250-500

Blog Itu Seperti Tempat Pemakaman

Siapa yang pernah ngeblog pernah merasakan dimana titik jenuh datang menghampiri. Bahkan tidak ada satu postingan yang terbit karena berbagai alasan. Biasanya alasan yang sering aku dengar adalah sibuk dan mentok pada tataran ide.

Aku pikir itu masih wajar, selama tidak barlarut-larut dalam semangat yang kian mengendor. Bedanya mungkin sebagian kita menyerah, sedangkan sebagian lainnya tetap melawan rasa malas untuk menulis.

Sebuah pilihan memang, seperti aku memilih untuk berpindah dari blog gratisan ke blog berbasis dotcom. Butuh perjuangan yang berat untuk bermigrasi blog karena buat bisa punya blog berbasis dotcom itu harus rela menggelontorkan uang. Sementara untuk punya blog dotcom gak bisa bayar pake uang cash, kudu punya uang elektronik semacam kartu kredit gitu. Jadi, harus nyari dan ngemis dulu ama temen yang punya kartu kredit supaya bisa beli blog dotcom. Sehingga akhirnya bisa launching rumah baru bernama garammanis.com.

Nah, ketika persoalan teknis ngeblog sudah teratasi, barulah muncul persoalan subtansi. Subtansi dari sebuah blog itu adalah menulis. Tanpa menulis, blog bagaikan kuburan yang tidak ada mayatnya. Kuburan itu harus ada berpenghuni agar ada keluarga yang berziarah. Begitupun blog, harus ada postingan agar ada yang mengunjungi. Lihat di tempat pemakaman umum yang banyak kuburannya tentu lebih banyak pengunjung dari pada tempat pemakaman yang cuma ada satu kuburan. Kecuali, kuburan orang-orang yang terkenal ya.

Tidak sedikit memang alasan sebagian orang itu menulis untuk bisa terkenal. Setiap orang punya alasan untuk menulis. Setelah terkenal, apa yang kita dapatkan?. Tidak ada, selain ruang hampa. Sedari awal aku ingin sekali menggapai bahagia lewat menulis.  Namun, aku tak kunjung menemukan kebahagian itu karena aku tersesat karena tujuan ku sendiri.

Belakangan aku mulai menata hati dan tujuanku. Merombak paradigma sehingga aku menemukan alasan kenapa harus menulis setiap hari. Ternyata menulis itu menyenangakan dan butuh kedisiplinan.

Untuk bisa menegakan disiplin tersebut butuh kerja keras, motivasi kuat, konsistensi dan strategi yang memumpuni untuk menyiasati waktu. Strategi tersebut adalah satu hari, satu tulisan.

Cerita ini diikutsertakan dalam 2nd Give Away Ikakoentjoro’s Blog

Iklan

15 thoughts on “Blog Itu Seperti Tempat Pemakaman

  1. alasan yang sering aku dengar adalah sibuk dan mentok pada tataran ide.

    menurut saya … yang menyebabkan ini adalah … adanya kegiatan lain yang lebih penting … dan/atau lebih urgent dan/atau … lebih menarik

    Salam saya Jo

    Suka

    1. iya juga ya om NH… karena ada yang lebih menarik atau lebih penting… tapi menulis tetap aja lebih menarik lagi, mungkin cuma waktunya aja yang gak tepat sebab ada selingkuhan yang lain… hehehehe

      Suka

  2. Ping-balik: 2nd Give Away Closed
  3. I must thank you for the efforts you’ve put in writing this blog.
    I am hoping to view the same high-grade content from you
    in the future as well. In truth, your creative writing abilities has inspired
    me to get my very own website now 😉

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s