0-250

Ulah si Fauzi

Barusan teringat dengan ulah keponakan ku tadi siang. Lucu dan penuh dengan pembelajaran.

Ketika aku tengah asyik membaca, keponakan bernama Fauzi memanggil ku dibalik pintu. Sambil berteriak menawarkan sebatang coklat.

Sebetulnya aku tak mau coklat tersebut. Namun, karena bunda nyuruh anak-anaknya ngasih coklat ke aku. Maka hanya Fauzi yang berinisiatif ngasih ke aku. Abang-abang fauzi gak mau ngasih, tau sendirilah namanya anak-anak enggan ngasih yang mereka suka.

Karena pintu digedor-gedor dan fauzi teriak terus, akupun keluar dan nengok anak-anak itu lagi asyik makan coklat masing-masing.

Si Fauzi yang tadi nawarin coklat padaku mulai gamang melihatku. Ia ragu apakah coklat itu diberikan padaku atau tidak. Tampak berat sekali ia melepaskan apa yang disukainya.

Melihat mimik wajah si fauzi ini, aku mulai menggoda dan meminta coklat yang mau diberikan untuk ku itu. Ehh, setelah diminta ia gak mau ngasih. Kalaupun itu diberikan padaku, ia tak dapat apa-apa.

Aku tak menyerah, aku menggoda lagi agar coklat itu untuk ku. Usaha ku tak sia-sia, bocah kecil itu mau memberikan coklat yang ia punya kepada ku.

Beberapa detik kemudian tangisnya membuncah karena ia tak mendapatkan apa-apa, sementara abang-abangnya tengah menikmati sebatang coklat.

Setidaknya ini menunjukan bahwa anak sekecil itu rela melepaskan apa yang ia cintai, walau hanya sesaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s