250-500

Jangan Menikahi Polisi

SP_A0584Tersungging senyum kala memabaca artikel di koran Republika tadi sore. Artikel yang berjudul “Jangan Menikahi Polisi”. Karena keterbatasan ingatan, aku lupa siapa penulisnya. Artikel ini berada pada kolom sudut pandang. Itulah hal yang pasti, tapi pastinya aku tak tahu persis apakah koran yang saya baca tadi adalah koran hari ini atau koran kemaren. Sebab lupa nengok tanggalnya.

Ndak masalah, yang penting cukup menyegarkan otak hari ini dari artikel tersebut. Sebuah artikel mengalir yang berkisah tentang percakapan ayah dan anak yang berkeinginan menikah dengan seorang polisi.

Sang anak berkehendak hati menikah dengan polisi. Lantas ayahnya menolak karena ia mendengar bahwa polisi itu penuh dengan skandal suap.

Tidak menyerah sampai disitu, si anak berdalih tidak semua polisi terima suap. Itu hanyalah segelintir oknum. Si ayah tak bisa menerima begitu saja, sebab kenyataan berkata bahwa teori oknum sepertinya tidak berlaku bagi polisi.

Kalaupun si anak memaksakan menikah dengan polisi. Hanya tiga polisi yang boleh dinikahi anaknya.

Pertama, patung polisi yang tidak bisa di suap. Tapi maukah sang anak menikah dengan patung?

Kedua, polisi tidur yang tak mempan disuap. Namun maukah si anak menikah dengan polisi Tidur?

Ketiga, jenderal Hoegeng yang tak mau disuap. Sayang sang jendaral sudah meninggal, emang si anak mau menikah dengan orang meninggal.!

Setelah dipikir-pikir kocak juga nih bapak membendung kemauan anaknya menikah dengan polisi.

Tarkait hal ini, aku teringat dengan kisah asmara salah seorang rekan satu tim di kantor tempat bekerja. Rekan ku itu berkisah jalinan asmaranya dengan seorang polisi yang tidak disetujui kakaknya. Malah kakak dari rekan kerja ku itu berprofesi sebagai polisi.

Meskipun polisi, ia tidak ingin adik perempuannya menikah dengan seorang polisi. Dari sepuluh polisi yang ia kenal, jangankan satu orang, setengah orang pun tidak ada yang baik.

Jika demikian, salahkan orang luar memandang sosok polisi. Sementara polisi sendiri berpendapat tak ubahnya seperti penilain masyarakat terhadap polisi.

Nah, bagaimana dengan fenomena polisi ganteng dan polwan cantik. Bolehkah dinikahi?

Akankah si ayah tetap bersikeras pada pendapatnya tentang tiga polisi yang boleh dinikahi. Bisa jadi si ayah tetap bersikukuh, sebab patung polisi lebih memikat dari polwan cantik dan polisi tidur lebih gagah daripada polisi ganteng.

Iklan

11 thoughts on “Jangan Menikahi Polisi

  1. Hahahaa …
    Tulisan Ajo ini kocak … namun sejatinya penuh perenungan
    benarkan tidak ada polisi yang baik … (mmm lebih tepatnya polisi yang tidak bisa di suap ?)

    Manusia sempurna … saya rasa tidak ada … demikian juga dengan Polisi …

    Namun Polisi yang tidak bisa di suap … yang menganut aliran Hoegengisme … saya rasa ada … (walaupun saya belum bisa membuktikannya …

    Salam saya Jo …

    Suka

  2. wah! mas. aku mau dong kalo seandainya postingan kali ini ditambahi cerita polisi kerik dan polisi serpicko. saya sendiri kurang ingat berkenaan dengan kedua polisi itu. tapi nggak semua polisi berperangai buruk, ada juga kok yang baik. 🙂 wassalam

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s