500-1000

Membongkar Rahasia Pacaran dan Menelanjangi Kedok Ta’aruf

Sumber : silahkan klik gambar

Akhirnya tergelitik juga saya menulis tentang ta’aruf dan pacaran. Padahal saya belum pernah melewati kedua fase itu. Jangan pernah berharap tulisan ini bersumber dari pengalaman, walau orang bijak berkata pengalaman adalah guru yang berharga. Tulisan ini murni “kudeta imajinasi” belaka. (yahh kena syndrom vickysasi pula…. hehe)

Dalam kamus Bahasa Indonesia online, pacaran berasal dari kata pacar yang berarti teman lawan jenis yg tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih. Selain itu pacar juga  berarti tumbuhan kecil yg daunnya biasa dipakai untuk pemerah kuku; batang inai; Lawsonia inermis. Nah lho, belum apa-apa sudah melintir kemana-mana.

Oke sekarang mari kita tengok arti ta’aruf. Secara bahasa ta’aruf berasal dari akar kata ta’aarafa yang berarti “berkenalan” atau “saling mengenal“. Jika ditarik dalam bahasa Indonesia “berkenalan” berasal dari kata “kenal” yang berarti bersalaman dsb agar (saling) mengenal, bergaul atau bersahabat (dengan) tetangga;”

Menurut hemat saya lebih bijak jika kita membandingkan antara jeruk dengan jeruk. Jangan pernah membandingkan antara jeruk dengan apel. Apalagi membandingkan antara arab dengan indonesia. Alangkah lebih indah membandingkan antara indonesia dengan indonesia, arab dengan arab. Pertandingan sepakbola antara arab dan indonesia saja tidak seimbang, apalagi membandingkan bahasanya… hehehe.

Bila kita tarik secara terminologi pacaran dan ta’aruf (berkenalan) kedalam Bahasa Indonesia, tampak sekali perbedaanya. Sejatinya pacaran itu pake cinta-cinta segala. Sedangkan ta’aruf tidak, cuma berkenalan saja, kalau udah muncul tuh cinta maka halalkan dengan segera, itulah ta’aruf. Bedanya ama pacaran ala remaja, cinta udah segunung tapi gak pernah halal-halal eh tau-tau cuma cinta monyet. Padahal secara bahasa pacaran itu teman lawan jenis yg tetap dan hubungan berdasarkan cinta kasih.

Sekuat apapun dalil kalian, teman lawan jenis yang kalian anggap pacar itu bukanlah pacar kalian, mereka itu masih berstatus “calon pacar” atau bisa jadi “mantan pacar” orang lain yang kalian anggap pacar. Ketika kalian menikahi “mantan pacar” itu, barulah disebut kalian berpacaran. Sungguh indah, bukan?

*****

Sampai kapan pun orang-orang akan terus berdebat soal pacaran dan ta’aruf. Masing-masing mempunyai argumen sendiri-sendiri, celakanya malah sama-sama merasa benar sendiri. Jauh sebelum kita ada, persoalan pacaran dan ta’aruf ini sudah ada. Bahkan sampai kita tiada lagi di bumi ini, persoalan tersebut akan selalu ada.

Ingatkah kita dengan firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 14 “Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada aneka syahwat, yaitu wanita-wanita (laki-laki), anak lelaki, harta yang tidak terbilang lagi berlipat ganda dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. itulah kesenangan hidup di dunia dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik

Islam tidak pernah melarang manusia menyalurkan syahwat yang mereka punya. Selama syahwat itu disalurkan sesuai dengan perintah Nya. Perihal syahwat terkait dengan hubungan wanita-wanita dengan laki-laki disalurkan lewat ikatan suci pernikahan. Syahwat terkait anak-anak disalurkan dengan mendidik mereka menjadi anak sholeh. Syahwat terkait harta disalurkan melalui zakat dan sedekah. Sebab aneka syahwat itu adalah kesenangan hidup di dunia, maka jadikanlah itu sebagai jembatan untuk menuju tempat di akhirat yang indah, yaitu surga. Di surga sana manusia tidak akan lagi mengenal syahwat.

Nah, persoalannya di dunia ini manusia mempunyai pilihan. Mau dibawa kemana syahwat mereka? Keindahan syahwat itu hanya bisa kita nikmati di dunia ini, di akhirat sana tidak ada lagi, entah itu di neraka ataupun di surga. Disinilah setan mulai berperan untuk mencari pengikut-pengikut untuk menemani mereka di neraka. Setan akan memperindah aneka syahwat itu dengan cara mereka sendiri.

