250-500

Siapa Dia

Sumber gambar : tabloidbintang.com

Masih ingatkan dengan kuis siapa dia yang tayang di TVRI pada tahun 1992-1998. Kuis karya Ani Sumadi merupakan kuis populer kala itu. Belakangan kuis ini kembali tayang di TVRI pada bulan Maret 2013 sampai Agustus 2013 dengan pembawa acara Denny Chandra.

Kawan-kawan generasi 90an kebawah tentu ingat dengan kuis ini, generasi sesudahnya mungkin banyak yang belum menonton kuis siapa dia, kecuali pernah putar chanel TVRI pada penayangan kembali versi terbaru.

Sejujurnya saya pun sudah samar dengan kuis ini. Namun, sejauh ingatan kuis ini menebak seseorang yang berada di balik layar dengan panduan pertanyaan terbatas dari para peserta. Pertanyaan yang selalu melekat di pikiran penoton adalah “siapa dia”. Apa yang dapat kita petik dari kuis jadul ini?

Pelajaran yang dapat dipetik dari kuis siapa dia adalah kita dapat mengenal seseorang dari nilai-nilai yang terkandung pada orang tersebut tanpa melihat sosoknya. Dengan menutup mata kita bisa mengetahui “siapa dia” dengan mendengarkan apa yang diceritakannya. Mengidentifikasi sifat, karakter dan kepiribadiannya. Permasalahan bukan “siapa dia” tapi “apa” yang yang melekat pada sifat dan karakter dirinya.

Mari kita tengok bagaimana Muhammad SAW memilih istri yang dinikahinya, alasan utamanya bukan “siapa dia” melainkan “apa” nilai-nilai dan konteks yang terjadi pada wanita yang beliau nikahi. “… Maka nikahi (apa) yang kamu senangi…” (QS an Nisa [4] : 3). Hal itu menunjukan “apa” bukan “siapa” yang kamu senangi.

Jika kita bertanya dengan kata “siapa” maka akan tertuju pada sosok, akan tetapi jika bertanya dengan kata “apa” maka lebih ditekankan kepada sifat dari sosok tersebut.

Di lain hal, mungkin kita pernah menilai sesuatu dari kulit luar saja. Pernahkah kita memilih durian di pasar? orang yang memilih durian tentu akan menggunakan indra hidung untuk mencium apakah durian itu bagus atau tidak. Kulit durian dari luar tampak baik-baik saja dan baunya pun harum, namun bisakah kita menjamin durian itu legit dan lezat. Belum tentu, bisa jadi durian yang tampak bagus di luar tapi busuk di dalamnya.

Otak sering menyimpulkan sesuatu dari indra. Seperti memilih buah durian dengan melihat kulitnya saja. Padahal bisa menanyakan kepada si penjual, jenis duriannya, harganya dan asal-usul durian tersebut apakah jatuh setelah matang atau durian itu diendapkan saat masih belum matang.

Untuk lebih mudah, ambil segelas air lalu masukan pensil. Coba lihat dengan indra dari luar gelas, akan tarlihat pensil itu patah. Padahal sejatinya pensil tersebut tidak patah. Bila berpikir sejenak “apa” sifat yang melekat pada air dan gelas itu, maka kita akan mengetahui bahwa sesungguhnya pensil itu tidak pernah patah seperti halnya terlihat oleh panca indra. Oleh karena itu, paling penting itu bukanlah “siapa” melainkan “apa”.

Iklan

11 thoughts on “Siapa Dia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s