di tanah mereka.

Hampir semua orang-orang muhajirin mendapat jatah. Sedangkan masyarakat anshar hanya tiga orang saja yang mendapatkan, yakni orang-orang fakir yang paling membutuhkan dari kalangan anshar.

Hal ini bermakna bahwa kaum anshar selaku “tuan rumah” selalu mengedepankan kepentingan “tamu” dalam hal ini kaum muhajirin. Padahal harta rampasan dari Bani an Nadhir itu berada di wilayah mereka. Itu berarti keimanan kaum anshar sangat kuat sehingga mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Allah telah memelihara sifat kikir pada diri kaum Anshar karena keimanan dalam hati mereka sungguh mantap.

Kaum anshar itu mungkin tak jauh berbeda dengan kita yang hidup ditengah kaum yang diklaim sebagai “kaum modern”. Kita dan kaum anshar itu adalah sama-sama manusia, yang membedakan hanyalah kadar keimanan.

Perihal kekikiran, kita dan orang-orang anshar itu sama memiliki potensi kikir yang disebut dalam bahasa arab dengan syuhh. Sementara kata bukhl/kikir digunakan kala pontensi kekikiran itu sudah terjadi secara faktual. Jika seseorang telah mewujudkan potensi shuhh itu barulah ia disebut sebagai seorang yang bukhl/kikir.

Apakah kita tidak bisa seperti mereka kaum anshar yang dipelihara kekikirannya. Tentu bisa selama keimanan bersemai dalam hati. Tidak mudah memang, apalagi untuk menggapai keimanan itu kita mesti diuji. Seseorang tidak dikatakan beriman jikalau tidak diuji.

Salah satu ujian yang cukup berat itu kala seseorang diuji untuk memberikan apa yang ada dalam gengamannya. Apalagi yang dilepaskan itu adalah sesuatu yang ia sukai dan cintai. Hati akan terasa berat. Semua orang akan merasakan itu, tapi tidak semua orang yang mampu melewati ujian. Itulah yang disebut dengan naluri kekikiran, siapa yang mampu mengalahkan naluri itu ia adalah orang yang berhasil melewati ujian kehidupan.

Sederhananya, mari bayangkan bahwasanya kita hanya memiliki dua lembar uang kertas. Satu lembar bernilai seribu dan satu lembar lagi bernilai seratus ribu. Uang manakah yang akan kita sedekahkan?

Silahkan jawab sendiri. Jawaban kita masing-masing akan menentukan bagaimana kita bisa mengalahkan potensi kekikiran yang ada pada diri kita masing-masing. Apakah kita mampu seperti orang-orang anshar yang sanggup mengalahkan naluri kikir yang ada dalam diri mereka. Wallahualam.

Iklan

3 thoughts on “Meneladani Masyarakat Anshar

  1. Salah satu kemunduran Islam adalah cinta dunia dan takut mati maka wajarlah saat ini banyak orang berlomba-lomba mencari harta sebanyak-banyaknya dengan cara apapun.
    Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang gila harta

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s