250-500

Menilai Orang

Sumber gambar : Fanpage Rumi

Tak terasa jam terus berputar hingga larut malam. Sulit untuk menghentikan percakapan. Maklum bertemu teman lama itu susah buat berhenti ngobrol, sebab ada saja yang akan dibicarakan.

Ternyata waktu juga yang membuat mulut kami diam. Hari telah menunjukan angka 11. Sudah cukup larut untuk ngobrol, sementara mata udah terkantuk-kantuk. Apalagi yang dibicarakan adalah tema-tema yang menarik.

Namun, dalam catatan kali ini bukan tema menarik itu yang akan disibak. Tapi bagaimana respon seorang kawan lama terhadap orang baru yang kita kenal dalam pembicaraan semalam.

Kebetulan dalam reuni kami itu, ada seorang teman yang sama-sama baru pertama kali kami kenal. Ia kawan dari salah satu sahabat lama kami. Dalam obrolan semalam, memang teman baru inilah yang banyak ngoceh. Maklum ia orang lapang dan pernah menjadi wartawan investigasi.

Sekarang ia sedang merintis usaha. Ceritanya ngorol ngidul kesana kemari. Sekali-kali terselip canda yang bikin kami semuanya tertawa. Terkadang ia berbagi pengalamannya sebagai wartawan, kadang ia bercerita suka duka dalam merintis usaha.

Celakanya salah satu teman lama ku langsung menilai sosok orang yang baru ia kenal itu sebagai seorang pembual. Jikalau ditarik pada angka, teman aku itu kasih nilai pada orang yang baru kenal itu dengan angka 50:50. Separuh omongannya bisa jadi benar, dan separuhnya lagi hanya omong kosong.

Inilah membuat aku tergerak untuk menulis catatan ini. Entah kenapa manusia itu terlalu mudah menilai orang sekejap kilat. Ibarat pepatah kesan pertama begitu menggoda. Lima detik pertama itu seseorang bisa menilai orang lain. Subjektif memang, tapi secepat itukah menilai seseorang.

Parahnya lagi banyak yang langsung menilai sesuatu itu secara hitam putih, baik jahat, bagus buruk, cantik jelek dan sebagainya. Menjadi lebih riskan lagi ketika yang dinilai itu bukan pada nilai-nilai kebenaran yang terkandung pada sesorang, tapi lebih menilai pada sosok orangnya.

Makanya aku lebih memegang pada prinsip bahwa dengarlah apapun yang dikatakan orang lain, tapi jangan semuanya kamu percayai. Disamping itu, jangan pernah menilai seseorang itu dari sosoknya, tapi ambilah nilai-nilai kebenaran yang terkandung dari ucapannya. Bukankah kita dapat memetik nilai kebenaran dari seseorang yang gila.

Iklan

7 thoughts on “Menilai Orang

  1. Setuju mas. Manalah bisa kita tau bagaimana sesungguhnya seseorang itu hanya dalam 5 detik. Ada juga pernah saya baca, katanya: kepribadian seseorang sejatinya bisa diketahui dari bagaimana caranya/sikapnya ketika mempunyai masalah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s