250-500

Rasa Suka

Wanda pernah bertanya pada Roni. “Apakah perempuan itu suka padamu, Ron?”. Lidah Roni kelu dan bibirnya memucat. Roni tak tahu harus menjawab apa. Ia sama sekali belum pernah mengungkapkan perasaan kepada perempuan.

Roni tak tahu apakah Farah suka padanya. Roni begitu takut hatinya terluka, sebab selama ini ia tak pernah bermain dengan hati. Ia bukan tipe yang biasa mengumbar perasaan kepada wanita lain.

Pertanyaan Wanda itu membuat Roni tersentak dan merenung sejenak. Roni berpikir apakah rasa suka yang membuka pintu cinta. Sedetik kemudian ia tersentak akibat panggilan dari si bos yang notabane kakak dari Wanda.

Apa yang kau pikirkan, Ron? Akhir-akhir ini aku sering kali melihat kamu merenung? Tanya si bos.

Roni menghela nafas dan coba mengelak pertanyaan bos Herman. “Gak ada apa-apa kok bos, cuma lelah aja” sahut Roni.

“Kalau kamu lelah Ron, mending ambil cuti saja!”

“Baik bos akan saya pertimbangkan” Jawab Roni.

Roni tak mau berbagi cerita pada bosnya. Sebab Herman juga suka pada Farah. Perempuan yang sama-sama mereka suka. Namun, Wanda sebagai adik tak setuju abangnya dengan Farah. Perempuan itu sudah pernah menolak kakaknya. Tapi sang kakak tetap saja getol ngejar Farah.

Wanda lebih memilih Roni yang mendapatkan Farah. Wanda tahu siapa Roni, mereka berdua sudah berteman sejak taman kanak-kanak. Roni sudah dianggap oleh Wanda sebagai kakak kandung sendiri.

Namun, Roni merasa dirinya tak sebaik bayangan Wanda. “Aku bukanlah laki-laki yang sempurna, Wan.” bisik Roni.

“Perempuan itu tidak membutuhkan laki-laki sempurna, tapi ia membutuhkan laki-laki yang dapat membahagiakan diri mereka sehingga merasa menjadi wanita yang sempurna” sahut Wanda kemudian.

“Bagaimana mungkin aku dapat membahagiakan Farah, sementara diriku belum mapan” keluh Roni. Sejurus kemudian Roni bicara lagi “Abang mu saja yang sudah mapan ditolak olehnya. Apalagi aku yang hanya karyawan biasa”

“Apakah kamu menikah menunggu mapan dulu? Kalau begitu bisa-bisa kamu gak akan menikah!. Ukuran mapan itu realitif, Ron. Coba kamu tengok si Radi teman satu SMP kita dulu. Sekarang ia bahagia hidup bersama istri dan putri kecilnya, walaupun hidup mereka sederhana” kata Wanda dengan suara berapi-api.

“Aku tahu, wanda. Banyak teman-teman sekolah kita yang sudah menikah memberikan nasehat seperti itu. Tapi yang aku takutkan bukan itu. Aku takut ditolak, jika aku berterus terang pada Farah tentang perasaanku.” Kata si Roni

“Buanglah rasa takut mu, Roni. Kamu akan menyesal jika tak mengungkapkan perasaan mu itu. Kalaupun kamu ditolak, percayalah bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk mu”

“Kenapa aku lebih memilih kamu bersama Farah dari pada sama Herman abang ku sendiri? Aku tau Ron. Farah itu wanita baik. Ia serasi sekali dengan mu dibandingkan dengan abangku.”

“Roni, sekarang aku bertanya padamu. Apakah kamu mencintai Farah?” Tanya Wanda dengan serius.

“Aku mencintai Farah, tapi rasa cintaku padanya tidak akan melebihi rasa cintaku pada Allah” jawab Roni.

Ternyata dibalik pintu Herman menguping percakapan mereka. Mendengar jawaban Roni itu Herman naik pitam.

“Mulai hari ini kamu saya pecat” seru Herman dengan penuh amarah pada Roni.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s