500-1000

Kitab Sehat

Pagi-pagi buta aku melangkah keluar rumah untuk menemukan kitab sehat yang konon tersembunyi di sebuah tempat. Tidak ada satupun yang tahu dimana kitab sehat itu berada. Sedikitpun aku tak punya petunjuk apa-apa, selain berjalan, berjalan dan berjalan mencari.

Sudah beribu-ribu langkah kaki yang aku ayunkan. Semua perpustakaan di seantro negeri ini telah dikunjungi, tak ada satu perpustakaan pun yang luput dari pencarianku. Kitab sehat itu cuma satu, tidak ada salinannya.

Berbagai tempat sudah aku jajaki. Sekecil apapun informasi selalu ditindaklanjuti dengan terus mencari dan mencari. Langkah ku kian lama kian lunglai. Aku tak menemukannya.

Dipersimpangan jalan aku hampir menyerah, letih dan sangat lelah sekali. Aku duduk di bawah sebatang pohon rindang yang berdiri tegar di depan rumah sakit. Pikiran bingung bercampur putus asa, bahkan nyaris merenggut keimananku.

Disana aku bertemu dengan seorang dokter yang telah 25 tahun bekerja di rumah sakit itu. Dengan tergagap-gagap aku bertanya “berapa kali dokter masuk rumah sakit?“. Dokter itu kesal dan tak menjawab satupun pertanyaan. Aku diam, lalu mencoba merenungkan apa yang salah dengan pertanyaanku. Selidik punya selidik, ternyata dokter itu salah persepsi dengan partanyaan ku. Sejurus kemudian aku ubah pertanyaan menjadi “berapa kali dokter masuk rumah sakit karena dokter sendiri yang mengalami sakit?”

Aku tak pernah sakit. Sekalipun aku tak pernah di rawat inap. Biasanya aku masuk ruangan rawat inap, selaku dokter yang mengobati pasien.” Jawab dokter itu.

Katanya dokter itu adalah dokter yang paling baik di rumah sakit tersebut. Shalat beliau tidak pernah tinggal, selalu di awal waktu. Dokter itu juga ramah pada pasiennya. Pernah suatu ketika ada pasien yang bukan hanya ia tolong mengobati, tapi ia tolong membayarkan biaya rumah sakitnya. Amal beliau tidak terhitung lagi, sampai-sampai biaya sekolah anak seorang cleaning service di rumah sakit tersebut dibantu oleh dokter itu.

Dokter itu bukan sekedar baik, ia juga seorang juru dakwah yang handal. Ia berdakwah dengan argumentasi-argumentasi rasional dan sentuhan emosional. Aku pernah mendengar tausiyah beliau ba’da shalat zuhur. Sungguh luar biasa, hatiku langsung bergetar.

*****

Esok, aku mampir shalat zuhur di mesjid sebelah rumah sakit tempat aku kemaren mendengar tausyiah dari seorang dokter yang belum pernah aku jumpai sebelumnya. Terdengar kabar bahwa dokter yang baik itu telah meninggal dunia dalam keadaan sujud kepada Allah Swt. Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah sempurna usia dokter itu persis di hari ulang tahunnya yang ke 53.

An example of Allāh written in simple Arabic c...
An example of Allāh written in simple Arabic calligraphy. (Photo credit: Wikipedia)

Pada hari kiamat dokter itu dihadapkan pada Allah dalam keadaan bersujud. Allah lalu berfirman”masukan hamba Ku ini ke surga karena rahmat Ku” Dokter itu membantah “Ya Tuhanku, aku masuk surga karena amalku“. Allah kemudian memerintahkan para malaikat “Timbanglah, lebih berat mana nikmat yang Aku berikan kepadanya daripada amal perbuatanya” Hasilnya, nikmat sehat yang diberikan pada dokter itu lebih berat daripada ibadahnya selama 53 tahun. Allah berfirman “masukan hamba Ku itu ke neraka

Dokter itu diseret menuju neraka. Dokter itu berkata “Ya Allah, masukanlah aku ke surga karena rahmat Mu“. Lalu kemudian Allah berfirman “keluarkan dia (dari neraka) dan bahwa kehadapan Ku“. Lalu Allah bertanya pada dokter itu perihal nikmat yang selama ini diberikan kepadanya. Nikmat sehat, nikmat kepintaran dan kecerdasan dan nikmat lain yang melekat pada dokter itu, sampai pada nikmat meninggal dalam keadaan sujud pada Nya. Itu semua adalah rahmat dari Allah. Allah berfirman “itu semua berkat rahmat Ku dengan rahmat Ku juga aku memasukanmu ke surga”. Akhirnya dokter itu masuk ke surga.

Jibril melanjutkan “wahai Muhammad sesungguhnya segala sesuatu terjadi berkat rahmat Allah

*****

Di pintu mesjid, aku mengikat tali sepatuku dengan kencang. Tiba-tiba seorang nenek menghampiri sembari menawarkan getuk yang terbuat dari ubi. Padahal sama sekali aku tak suka ubi. Nenek itu tak menyerah membujuk ku membeli barang dagangannya. Dengan terpaksa aku membelinya, saat membayar aku melihat semua jari tangan nenek itu telah putus.

Aku terenyuh ketika nenek tua itu menepuk pundakku dengan tangan tak berjari tersebut. Ia begitu bahagia menerima uang kembalian Rp 500 yang tak mau aku ambil. Saat itu aku tersentak, nenek yang tidak memiliki tubuh yang lengkap tersebut masih bisa tersenyum bahagia dengan kehidupan.

Kenapa aku yang masih diberikan tubuh yang lengkap dan nikmat sehat ini masih bergelut dengan kesedihan. Boleh jadi aku belum mensyukuri apa yang ku miliki dan terlalu sibuk memikirkan apa yang tidak dimiliki. Padahal banyak sekali nikmat yang telah diberikan Tuhan padaku yang tak tampak dari pandangan mata.

Pencarianku selama ini berlabuh juga. Kitab sehat yang selama ini aku cari ternyata ada dalam rasa syukur ku. Nikmat manalagi yang aku dustakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s