Salah satunya adalah mengaburkan keindahan syahwat dengan konsep pacaran ala remaja sekarang yang bisa jadi mengarah pada perbuatan zina. Jangankan pacaran sebelum nikah, mereka yang berpacaran setelah menikah saja masih berkemungkinan tergelincir bujuk rayu setan. Contohnya seperti menceritakan persoalan ranjang pada orang lain, bukankah Allah telah mewanti-wanti hal demikian. Apalagi bagi kalian yang berpacaran sebelum menikah, bukan hanya tergelincir lagi tapi bisa jatuh dalam jurang kesesatan.

Jikalau saya boleh berargumen, pacaran sebelum nikah itu tidak dilarang. Hal itu adalah pilihan kita mau dibawa kemana syahwat yang telah dianugrahkan Tuhan kepada kita di dunia ini. Jika kita mau dibawa ke sisi Nya, maka menikah dulu baru pacaran. Jikalau kita mau membawanya berdasarkan bujuk rayu setan, maka pacaran dulu baru menikah. Sehebat apapun pembenaran yang kita kemukakan, cara kedua ini akan membuat pintu neraka semakin melebar untuk dimasuki.

Untuk itu, lebih tepatnya pacaran sebelum menikah itu lebih baik dihindari. Menghindarinya dengan barsabar, bukankah dalam Al Quran kata sabar itu lebih dahulu dari pada kata shalat. Bersabar dengan menahan segala gejolak nafsu sembari memperbaiki diri. Jika sudah siap, mulailah berta’aruf (berkenalan), apabila ada getaran di hati maka nikahi, setelah itu silahkan berpacaran. Siapa yang sabar dialah yang beruntung. Kalau mau rugi, ya silahkan pacaran sebelum nikah.

Iklan

14 thoughts on “Membongkar Rahasia Pacaran dan Menelanjangi Kedok Ta’aruf

  1. Ada perbedaan antara cinta dan suka / nafsu, cinta adalah nafsu yg disertai akal yg tumbuh setelah mereka bersatu. Pacaran itu hanya akan menimbulkan rasa suka saja dan nafsu untuk memilikinya. Sedangkan proses ta’aruf adalah perkenalan yg langsung diiringi fisi dan misi masing masing dan apabila sudah terjadi kesepakatan maka menikahlah mereka dan barulah akan tumbuh cinta yg bertanggung jawab.

    Suka

  2. hamdalah, saat ini kami sudah memasuki fase pacaran.

    dulu waktu masih kerja (belum menikah) ada seorang teman yang mengajak taaruf, dengan spontan saya jawab iya, tapi rupanya saya salah tangkap, maksud taaruf dia adalah untuk menikah, sedangkan yang saya pahami taaruf untuk sekedar berkenalan dan menjadi teman…maklum, waktu itu baru awal kerja. akhirnya, dengan halus saya tolak tawaran itu.

    semoga remaja muslim betul-betul memahami arti kedua istilah tersebut, menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang…kalau ngebet, ya nikah saja, kalau belum mampu, ya berpuasa…

    Suka

    1. Kalau mau menikah itu ya harus kenal dulu orangnya. Jangan tidak kenal orangnya dulu, lalu langsung dinikahi. Siapa tahu ternyata si calon yang mau dinikahi itu banyak hutang, banyak sifilis, kan repot kalau baru ketahuan sesudah dinikahi. Gunanya pacaran itu ya untuk mengenal si calon itu, bukan untuk disalahgunakan sebagai ajang penyaluran syahwat.

      Suka

  3. setelah menikah baru saya ngerasa nyesel kenapa dulu pakai pacaran segala, 3 tahun lagi! waktu yang lumayan lama, padahal kalau menikah duluan dari dulu pasti sudah punya banyak anak, lebih awal punya tabungan, rumah, dll…intinya memang menikah tu penuh barokah.

    Suka

  4. yang saya lihat di luaran sih malah banyak yang mengatasnamakan hubungan mereka dengan ta’aruf padahal ya itu tadi pacaran
    saya pribadi tidak pernah berta’aruf tapi kalau pacaran sudah pernah 😀

    Suka

  5. Yang komen pacaran sebagai pengenalan sebelum menikah mungkin lupa bahwa banyak kasus orang2 yang kagetan setelah menikah melihat sifat asli pasangannya. Lalu selama pacaran ngapain? Main petak umpet? Jadi buat apa buang-buang waktu tuk pacaran?

    Suka

  6. setuju sama ajo 😀 kadang di pacaran ada yang bikin sakit, diselingkuhin lah, php-in lah, friendzone-in lah.. coba kalo ta’aruf, niat uda jelas karena Allah, segala yang datang di kehidupan pernikahan ta’aruf pasti lebih halal.. terkadang pacaran lebih nyakitin, dan udah disakitin terus di putusin haduuhh..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s