500-1000

Hikayat Semut

sumber gambar : Wikipedia

Ada gula ada semut. Itulah mantra yang selama ini saring saya dengar. Mantra itu tidak hanya sekedar menggambarkan ketertarikan semut pada gula. Melainkan lebih bermakna keseimbangan hidup. Semut dapat mengajarkan pada kita hakikat kehidupan.

Semut merupakan satu dari binatang yang diabadikan namanya dalam Al Quran dalam sebuah ayat dan surat. Surat An Naml, secara bahasa An Naml berarti semut. Dalam surat An Naml terdapat beberapa ayat tentang semut, yakni seperti yang tersirat dalam ayat 18 yang berbunyi “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari

Dalam Hadits shahih Imam Muslim No.4157 diriwayatkan Abu Hurairah Muhammad bersabda bahwa, “Ada seekor semut pernah menggigit salah seorang nabi. Nabi tersebut lalu memerintahkan umatnya untuk mendatangi sarang semut kemudian membakarnya. Tetapi kemudian Allah menurunkan wahyu kepadanya, “Apakah hanya karena seekor semut menggigitmu lantas kamu membinasakan satu umat yang selalu bertasbih.

Membakar sarang semut karena satu gigitan itu bagaikan melihat sebuah masalah kecil sehingga menghancurkan kebahagian yang begitu besar. Bukankah dalam kesempitan terdapat kemudahan.

Satu hal yang kita lupa bahwa semut adalah makhluk terkuat yang melebihi kekuatan seekor gajah. Gajah hanya mampu mengangkat beban dua kali lebih berat dari badannya. Sementara semut mampu mengangkat puluhan, bahkan lima puluh kali beban yang lebih berat dari badannya. Rasanya hal ini memiliki relasi yang serasi dengan ayat Al QuranΒ (QS. Al Baqarah: 216) “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu“. Semut yang selama ini kita anggap kecil ternyata ia lebih kuat dari bintang yang besar.

*****

Apa hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil dari semut. Saya kira banyak sekali makna hidup yang dapat dipetik dari semut. Bila kita pernah mengeluh, maka sepantasnya kita belajar dari semut. Beban hidup yang selama ini dirasakan begitu berat, ternyata tidak seberat beban yang diangkat oleh seekor semut.

Semut yang sekecil itu saja mampu mengangkat puluhan kali beban yang lebih berat dari badannya. Kalaupun tak sanggup mengangkat puluhan orang yang lebih berat daripada badan kita, setidaknya kita sanggup memikul beban hidup yang diderita dengan bersandar pada Nya.

Kenapa harus sanggup memikul beban hidup itu, karena kita masih memiliki Tuhan Yang Maha Penolong. Kemulian semut yang tak boleh dibunuh dan dibakar sarangnya itu terletak pada tasbih koloni semut kepada Sang Pencipta, yakni umat yang selalu bertasbih. Tak heran memang bila semut diberikan nikmat dan mampu mengangkat beban yang labih berat. Hal ini semestinya penguat bagi diri sendiri untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya penolong dari setiap permasalahan dalam hidup ini.

Tidak hanya itu, semut merupakan makhluk sosial yang memiliki tingkat kepedulian yang begitu tinggi. Ketika rombongan nabi Sulaiman lewat, seekor semut menyerukan kepada koloni mereka untuk masuk ke sarang agar tidak terinjak oleh rombongan Nabi Sulaiman seperti yang tertuang dalam surat An Naml ayat 18.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita memiliki kepedulian layaknya seekor semut? Kita adalah makhluk besar yang terkadang lebih lemah dari pada seekor semut kecil. Ketika seekor semut peduli pada koloninya, kita malah tidak peduli pada diri sendiri. Sebelum peduli kepada orang lain, harus peduli dulu pada diri sendiri. Saya pikir itu rumus yang tak perlu dibantah.

*****

Jikalau segerombolan semut tidak lewat di layar monitor, mungkin aku tak akan memahami bagaimana kehebatan semut. Entah dari mana semut itu berasal, satu persatu semut keluar dari keyboard laptop ku. Padahal tidak ada gula di dalamnya, yang ada hanya sirkuit elektronik berarus listrik.

Disamping itu beberapa hari yang lalu berkumpul sekelompok semut dalam sepatu sebelah kiri ku, sementara di sepatu sebalah kanan tidak ada satu ekor semut pun yang bersemayam. Kejadian itu baru disardari setelah memasang kedua sepatu di kakiku. Lalu aku membuka kembali sepatu sebelah kiri dan menemukan sebagian dari semut telah tewas karena terinjak.

Beberapa minggu yang lalu sekumpulan semut ditemukan disela-sela rak bukuku. Sehingga memaksaku untuk membersihkan rak itu agar koloni semut tersebut tidak bersarang disana. Lagi-lagi aku temukan sebagian dari semut terkapar diantara himpitan buku. Tidak ada yang bisa mematikan satu makhluk pun selain atas kehendak Nya.

Dari semua pertemuan dengan semut belakangan ini semakin membuatku dapat belajar bahwa hidup ini sesungguhnya sangatlah indah. Namun, kadang kala aku saja yang membuatnya menjadi menakutkan. Semoga hikayat semut ini menjadi petunjuk bagiku untuk tetap selalu berzikir dan bersyukur atas nikmat Tuhan Yang Maha Esa.

Iklan

10 thoughts on “Hikayat Semut

  1. Subhanalllah….
    Baru saja tadi membaca di intisari online tentang semut jantan yang mati setelah membuahi semut betina.
    Sempat terpikir ingin mencari tahu tentang semut secara lengkapah dapat tambahan llmu disini πŸ™‚

    Suka

  2. Seperti buah simalakama sekarang, rumah kami biasa dikepung semut sehingga tak bisa ada makanan di meja makan, meja kamar, lemarai makan, oleh karena itu kami memasang kapur semut agar mereka tak masuk….

    Hiks hiks saya jadi bingung kan?

    Semut adalah lambang gotong royong, kerukunan dan kegigihan…
    Eh, suamiku blognya semutpelari.com dia punya philosophy sendiri tentang semut seperti halnya aku memiliki philosophy sendiri tentang Bintang.

    Salam πŸ™‚

    Suka

  3. banyak pelajaran ya dari semut, hanya manusia jarang ada yang tau…
    kalau saya suka melihat mereka jalan beriringan itu mas..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s