Ngepos via Hape

Husnul Khatimah

Sekali lagi saya tak pernah bosan untuk meyakinkan diri sendiri bahwa hidup ini adalah sebuah proses. Hal itu tampak pada harapan umat Islam yang selalu mendambakan husnul khatimah ataupun mati dalam keadaan sahid.

Husnul khatimah sendiri berarti berakhir baik. Suatu ketika saya coba mengotak-atik kata ini dalam otak. Kenapa bukan awal yang baik, menjadi baik atau berbuat baik. Kenapa harus pada kata akhir yang baik.

Layaknya dalam sebuah film, klimaks dari sensasi menonton itu terletak pada akhir cerita. Bagus atau tidak film tersebut dapat diukur dari kisah akhir yang terkadang “bersambung” atau “the end”. Agak relatif memang karena bagus atau tidak bagus sebuah film itu sangat subjektif.

Untuk itu mari kita tengok analogi yang berbeda dari sebuah roti. Roti yang bermanfaat itu adalah roti yang habis dimakan sebelum masa kadaluarsa tiba. Ketika roti itu telah berjamur, tentu tiada guna lagi karena tidak bisa dimakan. Akhir yang mengenaskan dari sebuah roti yang tidak difungsikan dengan semestinya. Roti itu akan berakhir baik ketika ia memberikan manfaat pada yang memakannya sebelum tiba masa kadaluarsanya.

Begitupun dengan sepeda motor atau kendaraan lain seperti mobil. Semakin antik sebuah mobil maka harganya akan semakin mahal. Kenapa bisa mahal? Karena mobil tersebut selalu berproses menjadi baik dengan cara dirawat dan diservis oleh sang pemilik. Kalau mobil itu tidak dirawat maka bisa saja mobil naas tersebut berakhir menjadi besi tua yang dijual kiloan. Karena sering diperbaiki makanya mobil semakin tua semakin mahal

Hal seperti diatas tidak jauh dengan manusia. Manusia yang berakhir dengan baik itu bagaikan mobil antik. Manusia yang husnul khatimah itu seperti roti yang bermanfaat sebelum tiba masa kadaluarsa. Manusia yang beruntung itu adalah manusia yang akhir dari kehidupan dunianya bersambung dengan kehidupan surga nan indah.

Sekarang kita mementingkan mana, apakah proses atau akhir? Setiap akhir yang baik itu sudah barang tentu melewati proses yang baik. Tidak ada kiranya akhir yang baik itu melewati proses yang buruk. Disamping itu sebuah akhir yang buruk itu sudah jelas melalui proses yang buruk. Ternyata roh dari akhir yang baik itu terletak pada proses.

Sebagai manusia kita dituntut untuk berbuat baik. Tetapi apakah itu cukup kala merasa diri sudah baik. Di lain hal seseorang yang buruk dianggap berakhir buruk. Belum tentu seorang yang baik itu berakhir baik dan belum tentu seseorang yang buruk akan berakhir buruk.

Untuk itu saya kembali menegaskan bahwa tidak ada “orang baik” dan “orang buruk”. Yang ada adalah manusia yang berproses menjadi baik dan manusia yang berproses menjadi buruk. Bisa saja manusia yang tadinya baik, ditengah perjalanan hidupnya mendadak berproses menjadi seorang yang buruk hingga maut menjemput. Itu bukan akhir yang baik.

Akhir yang baik (husnul khatimah) itu adalah sebuah proses dimana kita terus menerus berbuat baik hingga ajal tiba. Berhubung kematian tidak bisa kita tebak kapan datangnya, maka kita dituntut untuk selalu berproses menjadi manusia baik agar di akhir kita dapat merasakan hidup di alam surga yang indah.

Akhir yang baik merupakan rahmat dan nikmat Tuhan yang jauh lebih besar dari tumpukan harta setinggi gunung. Mari berdoa agar hidup kita berakhir dengan baik. AmiSn

Iklan

2 thoughts on “Husnul Khatimah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s