Ngepos via Hape

Lepaskanlah

Hai, kamu yang disana. Tidakkah kamu lihat kenapa bulan sabit merekah hingga jadi rembulan. Sangat indah, bukan. Rembulan itu sebagai pengingat bagimu bahwa tidak semua malam itu kelam.

Hai, kamu yang disana. Pernahkah kamu berdiri di bibir pantai kala senja datang menanti. Sangat indah, bukan. Rona sunset memerah terhampar di samudra nan luas. Itu sebuah pertanda bagimu untuk merelakan mentari pergi sejenak dari mu.

Hai, kamu yang disana. Apakah kamu pernah membakar sebatang lilin. Lilin itu lentera saat kegelapan tiba. Sangat indah, bukan. Dalam kegelapan kamu akan menemukan makna dari cahaya.

Hai, kamu yang disana. Aku masih berdiri disini. Memahami bahwa boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal ia baik bagimu. Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu.

Apa kamu suka rembulan, apakah kamu suka sunset, kamu suka cahaya lilin?

Meskipun kamu suka rembulan, kamu hanya sesekali melihat keindahnya. Tidak setiap hari, jika rembulan itu hadir tiap malam, mungkin kamu tidak akan bisa memetik hikmah dari malam kelam yang kamu hadapi. Sungguh buruk, bukan. Bila tiap malam kamu selalu melihat rembulan bersinar.

Terkadang seseorang datang padamu cuma sebentar. Hanya untuk memercikan sekilas cahaya, lalu kembali menghilang. Kedatangan yang sekejap itu membuatmu mengerti bahwa ia hadir bukan untuk selamanya, tapi sementara.

Meskipun kamu suka sunset. Kamu mesti menyadari sunset itu enggan sirna darimu. Mau apa lagi, waktu tak mampu dihentikan. Kamu mesti merelakan sunset yang indah itu tenggelam di ujung samudera. Sungguh buruk, bukan. Bila sunset itu terus menggantung di ujung langit dan menatap matamu.

Terkadang kamu harus merelakan, kapan perlu mengikhlaskan seseorang yang kamu cintai pergi darimu. Perginya seseorang yang kamu sukai itu mungkin kamu pikir sesuatu yang buruk, padahal kepergian itu baik bagimu.

Meskipun kamu suka cahaya lilin. Kamu mesti mengerti bahwa lilin itu suatu saat akan padam. Entah itu ditiup angin atau dirinya habis terbakar. Sungguh buruk, bukan. Jika lilin itu terus menyala, mungkin bukan hanya membakar dirinya, tapi juga akan bisa membakar dirimu.

Terkadang seseorang hadir dalam hidupmu untuk menguji apakah dirimu sanggup berkorban bagaikan sebatang lilin. Pengorbanan yang berat itu bukanlah berkorban untuk memiliki, melainkan berkorban untuk melepaskan.

Kenapa?

Karena sesuatu yang kamu sukai itu boleh jadi buruk bagimu. Maka lepaskalah. Bisa jadi sesuatu yang tidak kamu sukai itu baik bagimu. Maka lepaskanlah. Jika kamu terpaksa, ikhlaskanlah.

Iklan

3 thoughts on “Lepaskanlah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s